
Rara membuka matanya, kepalanya terasa sakit dan berdenyut.
"Kenapa aku di sini?"
"Kamu sudah sadar?"
"Kenapa aku di sini?" tanya Rara lagi.
"Mama menemukan kamu yang sudah pingsan di dalam kamar. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, Ra? Kata dokter, kamu kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Jangan terlalu sibuk bekerja, harus ingat menjaga kesehatan juga. Untung saja Rivan masih ada di rumah." Rara yang mendengar perkataan mamanya itu, merasa semakin pusing, tapi tidak mungkin juga dia mengatakannya, kan.
"Aku tidak apa, Ma." Rara sendiri juga lupa, kenapa dia bisa sampai pingsan, dia tidak mengingat apa-apa.
"Sekarang makan dulu, setelah itu minum obat."
Mama menyuapkan Rara, karena tangan gadis itu sedang diinfus. Karina memotong buah untuk Rara, lalu memberikannya untuk gadis itu.
"Kamu harus libur bekerja dulu, Ra. Urusan butik biar mama yang mengurusnya."
"Tapi, Ma ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Mama akan mengurus butik."
Rara menghela nafas. Bukannya dia tidak percaya dengan kemampuan mamanya, tentu saja mamanya itu yang lebih ahli dalam menangani butik, dia hanya tidak mau kalau malah mamanya yang kelelahan dan jatuh sakit.
__ADS_1
Tidak lama setelah meminum obat, Rara kembali tidur.
Sementara itu, Alvin yang datang ke butik tapi malah tidak bertemu dengan perempuan itu. Doa sudah menghubungi Rara, tapi ponselnya tidak aktif. Para karyawan butik juga tidak ada yang tahu, karena bos mereka tidak ada memberi kabar.
Alvin lalu ke rumah Rara, di sana juga sangat sepi. Mata pria itu lalu melihat pintu rumah Rara ya g sedikit terbuka, sepertinya tadi mama Rara menutupnya dengan terburu-buru dan tidak ingat untuk menguncinya.
"Ra? Ma?" Alvin berteriak, tapi tidak ada yang menyahut, menandakan kalau rumah ini kosong.
"Kenapa tidak dikunci? Bagaimana kalau nanti ada pencuri?" tanyanya pada diri sendiri.
Alvin lalu ke ruang makan. Di atas meja ada makanan yang tidak ditutup, dan pastinya sudah dingin.
"Apa terjadi sesuatu dengan mereka?"
Oya, Alvin jadi teringat kalau rumah Rivan persis di sebelah rumah Rara. Dia tidak melihat ada mobil Rivan di rumah itu, sedangkan mobil Rara dan mamanya masih ada.
Sama seperti rumah Rara, rumah Rivan pun sepi. Alvin mengetuk dan memanggil beberapa kali, tidak ada yang menyahut. Pria itu mencoba menarik handle pintu, dan ternyata terbuka.
Alvin langsung menutupnya lagi, tidak sopan kalau harus masuk ke rumah orang kalau sang pemilik rumah tidak ada. Pria itu lalu duduk di jalan depan rumah Rara yang sejuk, meski hari sudah siang.
Ponsel Alvin lalu berbunyi.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Dia ada di rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Rara. Aku mendapat kabar kalau dia tadi pingsan, dan sekarang dirawat di rumah sakit."
"Baiklah kalau begitu." Alvin langsung mematikan ponselnya. Dia bergegas pergi ke rumah sakit, tapi sebelum itu membeli buah-buahan.
Pria itu jadi teringat lagi saat Rara sakit di London dulu.
Seperti dia terlalu lelah.
Alvin tiba di rumah sakit, dia sudah tahu di ruangan berapa Rara dirawat.
"Loh, Alvin? Sedang apa kamu di sini?" Alvin menghela nafas saat mendengar siapa yang menegurnya.
.
.
.
Ya ampun, aku kelupaan update cerita ini🤣
__ADS_1
Apa karena sepi? Gada yang like apalagi komentar. Gak ada yang ngasih gift atau vote🥺