
Rara duduk di sudut cafe, baru saja teman SMA-nya menyerahkan undangan pernikahan untuk dia, Rivan, Tony dan Karina. Rara masih ingin duduk santai di cafe itu sambil menikmati segelas lemon tea, karena itu dia tidak langsung pulang.
Tanpa permisi, seorang pria langsung duduk di hadapannya.
“Bisa kita bicara, Sayang?” Tatapan pria itu terlihat lembut dan penuh kerinduan.
Ada perasaan bahagia, tapi menyesal
Ada perasaan cemas, tapi penasaran
Ada perasaan takut, tapi berharap
Itulah yang dia rasakan
Di satu sisi ingin tersenyum
Di sisi lain ingin menangis
Masa lalu yang menjadi kenangan
Masa depan yang dipenuhi harapan
Luka yang dia berikan
Apakah dia juga mampu mengobatinya?
Dia hanya mampu berdoa
Semoga gadis manis nan cantik yang kini tengah duduk dihadapannya mau memaafkannya
Dengan penuh keberanian, setelah bertahun-tahun memendam semua ini
Kini dia menemui gadis kecilnya
Ingin sekali dia memeluknya
Mengucapkan kata rindu dan sayang
__ADS_1
Meskipun dia tahu dan sadar bahwa gadis itu tidak mengingatnya
Melupakannya!
Dari hati dan pikirannya
Salahnya, ya memang salahnya
Kesalahan masa lalu yang tak dapat dihilangkan ....
Pria itu terus menatap Rara meski pikirannya berkecamuk. Mencoba merangkai kata untuk dia ucapkan. Namun nihil. Bibirnya terasa kelu. Pengecut! Ya, itulah dia.
Rara langsung meninggalkan pria itu. Pria itu hanya diam, tidak berniat mengejarnya. Karena dia sendiri pun bingung dengan sikapnya yang hanya mampu terdiam. Padahal dia sudah memberanikan diri untuk menemui Rara saat gadis itu seorang diri.
...🌼🌼🌼
...
Rara masih memikirkan kejadian siang tadi. Sudah dua kali pria itu menemuinya. Suatu kebetulan, kah?
Apa aku harus bertanya pada mama atau Rivan?
Rara memberikan undangan itu pada Rivan, Tony dan Karina.
“Kita datang sama-sama, ya!”
“Ini sih sekalian reoni.”
“Ra, kita harus ke salon dulu.”
“Buat apa, Kar?”
“Perawatan lah. Siapa tahu saja ada yang ganteng di sana.”
“Teman SMA kita kan enggak ada yang bule, Kar!”
“Ada satu, senior kita. Kita kelas satu, dia sudah kelas tiga.”
__ADS_1
“Belum tentu juga diundang, Kar.”
“Namanya juga ngarep, Ra.”
...🌼🌼🌼
...
Suasana pesta pernikahan nampak meriah. Teman-teman mereka yang dulu terlihat culun kini terlihat berbeda. Ada yang jadi pegawai bank, sekretaris, manager, supervisor, ibu rumah tangga, yang belum bekerja pun tak melewatkan kesempatan untuk menanyakan lowongan pekerjaan pada teman-temannya.
“Kalian berempat masih akur?” tanya Elia.
“Masih dong. Semakin mesra dan semakin bahagia!” ucap Karina.
Karina dan Elia dulu memang tidak akur, gara-gara cowok.
“Kamu kapan nyusul, Kar?” tanyanya lagi.
“Jangan tanyain kapan nyusul, kalau dirinya sendiri belum laku!”
Teman-teman lain yang mendengar ingin tertawa. Seperti itulah Karina dan Elia. Belum tuntaskah perselisihan mereka?
“Duh ini gemes banget deh, pipinya gembul banget!” Rara berusaha mencairkan suasana. Dia memegang dengan gemas seorang bocah laki-laki, kira-kira berusia dua tahun. Anak dari teman SMA mereka yang bernama Andre.
“Iya dong, Tante. Papanya saja ngegemesin gini,” ucap Andre.
“Hanya istrimu yang menganggap dirimu ngegemesin.” Suara tawa terdengar di tengah-tengah acara pernikahan sekaligus reoni itu.
“Sebentar lagi Mia dan Joko juga mau nikah,” kata Andre.
“CLBK mereka?”
“Ternyata banyak juga ya yang jodohnya teman satu sekolah sendiri. Kalian juga, kan?”
Sebuah pertanyaan yang diajukan untuk Rara, Rivan, Tony dan Karina.
Adakah yang ingin meng-aamiin-kan?
__ADS_1