Destination

Destination
8 Rivan Dan Tia


__ADS_3

Rara sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya di London, begitu juga dengan para sahabatnya di Indonesia. Mereka sama-sama bekerja dengan giat meski berbeda negara. Kesuksesan yang satu akan menjadi kebanggaan juga untuk yang lainnya.


Suara ponsel Rivan berbunyi, menandakan panggilan masuk yang ternyata adalah Tia.


“Kenapa, Ti?”


“Van, temani aku ya, ke toko buku.”


“Enggak bisa Ti, aku sibuk.”


“Sebentar saja, Van.”


“Aku benar-benar sibuk hari ini.”


“Terus bisanya kapan?”


“Enggak tahu. Kamu pergi sendiri saja lah.”


“Kamu kenapa sih kalau aku ajak suka nolak. Tapi kalau Rara yang minta langsung mau.”


“Kenapa jadi bawa-bawa Rara? Lagian aku kan memang sibuk. Aku harus kuliah dan praktek.”


“Ah kamu mah, selalu begitu.”


“Enggak usah manja, deh!”


“Kamu sepertinya enggak suka bangat sama aku. Kata kamu, sahabat Rara, sahabat kamu juga.”


“Memang. Tapi kalau kamu seperti ini terus, lama-lama aku bisa jadi sebel sama kamu.”


“Gitu bangat, sih Van?”


“Gitu gimana? Udah ah, dibilangin aku lagi sibuk, juga!”


Rivan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Seperti itulah dia. Paling tidak suka dipaksa. Rivan melihat bingkai yang berfotokan dirinya dan Rara saat masih kecil. Dia tersenyum, ada juga foto mereka berlima dan foto kedua orang tuanya. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Tia. Belum ada sepuluh menit, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini Tony yang menelepon.


“Mau apa?”


“Buset, galak amat!”

__ADS_1


“Jangan basa-basi, aku lagi sibuk.”


“Santai dong! Van, nanti malam aku nginap di rumah kamu, ya.”


“Enggak, ah!”


“Dasar pelit! Ayolah Van!”


“Mau ngapain sih, curhat lagi? Kali ini siapa lagi yang mau kamu curhatin? Tiap kali curhat, nama perempuan yang kamu sebut selalu berbeda.”


“Hahaha ... jadi malu.”


“Sejak kapan kamu punya urat malu? Udah deh, kerjaan aku lagi banyak bangat ini. Tadi Tia yang ganggu, sekarang kamu.”


“Tadi Tia telepon?”


“Iya.”


“Mau ngapain?”


“Minta antar ke toko buku.”


“Terus kamu mau?”


“Wah parah kamu, Van!”


“Parah gimana, sih? Udah ah, bawel.”


Rivan kembali menutup sambungan telepon itu. Dia mengacak-ngacak rambutnya, kesal, karena selalu diganggu. Dia lalu menghubungi seseorang.


“Hallo My Beb, lagi apa?”


“Van ... perut aku mules, aku mau pup dulu ya.”


“Woi jorok!”


“Ini namanya tuntutan alam, bukannya jorok. Udah ah, ganggu deh. Nanti keburu hilang mulesnya.”


Rivan langsung tertawa ngakak setelah sambungan telepon itu terputus. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk datang.

__ADS_1


Rara


[Lain kali kalau mau telepon lihat-lihat jam dong!]


Rivan


[Katanya mau pup, sudah selesai? Cepat amat!]


Rara


[Lah, ini aku sambil pup! Hehehe]


Rivan menggelengkan kepalanya. Astaga, sahabatnya yang satu ini memang tidak tahu malu. Obrolan tidak berfaedah itu pun berakhir. Rivan kembali melanjutkan pekerjaannya disertai senyuman yang terus terukir.


...🌼🌼🌼


...


“Mama!” sapa Rivan kepada mama Rara.


“Eh Rivan. Ayo masuk, makan dulu yuk. Di dalam juga ada Tony tuh, lagi makan juga.”


Rivan dan mama langsung ke ruang makan. Tony makan dengan lahap. Rivan kadang heran, kenapa semua sahabatnya tidak punya malu. Tapi dia sendiri juga seperti itu. Kadang di rumah Rara, kalau dia makan bisa nambah sampai tiga kali. Minta dibikinin ini lah, itu lah. Mungkin karena mereka juga sudah bersahabat sejak kecil. Mama Rara juga memperlakukan Rivan seperti anaknya sendiri. Bahkan mamanya Rara dengan mamanya Rivan juga sering berkomunikasi lewat telepon.


Rivan lalu mengambil nasi sepiring penuh, dua potong ayam dan sayur lodeh semangkok.


“Lapar Van?” tanya Tony.


“Doyan!” jawab Rivan cuek.


Mama hanya tersenyum, merasa senang karena anak-anaknya itu menyukai masakannya yang sederhana.


“Anak-anak mama makan yang banyak ya. Masih banyak kok, kalau kurang nambah lagi.”


Mereka menikmati makan malam dengan ceria.


Selesai makan, mereka menuju ruang TV dan mengobrol. Apa saja diceritakan oleh Rivan dan Tony. Tidak lama kemudian Karina dan Tia datang membawa cemilan. Tony yang perutnya sudah terisi penuh dengan nasi, dengan tidak sadar diri melahap cemilan itu. Lagi-lagi Rivan menggelengkan kepalanya.


“Besok kan hari Minggu, kalian nginap di sini saja ya. Besok mama buatin bolu untuk kalian.”

__ADS_1


“Asikkk!” ucap Tony.


Benar-benar perut karet!


__ADS_2