Destination

Destination
45 Darian


__ADS_3

[Bisa kita bertemu?]


[Baiklah.]


Rara langsung meletakkan pondok atas meja, dia duduk menyandarkan tubuhnya, dsn tidak lama kemudian langsung pergi dari butik.


Dua puluh menit kemudian Rara tiba di kafe yang tidak jauh dari butiknya. Seorang pria sudah duduk di sudut kafe, meminum secangkir kopi yang asapnya masih mengepul.


"Duduk, Sayang."


Rara langsung duduk. Wajah ha memindai laki-laki di hadapannya. Masih terlihat muda dan tampan, meski juga terlihat menyimpan banyak beban.


"Siapa nama papa?"


Deg


Satu pertanyaan dan satu sebutan yang membuat jantung pria itu berdetak kencang.


"Darian. Nama papa, Darian."


"Apa mama tahu kalau papa sering menemui aku?"


"Tidak."


"Apa mama tahu keberadaan papa saat ini?"


"Tidak."

__ADS_1


Oke, Rara mengangguk paham. Rara ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya, tapi dia sendiri tidak siap mendengarkan semua itu.


Apa pun alasan itu, dia sangat yakin kalau dirinya yang akan kecewa.


Perselingkuhan


Itulah satu kata yang ada dibenaknya, alasan kedua orang tuanya tidak lagi bersama.


Memangnya apa lagi?


Tidak mungkin alasannya karena tidak memiliki anak, kan?


Pikiran buruk itu sungguh menyakiti hati Rara. Dia berusaha menahan air matanya, agar tidak menetes di hadapan pria yang telah menyia-nyiakan dia dan mamanya.


Dsn jika memang ada yang berselingkuh, dia sangat yakin kalau itu papanya. Mamanya sampai sekarang tidak pernah dekat dengan pria mana pun, apalagi menikah.


Dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Tidak ada pembuktian kalau papanya tidak selingkuh, apalagi menikah lagi.


Rara menunduk.


Darian melihat kesedihan di wajah anak perempuannya. Dia bahkan belum mengatakan apa-apa, tapi di wajah itu sudah menunjukkan kekecewaan yang sangat besar.


Bagaimana bisa dia menceritakan tentang masa lalu dia dan mama Rara?


Rara ingin bertanya, kenapa dia ditinggalkan, apa papanya itu tidak menginginkan dia? Apa tidak menyayangi dia? Lalu kenapa sekarang datang lagi? Mengusik kehidupan dia yang selama beberapa tahun ini baik-baik saja.


Siapa perempuan itu?

__ADS_1


Perempuan yang sudah merebut sang papa dari dia dan mamanya.


Rara tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak mau mendengar penjelasan apa pun, karena hanya rasa sakit yang akan dia dapatkan.


Rara mengatur nafasnya.


"Jangan temui aku lagi, jangan mengirim pesan atau apa pun yang berhubungan dengan aku dan mama. Selama ini kehidupan aku dan mama baik-baik saja. Kami bahagia meski tanpa kehadiran tulang punggung di antara kami."


Darian meremas tangannya. Dia langsung mendapatkan penolakan dari anaknya, padahal baru saja dia mendengar anaknya itu memanggil dia papa.


"Sayang, tolong dengarkan papa dulu ...."


"Tidak. Aku tidak mau sakit hati."


Sakit hati.


Ya, tentu saja itu yang akan dirasakan oleh orang yang dicampakkan. Apa mereka berharap setelah meninggalkan belasan tahun, maka mereka akan disambut dengan tangan terbuka?


"Beri papa kesempatan, Ra. Papa sangat menyayangi kamu. Papa tidak akan meninggalkan kamu lagi."


"Kenapa papa tidak menemui mama? Papa menemui aku diam-diam, kan?"


Bukannya tidak mau, tapi Darian belum siap dengan hatinya sendiri. Sama seperti apa yang dia rasakan kepada Rara, dia juga takut ditolak.


"Papa ... akan mencari waktu untuk menemui mama kamu."


"Kapan? Tunggu mama memergoki keberadaan papa? Menemui papa seperti ini membuat aku merasa seperti mengkhianati mama."

__ADS_1


__ADS_2