
Akhir-akhir ini Rara lebih sering mengikuti Alvin. Meeting, makan bersama klien, pesta. Di akhir pekan Alvin juga sering mengajak Rara jalan-jalan. Hal itu membuat hubungan keduanya semakin dekat. Tidak ada lagi kecanggungan antara mereka. Sesekali Alvin akan ikut sarapan bersama Rara di apartemen mereka.
Sebenarnya Rara juga tidak tahu kenapa bosnya itu bisa seperti itu dengannya, tapi dia tidak mau ambil pusing, yang penting dia tidak pernah menggoda Alvin sedikit pun.
“Kamu kok tahu bangat sih, masakan Indonesia?”
“Aku kan pernah tinggal lama di Indonesia!”
“Masa?”
“Iya. Berarti bisa bahasa Indonesia?”
“Bisa, lah.”
Berarti kalau aku sedang teleponan dengan mama, Rivan dan yang lain ... dia ngerti, dong? Aishhh ... aku kan pernah ngomongin dia!
Bosku ganteng tapi galak.
Si bos ngasih banyak kerjaan.
Kalau aku minta kenaikan gaji, dikasih enggak ya?
Galak kaya gitu, memangnya punya pacar?
Wajah Rara tiba-tiba saja memerah, malu banget rasanya. Sekali lagi, tolong ingatkan Rara untuk tidak membicarakan orang lain dengan bahasa yang dia pikir orang itu tidak mengerti. Ya begini jadinya, malunya bukan main. Untung saja dia tidak dipecat dan dideportasi.
Masih banyak lagi yang Rara ucapkan di telepon saat membicarakan bosnya yang didengar oleh Alvin. Wajah Rara semakin memerah. Malu dan takut!
“Kamu kenapa?” Rara hanya cengengesan.
“Kamu sakit?” Alvin memegang kening Rara.
Deg
Deg
Deg
Lagi-lagi ada jantung yang berdetak kencang.
Anjir, bos ganteng bikin baper
__ADS_1
Debaran jantung, kok bikin laper
...🌼🌼🌼
...
Malam Minggu ini Alvin mengajak Rara jalan-jalan ke mall. Mereka memakan es krim dan menonton film. Orang-orang memandang mereka penuh kekaguman, padahal penampilan mereka biasa-biasa saja. Rara hanya memakai kaos dan celana denim. Begitu juga dengan Alvin. Bedanya, kalau Rara merk yang biasa-biass saja, sedangkan Alvin merk yang terkenal.
“Kamu mau beli apa?” tanya Alvin.
“Enggak ada. Stok makananku masih banyak di kulkas.”
“Tas, sepatu, perhiasan, gaun, atau apa gitu?”
“Enggak. Aku sudah sering dapat dari sahabat-sahabatku!” jawab Rara polos sambil tersenyum.
“Dari aku belum!”
“Kamu kan sudah sering kasih aku!”
“Kapan?”
“Setiap kali ada pesta dan makan malam dengan klien. Kamu pasti kasih aku gaun, sepatu, tas!”
“Mana mungkin. Barang bermerk terkenal gitu, kok. Aku lebih milih gaun dari mamaku, soalnya mama design sendiri khusus buat aku. Yang lain juga dikasih sama Rivan, Tony, Karina dan Tia.”
“Kamu sayang bangat ya, sama sahabat-sahabat kamu?”
“Iya, dong!”
“Sama aku, sayang enggak?”
Nah loh! Pertanyaan jebakan. Dijawab ini salah, dijawab itu salah.
Rara hanya tersenyum.
“Ayo aku beliin. Sekarang kamu yang pilih sendiri, deh!”
“Kan sudah banyak dari kamu.”
“Itu untuk urusan pekerjaan. Sekarang pemberianku secara pribadi.”
__ADS_1
“Aku enggak tahu, kapan baru bisa pakainya!”
“Nanti pas ketemu sama orang tua aku!”
WHATTT?
Jantung Rara jadi jumpalitan.
Ini maksudnya apa, ya?
Mereka memasuki butik terkenal. Rara terpaksa harus memilih gaun. Dia memilih gaun berleher V dengan lengan pendek dan panjang selutut. Dia mencobanya dan tidak ingin repot-repot menunjukkannya pada Alvin.
Sedangkan bagi Alvin, Rara akan tetap terlihat cantik memakai gaun apa saja. Setelah urusan gaun selesai, mereka lalu ke toko sepatu, tas dan perhiasan.
Gimana yang jadi pacar atau istrinya nanti, ya?
Semua belanjaan itu dibayar oleh Alvin tanpa beban. Merek terkenal dan keluaran terbaru. Tidak usah ditanyakan berapa totalnya. Rara juga tidak ingin tahu. Jiwa hematnya nanti protes.
Bukan uangku ini, lah! Aku juga enggak pernah minta. Tapi setelah ini jangan bilang aku matre, saja!
“Kamu ikhlas kan, membelikan aku semua ini?”
“Ya ikhlas dong. Memangnya kenapa?”
“Nanti kamu minta ganti rugi, deh!” Rara merasa was-was.
“Hahaha ... ya enggak lah.”
“Kamu enggak akan nuntut apa-apa, kan?”
“Nuntut apa sih, memangnya?”
“Hmmm ... ya kali aja, kamu maksa aku jadi pacar kamu, atau jadi istri kamu.”
Kali ini Alvin benar-benar tertawa.
“Kamu ceplas-ceplos bangat sih, Nay. Aku tidak selicik itu, loh.”
Mereka melanjutkan lagi jalan-jalannya dengan tangan Alvin yang membawa semua belanjaan itu.
Ini malam Minggu yang menyenangkan untuk Alvin. Dia belum pernah merasa sesenang ini.
__ADS_1
Ini juga pengalaman pertama bagi Rara. Dia belum pernah berjalan berdua saja dengan seorang pria kecuali Rivan atau Tony.