
“Naya, segera ke ruanganku!”
“Baik, Sir!”
“Perbarui kontrak dengan Mr. David. Minta direktur keuangan untuk menemuiku.”
“Baik, Sir. Saya permisi!”
Setelah menghubungi direktur keuangan untuk segera menghadap Alvin, dengan terampil Rara membuat kontrak kerja sama yang baru dengan Mr. David.
Lyan juga nampak sangag sibuk. Bryan sedang berada di hotel untuk rapat bersama Leo.
Saatnya makan siang. Rara, Lyan dan Emma makan siang bersama di cafe perusahaan.
“Aku sangat lelah. Banyak sekali laporan yang harus aku buat dan perbaiki,” ucap Emma.
“Kamu pikir kami tidak sibuk?” kata Lyan.
“Aku jadi jarang berkencan sekarang.”
“Kamu pikir kami tidak?” lagi-lagi Lyan memprotes ucapan Emma.
“Kami? Kamu saja, kali!” kali ini Rara yang protes. Selama ini kan, Rara memang tidak pernah berkencan dengan siapa-siapa.
“Iya aku lupa. Pacarmu kan, ada di Indonesia. Hebat sekali kamu bisa LDR.” Rara memutar bola matanya, tapi dia juga tertawa. Rara tahu bahwa yang dimaksud oleh Lyan adalah Rivan. Apa jadinya ya, kalau dia berpacaran dengan Rivan. Tidak lama kemudian ponsel Rara berdering.
Panjang umur nih, cowok
“Hai, My Sweety ... lagi apa?”
“Makan!”
“Ra, aku lagi sakit nih.”
“Hah? Kamu sakit apa Van? Sudah ke dokter belum?” Rara nampak sangat cemas.
“Hatiku sakit, jantungku juga!”
“Liver? Jantungan? Kok diborong sih, Van?” Rara semakin panik.
__ADS_1
“Lebih parah dari itu!”
“Maksudnya? Jangan bikin aku takut dong, Van!”
“Hatiku sakit karena merindukanmu! Jantungku selalu berdetak kencang saat mendengar suaramu!”
“RIVAAAANNN ... !” Suara tawa sangat nyaring diseberang telepon. Rara memanyunkan bibirnya.
“Kamu tahu enggak sih, Ra. Tiap hari aku dengar Tony ngerayu cewek-cewek!”
“Terus kamu belajar dari dia, gitu?”
“Dih ngapain! Enggak penting, kok.”
“Aku jadi hapal sama rayuannya," lanjut Rivan.
“Hahaha!” Kali ini Rara yang tertawa.
Tawa riang nan cantik membuat mata para pria memandang Rara penuh kekaguman. Termasuk Bryan dan Alvin yang saat itu juga ada di sana.
...🌼🌼🌼...
Sementara itu di apartemen yang lain, Rara menggunakan gaun baru berwarna orange yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih dan mulus. Gaun yang didesign sendiri oleh mamanya. Mamanya memang kerap kali mengiriminya gaun. Mungkin mamanya lebih mengerti, kalau Rara pasti akan sering menghadiri pesta dan jamuan makan malam seperti para pelanggan butiknya yang dari golongan atas.
Tidak ada riasan yang berlebihan. Gaun itu tidak seksi, tapi nampak seksi karena Rara yang memakainya. Tubuhnya proposional. Tinggi dan langsing. Rambutnya dibiarkan tergerai.
Tepat jam tujuh Alvin menekan bel apartemen Rara. Dia sendiri yang menjemput Rara dan menyupiri sendiri mobilnya.
Mereka saling menatap dan mengagumi satu sama lain.
Tampan!
Cantik!
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak ada obrolan selama perjalanan. Mereka memasuki restoran Italia dan menuju ruang VIP. Ruangan itu didekorasi dengan sangat cantik. Bunga dengan berbagai jenis dan aroma menghiasi ruangan itu. Lampu kristal ada di tengah-tengah ruangan itu. Dinding yang terbuat dari kaca transparan menghadap taman yang penuh dengan bunga-bunga dan lampu yang berkelap-kelip. Rara nampak kagum dengan pemandangan yang ada di luar sana.
Alvin memberikan buket bunga mawar pada Rara.
“Selamat atas kelulusanmu dan menjadi yang terbaik.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
Jadi ini makan malam untuk kelulusanku? Aku pikir makan malam dengan klien. Tapi kenapa Haris berdua saja, aku kan hanya karyawan biasa di perusahaan miliknya, belum tentu juga aku akan terus bekerja dengannya.
Sajian pembuka dihidangkan. Selanjutnya menu utama lalu makanan penutup.
“Jadi apa rencana kamu selanjutnya?”
“Saya ingin kembali ke Indonesia!”
“Kamu bisa bekerja di AZ Group yang ada di Jakarta!”
Tawaran yang menggiurkan. Apalagi langsung diberikan oleh CEO.
Tapi bagaimana dengan rencana awalku? Mau ditolak, tapi sayang. Nanti dikira tidak tahu berterima kasih. Kacang lupa kulitnya. Aku harus bagaimana? Aku ingin mengembangkan butik mama dan bisnisku sendiri.
“Kamu bisa bekerja dulu di AZ. Mencari relasi dan pengalaman yang lebih banyak lagi. Bukankah sambil bekerja kamu juga bisa mengembangkan butik mamamu? Anggap saja kamu kuliah sambil bekerja!”
Eh, dia tahu?
“Terima kasih!”
Benar juga, sih.
Alvin banyak memberikan masukan pada Rara.
“Kamu harus sering mengikuti perjalanan bisnis, makan dan meeting denganku!”
Ini bukan modus, kan? Tapi mana mungkin. Wajahnya terlihat serius.
“Ayo kita berdansa!”
Deg
Deg
Deg
Entah suara degup jantung siapa itu!
__ADS_1