Destination

Destination
27 Dia


__ADS_3

“Saya adalah ayah kamu, Sayang!” Pria itu menegaskan perkataannya sekali lagi.


Rara menajamkan pendengarannya


Meyakinkan pikirannya


Menata gejolak di hatinya


AYAH!


AYAH?


Satu kata yang selama ini tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


Selama ini dia tidak pernah berpikir apakah dia memiliki ayah atau tidak.


Tidak pernah bertanya di mana ayahnya.


Juga tidak pernah tahu siapa ayahnya.


Lalu tiba-tiba saja di hadapannya ada sosok pria yang sudah tua namun masih terlihat gagah dan tampan muncul di hadapannya dan mengaku sebagai ayahnya.


Kemana pria ini sebelumnya?


Harus kah dia percaya?


Pria itu menggenggam tangan Rara, Rara langsung melepaskan genggaman tangan itu dan berlari.


BRUGH!


Tabrakan yang sangat keras namun tidak membuat Rara merasa sakit.


“Naya, kamu kenapa?” tanya Alvin saat menyadari bahwa yang menabraknya barusan adalah Naya.


Alvin melihat wajah Rara yang memucat dan keringat dingin. Tangannya gemetaran.


“Ayo!” Alvin lalu mengajak Rara menuju cafe lain.


“Kamu kenapa?”


Tidak ada sahutan yang keluar dari mulut Rara. Rara meremas tangannya yang gemetaran. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Rivan ... tolong aku!” Suaranya terdengar lirih.


Rivan langsung menanyakan keberadaan Rara dan segera menemuinya.


Kurang lebih lima belas menit kemudian Rivan sudah tiba di depan cafe dan menghubungi Rara.


“Aku sudah di depan cafe.”


Rara langsung meninggalkan Alvin begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Rara langsung memeluk Rivan dengan erat. Rivan yang melihat My Sweet-nya tidak seperti biasanya hanya mengusap-ngusap punggung Rara.

__ADS_1


“Sudah tidak apa-apa. Ada aku!” Dia lalu menuntun Rara menuju mobilnya.


Alvin melihat semua itu dengan tatapan nanar.


Bisakah kamu hanya mencariku saat kamu sedih?


Bisakah kamu menceritakan semua masalahmu hanya padaku?


Bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk menjadi seseorang yang berarti untukmu?


Kamu harus tahu, bahwa aku menyayangimu, bahkan sejak lama!


Rivan mulai melajukan kendaraannya.


“Aku antar kamu pulang, ya?”


“Jangan, ada mama!”


“Ke rumah aku?”


“Jangan, kita kan tetanggaan.”


“Ayo kita ke hotel!”


“Ingat dosa!”


Rivan langsung menjitak kening Rara, gadis itu hanya meringis.


Akhirnya mereka beneran ke hotel. Kenapa? Karena di sana ada kasur yang bisa dipakai untuk guling-gulingan tanpa rasa sakit, ada televisi juga bisa memesan makanan.


Rara makan sambil menangis, entah karena kepedasan atau karena fakta yang baru saja dia tahu.


Sampai makanan habis dia tidak berhenti menangis, namun dia juga tidak mengatakan apa pun pada Rivan.


Karena lelah setelah lama menangis dan kekenyangan, akhirnya Rara tertidur. Rivan mengusap-ngusap rambut Rara, kemudian dia menyalakan televisi dan memesan sesuatu melalui ponselnya setelah itu dia menghubungi sahabat rusuhnya.


Rivan


[SOS!]


Karina


[Di mana?]


Rivan


[Hotel. Aku shareloc. Kamar nomor 707]


Tony


[Wah parah. Aku saja belum pernah ngajak cewek ke hotel. Dasar, Rivan diam-diam mesum, sahabat sendiri dibabat!]

__ADS_1


Rivan


[Belum pernah dapat bogem, ya?]


Karina


[Berisik kalian berdua. Jagain Rara, jangan sampai dia bunuh diri!]


Tia


[Ih, Karina, jangan begitu bicaranya!]


Karina


[Lah, cewek yang depresi patah hati kan suka nekat.]


Tia


[Memang Rara patah hati? Siapa cowok itu, ayo kita bantai, Kar!]


Tony


[Rivan!]


Karina


[Rivan!]


Rivan


[Ck, bukan saatnya ngedrama woyyyy! Karin, Tony, mendingan kalian nikah saja deh, cocok. Entar anak kalian aku kasih nama Karton.]


Tia


[Hahaha ... pasangan labil!]


Tony


[Aku undur diri dari persahabatan ini.]


Karina


[Ayang Tony, awas loh nanti jadi bucin sama aku.]


Tony


[Kamu mau aku bucinin?]


Rivan


[Obrolan enggak mutu. Buruan datang!]

__ADS_1


Tia


[OTW]


__ADS_2