
Setiap hari Rara bekerja dengan giat. Dia bahkan sering lembur. Pola makannya menjadi berantakan. Rara sering melewatkan makan siangnya, makan malam pun sering terlambat. Hobinya yang suka makan makanan pedas juga memperburuk keadaan.
Kini dia merasakan efeknya. Perutnya terasa sakit seperti diremas-remas. Kepalanya berdenyut. Keningnya dipenuhi keringat dingin. Wajahnya pucat dan kakinya terasa lemas. Dia ingin izin, tetapi dia harus menemani big bosnya meeting dengan seorang klien. Rara mengatur nafasnya, berusaha menahan rasa sakit.
Pintu lift terbuka. Rara dan Alvin menuju lantai tujuh sebuah hotel, tempat diadakannya meeting. Rara bersandar pada dinding lift karena badannya yang lemas. Sesekali dia meremas perutnya. Sepertinya Alvin juga belum memperhatikan keadaan asistennya itu. Pria itu berdiri sambil melipat tangannya di depan perut.
Pintu lift terbuka, dan tiba-tiba saja tubuh Rara limbung. Alvin menahan badannya sebelum tubuh itu benar-benar ambruk ke lantai.
“Hei ... sadarlah!” Alvin menepuk-nepuk pipi Rara.
Tanpa pikir panjang, Alvin langsung menggendong Rara dan kembali ke lantai dasar, melupakan meeting yang harus dia lakukan sesaat lagi.
“Segera ke rumah sakit!” perintahnya pada sang sopir.
Alvin membaringkan badan Rara dalam pangkuannya, dan tanpa sadar mengusap-ngusap rambut Rara yang halus.
Mobil berhenti di depan pintu masuk UGD. Perawat segera membawa brankar dan Alvin membaringkan dengan pelan badan Rara. Dokter yang bertugas di UGD segera memeriksa Rara.
Pria itu mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai, menunggu dokter yang sedang bertugas memeriksa keadaan Rara. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, dokter keluar.
“Bagaimana keadaannya? Dia sakit apa?”
“Dia terkena mag dan kelelahan. Gizinya juga tidak seimbang. Saya sudah memberikan infus dan sebaiknya pasien di rawat dulu sampai keadaannya benar-benar stabil.”
“Baiklah, saya mengerti!”
“Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Perawat akan segera memindahkannya ke ruang inap.” Dokter itu sedikit membungkuk memberikan hormat pada Alvin.
Alvin segera memerintahkan perawat untuk menempatkan Rara di ruang VIP tanpa mengurus administrasi terlebih dahulu. Tidak penting, karena rumah sakit ini juga miliknya.
Rara segera dipindahkan ke ruang VIP. Dia tertidur dengan lelap. Wajahnya masih terlihat pucat. Alvin terus saja memandangi wajah cantik itu, meski saat ini terlihat pucat.
__ADS_1
“Bryan, Saya tidak jadi meeting. Sampaikan permohonan maaf kepada Mr. Raymond dan atur jadwal meeting selanjutnya. Aku tidak akan kembali ke kantor. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit!”
“Apa Anda sakit, Sir?”
“Bukan aku, tapi Khaira.”
“Baiklah, saya mengerti, Sir!”
Alvin mendudukkan tubuhnya di sofa empuk ruangan itu. Sesekali matanya melirik Rara. Dia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
...🌼🌼🌼
...
Malam telah datang. Rara masih nyenyak dalam tidurnya. Alvin juga masih setia menunggu. Pintu diketok. Bryan membawakan laptop, berkas-berkas dan makanan, juga baju ganti.
Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan, sedangkan yang satu tidur dan bermimpi tentang makanan.
Alvin terbangun mendengar deritan brankar.
“Kamu sudah bangun? Apa ada yang kamu butuhkan?”
Aku butuh makanan, ucapnya namun hanya dalam hati. Mana mungkin dia mengatakan itu kepada bosnya.
“Tidak ada!” katanya berbohong.
Tetapi perutnya mengkhianatinya. Krucuk krucuk krucuk ... perutnya berbunyi. Rara menunduk.malu sedangkan wajah Alvin terlihat datar.
“Saya akan memanggil dokter dulu sebelum memberimu makan.”
Tidak lama kemudian dokter jaga datang ditemani oleh perawat. Dia segera memeriksa keadaan Rara.
__ADS_1
“Kondisi Anda sudah mulai stabil. Saya akan memberikan obat dan vitamin. Tolong dijaga pola makannya dan istirahat yang cukup.”
Alvin segera memesan makanan, sedangkan Bryan masih tertidur dengan posisi miring memeluk berkas.
Hati-hati saja kalau berkasnya lecek!
Rara merasa tidak enak hati dengan atasannya. Bagaimana pun dia adalah karyawan, sedangkan yang menungguinya adalah bosnya. Mana ganteng, lagi.
“Kamu mau mengabari keluargamu?”
“Tidak! Saya tidak ingin membuat mama saya khawatir.”
“Baiklah!”
Tidak lama kemudian makanan datang. Alvin membangunkan Bryan.
“Makan Bry!”
Bryan membuka matanya perlahan.
“Kamu pesan makanan, Vin?”
“Hmmm ... cepat makan!” perintah Alvin.
“Eh, sudah bangun, Ra?”
Rara tersenyum kikuk. Merasa aneh dengan sikap Bryan dan Alvin.
Alvin, Bryan dan Rara makan dalam diam. Selesai makan, Bryan memotongkan apel untuk Rara dan Alvin.
Haruskah aku mengatakan ini sakit membawa berkah? Mama, anakmu ini mendapatkan keberuntungan. Bangun tidur disuguhi cowok ganteng. Aku harus sering-sering bersyukur! Bukan berarti Rara menyukai salah satunya, tapi perempuan normal mana sih yang tidak suka dan senang ditemani oleh para pria tampan? Dan Rara tentu saja masih perempuan normal yang ingin memberikan vitamin pada matanya.
__ADS_1