Destination

Destination
24 Masalah


__ADS_3

Rara tiba di rumahnya jam delapan malam. Dia meletakan dengan asal tasnya, lalu membaringkan badannya di atas kasur. Setelah lelahnya sedikit berkurang, dia lalu mandi. Di dalam kamar mandi, dia sedang memikirkan sesuatu.


Sepertinya ada yang kelupaan deh, apa ya?


Beberapa detik kemudian, dia baru teringat.


Oya, aku kan belum kasih jawaban apa-apa pada Alvin. Gara-gara tadi ketemu Rivan dan yang lain, aku jadi lupa.


Rara buru-buru menyelesaikan mandinya. Setelah selesai mandi, Rara langsung menghubungi Alvin.


“Hai Vin, maaf ya tadi aku lupa belum menjawab tawaran kamu.”


“Jadi gimana, Nay?”


“Maaf Vin, untuk saat ini aku belum bisa menerima tawaran dari kamu. Butik mama aku sedang mengalami masalah, aku ingin fokus menyelesaikan masalah ini dulu.”


“Kamu butuh bantuanku?”


“Aku akan menyelesaikannya sendiri, nanti kalau aku mengalami kesulitan, aku akan meminta bantuanmu.”


“Baiklah, jangan sungkan, ya. Tapi kalau masalahnya sudah selesai, kamu mau bekerja di AZ?”


“Tentu saja.”


“Baiklah kalau begitu, aku tunggu.”


Alvin merasa sedikit kecewa karena Rara tidak langsung menyetujui tawarannya. Tapi dia juga mengerti dan tidak boleh memaksa. Apalagi butik itu milik mama Rara.

__ADS_1


Sedangkan bagi Rara, dia ingin membantu sang mama, agar mamanya tidak lelah bekerja. Di satu sisi juga dia ingin membalas budi pada AZ Group yang telah memberikan beasiswa padanya. Apalagi tidak mudah mendapatkan pekerjaan di AZ Group.


Dia hanya tinggal membagi waktu. Alvin saja bisa memiliki banyak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, jadi dia juga bisa belajar dari ahlinya.


...🌼🌼🌼


...


Masalah yang dihadapi oleh butik memang tidak sedikit. Masalah bahan yang kualitasnya tidak sesuai dengan yang dipesan ditambah dengan penggelapan dana oleh karyawannya membuat Rara harus bekerja ekstra.


Bahan luntur


Bahan kasar


Bahan terlalu tipis


Bahan terlalu tebal


Rara memanggil salah satu pegawainya.


“Siapa yang memesan bahan ke pabrik?”


“Eka, Mbak!”


“Panggil Eka ke sini!”


Tidak lama kemudian wanita yang bernama Eka masuk ke ruangan Rara.

__ADS_1


“Eka, kamu yang memesan bahan ke pabrik?”


“Iya, Mbak.”


“Kenapa bahan yang datang kualitasnya bisa beda seperti biasanya? Kata pihak pabrik ini sudah sesuai seperti yang kita pesan.”


“Saya sudah memesan sesuai kualitas yang biasa kita pakai. Ada bukti pemesanan juga kok, Mbak!”


“Siapa yang biasanya menangani bahan pesanan kita?”


“Dari pihak pabrik yang biasanya mengurusi pesanan kita adalah Pak Anwar. Tapi Pak Anwar sudah pensiun dua bulan yang lalu. Jadi dua pemesanan kita yang terakhir ditangani oleh Pak Edi.”


“Coba kamu hubungi Pak Edi. Tanyakan padanya kenapa ini bisa terjadi.”


“Baik, mbak!”


Rara mengacak-ngacak rambutnya.


Seperti inikah yang dirasakan Alvin dan para CEO?


Oya, teman-temanku itu kan juga akan menggantikan tugas orang tua mereka mengurus perusahaan. Apa mereka sudah merasakan apa yang aku rasakan sekarang ya?


Rara tersenyum sendiri, padahal tidak ada yang lucu. Sepertinya dia sudah mulai stres. Dia kembali mengacak rambutnya. Mengingat kalau dana butiknya sudah digelapkan oleh salah satu karyawannya.


“Kamu butuh bantuanku?” Alvin duduk di hadapan Rara.


“Kapan datang?”

__ADS_1


“Sudah dari tadi. Aku sudah ketok-ketok pintu tapi kamu diam saja, ya sudah aku masuk.”


Rara menghela nafas. Sepertinya dia butuh hiburan.


__ADS_2