Destination

Destination
13 Hati


__ADS_3

Aku mencintaimu dalam diam


Menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku


Ribuan purnama aku memendam rasa ini


Kamu, hadir dalam setiap mimpi dan doaku


Menjadikanmu milikku


Aku mengagumimu


Tunggu aku


Ku pastikan kita akan bersama


Selamanya


(seseorang)


...🌼🌼🌼


...


Seorang pria menghela nafas berkali-kali. Akhir-akhir ini dia benar-benar merasa sangat lelah. Dia duduk di kursi kebesarannya. Sesekali dia memijatnya keningnya.


RINDU


Itulah yang dia rasakan saat ini. Dia memegang dadanya, dan tanpa izin sang pemilik, air mata mengalir di pipinya. Dirinya terlihat rapuh.


“Aku rindu!” ucapnya berkali-kali.


(seseorang yang lain)


...🌼🌼🌼


...


Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu


Namun aku takut


Takut kau akan menjauh dan bertanya.


Kenapa?


Sejak kapan?


Aku tidak tahu kenapa


Namun yang kutahu bahwa aku ingin selalu bersamamu dan menjagamu selamanya


Sejak pertama aku mengenalmu ... dan itu sudah sangat lama


...🌼🌼🌼


...

__ADS_1


Beberapa orang tidur dengar gelisah. Gelisah di hati, gelisah di pikiran. Siapa yang harus disalahkan untuk semua ini? Pria wanita, muda tua, kaya miskin ... semua pernah merasakan gelisah. Tanpa sadar mereka ada di lingkaran yang sama, yang akan saling menghubungkan. Lalu bagaimana jadinya?


TAKDIR


Tidak dapat dihindari. Akan menghampiri mereka. Entah itu kapan. Namun kenyataan itu akan datang. Perlahan namun pasti.


...🌼🌼🌼


...


Perlahan mata Rara terbuka. Dia menggeliat pelan, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dia menguap beberapa kali, masih mengantuk.


Dengan mata yang masih menyipit, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Rara sudah terlihat segar. Sekarang hari Minggu, dia bisa berleha-leha di apartemennya. Dia mulai memasak. Masih ada bahan-bahan makanan yang dibawa oleh Revan waktu itu. Seperti ikan asin, terasi, keripik jengkol, emping dan jenis kerupuk yang lain. Rara tersenyum saat mengingat waktu itu. Saat masih menggoreng ikan asin, bel apartemennya berbunyi.


“Siapa sih, pagi-pagi gini sudah datang!” Rara segera membuka pintu. Dua orang pria berwajah tampan berdiri di hadapannya. Mereka menggunakan pakaian olah raga.


“Numpang sarapan ya, Ra!” Bryan berucap sambil cengengesan yang dipaksakan.


Sedangkan yang satunya lagi? Seperti mengendus-ngendus sesuatu.


“Kamu goreng ikan asin?”


Lah, dia tahu ikan asin?


Rara tersenyum mendengar pertannya Alvin. Setelah mempersilahkan dua orang yang tidak diundang itu masuk, dia langsung menuju dapur.


Oke, menu sederhana menghiasi meja.


Ikan asin


Kerupuk jengkol


Lalapan


Nasi kuning


“Ayo makan!”


Dua pria tampan itu segera duduk di hadapan Rara.


Alvin mengernyitkan keningnya.


Pasti enggak doyan!


“Sudah lama tidak makan ini!” Wajah Alvin menunjukkan senyuman.


“Anda pernah makan ini?”


“Pernah dong. Saya juga suka.”


Mereka bertiga mulai makan. Alvin dan Bryan makan dengan lahap. Bahkan mereka nambah. Rara sebenarnya merasa heran dan ingin ketawa.


“Kapan-kapan kamu masakin ini lagi ya. Saya suka masakan Indonesia!”


Kenapa enggak ke restoran Indonesia saja?

__ADS_1


Rara membuatkan teh hangat untuk Alvin dan Bryan. Setelah teh mereka habis, mereka pulang.


Cuma numpang makan doang? Kenapa tidak saat Revan memasakannya jengkol waktu itu. Biar mereka makan jengkol dan pete.


Rara tidak dapat lagi menahan tawanya.


...🌼🌼🌼


...


Siang ini Rara sibuk video call dengan mama dan sahabatnya. Menceritakan dua atasannya yang ajaib itu. Mereka tertawa mendengar cerita Rara.


“Ada lagi enggak Ra, bule yang seperti itu. Aku mauuuu!” ucap Karina menggebu-gebu.


“Enggak tahu lah, Kar!”


“Kenalin aku dong, Ra!”


“Kesini dong!”


“Maunya sih gitu, tapi sibuk.”


“Hahaha ... lagian di Jakarta juga banyak bule, kan. Kamu cari saja di Jakarta.”


“Mau yang original!”


“Memangnya di sana imitasi?”


“Hahaha ... ya sudah Ra. Salam buat bule-bule ganteng di sana!”


“Oke, bye!”


...🌼🌼🌼


...


Memandang langit malam itu menenangkan


Menatap bintang-bintang


Dan melihat bulan yang terpampang dengan indahnya tanpa ada yang menyaingi


Bulan itu hanya satu


Dan semua orang dapat memandangnya


Mengaguminya


Seperti kamu


Banyak yang memandangmu


Mengagumimu


Menjadikanmu miliknya, seperti aku


Aku tidak ingin lagi mengulur waktu

__ADS_1


Tidak ingin terlambat dan menyesalinya


Karena hatiku tak pernah tenang


__ADS_2