Destination

Destination
20 Siapa Dia?


__ADS_3

Rara berjalan di mall seorang diri. Dia janji bertemu dengan Rivan untuk makan siang di mall.


“Rara!” panggil seseorang. Rara menengok, mengernyitkan keningnya. Tidak mengenali sosok yang memanggil namanya.


“Lama tidak bertemu, Sayang. Kamu tambah cantik!” Pria itu tersenyum dan semakin mendekatkan diri. Dia ingin sekali memeluk Rara.


Rara melihat wajah pria yang berdiri di hadapannya.


“Bagaimana kabarmu, Sayang?”


Sayang? Pria ini pasti gila.


Tanpa pikir panjang Rara langsung berlari. Ketakutan! Dia tidak ingin melihat ke belakang. Tidak menengok kanan kiri.


BRUGHHH!


“Awww ... sakit!” Rara meringis. Hidung mancungnya terbentur dada bidang yang kekar.


“My Sweet, kamu kenapa?” Rara menengadahkan kepalanya.


“Rivannn ... untung kamu datang. Ayo cepat kita pergi!”


“Aku baru sampai, kita kan belum makan.”


“Ish, makan di tempat lain saja. Buruan!”


“Iya, iya. Tapi kamu kenapa, sih?”


“Aku takut. Tadi orang aneh panggil-panggil aku Sayang, masa!”


“Kamu kenal?”


“Enggak lah, makanya aku buru-buru kabur.”


“Ya sudah ayo. Lain kali kamu aku jemput saja, lah.”


“Sekalian ya antar jemput?”


“Dasar ngelunjak, memangnya aku sopir kamu!”

__ADS_1


“Hahaha. Latihan Van, nanti kalau kamu punya pacar kan, sudah biasa.” Rivan nampak berpikir, kemudian menggelengkan kepalanya.


“Kamu mau latihan jadi pacar aku? Kenapa enggak sekalian latihan jadi istri aku?” Rara langsung menoyor pipi Revan, tapi kemudian mereka tertawa.


Apa jadinya ya, kalau Rivan punya pacar?


...🌼🌼🌼


...


Satu minggu sudah berlalu semenjak kepulangan Rara. Rara sibuk membantu di butik mamanya.


“Mbak Rara, ada yang nyari!” kata Tanti, asisten mama Rara.


“Siapa?”


“Cowok, Mbak. Ganteng!”


Rivan atau Tony?


Harus Rara akui kalau kedua sahabatnya itu memanglah berwajah ganteng.


“Alvin? Kamu kok disini, kapan datang ke Indonesia?”


“Sudah beberapa hari. Tapi aku masih sibuk, jadi baru sempat menemui kamu.”


“Kamu sudah makan siang?”


“Belum. Aku sekalian mau mengajak kamu makan.”


Rara mengangguk menyetujui. Dia lalu mengambil tasnya, dan pergi bersama Alvin. Kebetulan para sahabatnya juga lagi pada sibuk, jadi tidak ada yang menemaninya makan siang.


“Oya, ini aku bawain coklat untuk kamu!”


Rara menerima paper bag dari Alvin dengan wajah ceria.


Lumayan, bisa dimakan saat ngumpul sama yang lain.


Mereka memasuki restoran khas Sunda.

__ADS_1


“Kamu berapa lama ada di sini?”


“Sama seperti kamu.”


Maksudnya? Aku kan memang tinggal di Jakarta.


“Kamu tinggal di mana?”


“Maunya sih sama kamu.”


Ini aku yang salah dengar, apa memang dia yang lagi enggak nyambung, ya?


“Bryan juga di sini?” Rara kembali mengajukan pertanyaan, meskipun jawaban dari pertanyaan sebelumnya masih menjadi teka-teki.


“Iya. Dia kan asisten aku.”


Nah, ini nyambung!


Mereka menyajikan makanan itu dalam diam.


“Kamu mau nambah?”


Memangnya aku kelihatan rakus bangat, ya?


“Enggak, tapi aku mau beli cemilan aja, deh. Nanti Revan dan yang lain mau datang, biasanya sih pada menginap.”


“Aku juga mau, dong!”


Eh?


Rara mengerjapkan matanya, bingung.


...🌼🌼🌼


...


Jalanan di sore ini nampak padat. Alunan musik terdengar dari dalam mobil Alvin. Di sampingnya duduk gadis cantik yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Rara sedang menghubungi sahabatnya, yang saat ini sedang menanyakan keberadaannya, karena hanya Rara saja yang belum tiba di rumah.


“Vin, berhenti dulu. Aku mau beli martabak dan rujak.” Alvin langsung menghentikan laju kendaraannya di delan penjual martabak dan rujak.

__ADS_1


__ADS_2