Destination

Destination
25 Saran Alvin


__ADS_3

Alvin duduk di hadapan Rara, pria itu memperhatikan gadis yang ada di hadapannya.


“Kamu harus kuat, dunia bisnis memang kejam!”


Rara mengangguk setuju.


“Kamu bisa menceritakan masalahmu, sebisa mungkin akan membantu.”


Rara berpikir sejenak.


Dia juga pasti sudah lelah dengan pekerjaannya, bagaimana harus di tambah dengan urusanku? Dulu saja saat aku menjadi asistennya, jika ada masalah pekerjaan dia akan marah-marah pada bawahannya.


Rara hanya terdiam, tidak ingin merepotkan mantan atasannya itu.


Aku bisa meminta tolong pada Rivan, Tony, Karina dan Tia nanti.


“Ayo kita makan siang dulu!”


“Ayo, aku mau makan yang pedas-pedas!”


...🌼🌼🌼


...


Berbagai menu makanan yang pedas disajikan di atas meja. Tidak hanya Alvin dan Rara, tapi disana juga ada Rivan, Tony, Karina, Tia. Sebelumnya Rara memang menghubungi sahabatnya lewat group untuk berkumpul di cafe itu.


“Pasti lagi stres. Ada masalah apa, Ra?” tanya Tia.


“Bahan-bahan yang dikirimkan tidak sesuai pesanan tapi pihak pabrik tidak mau bertanggung jawab, karena menurut mereka ini bukan kesalahan mereka. Selama ini tidak pernah seperti ini. Lalu, salah seorang karyawan menggelapkan dana.”


“Kok baru cerita?”


“Baru tadi aku tahu.”


“Sudah lapor polisi?”


“Terus?”


“Lagi di cari itu orang. Kalau masalah bahan, aku harus bertemu dulu dengan pihak pabrik yang menerima pesanan.”


“Mama sudah tahu, Ra?”


“Belum, Van. Mama jangan sampai tahu. Makanya aku harus secepat mungkin menyelesaikan masalah ini. Masa aku baru menggantikan mama, sudah mendapat masalah seperti ini, sih!”


“Setelah masalah ini selesai, sebaiknya kamu membuka pabrik sendiri!”


Semua langsung memandang Alvin.


“Buat pabrik tekstil sendiri?”


“Iya. Jadi kamu tidak perlu tergantung pada pabrik orang. Kualitas akan semakin bagus, kemampuanmu akan bertambah.”


Iya juga sih.

__ADS_1


“Tapi ....“


“Dana? Aku akan menjadi investornya!”


“Benar, Ra. Aku juga akan menanam modal.” Rivan menyetujui saran Alvin.


Tidak disangka, Tony, Karina dan Tia juga mau berinvestasi.


“Anggap saja ini usaha milik kita bersama.” Karina sangat bersemangat.


“Tumben kamu semangat, Kar?” tanya Tony.


“Kali saja ada investor bule lainnya. Teman-teman Pak Alvin, mungkin?”


Tony langsung menoyor pipi Karina.


“Jangan jadi playgirl gitu, dong Kar!”


“Dih, kagak nyadar diri. Kamu saja playboy. Aku hanya mau berpacaran dengan cowok kualitas international!”


“Aku, dong?”


“Kamu itu semi lokal, Ton.”


“Sudah-sudah. Kalian nikah saja, lah!” ucap Tia.


Tony dan Karina saling memandang.


“Enggak, lah!”


Kali ini Karina yang menoyor pipi Tony.


“Jujur amat. Bilang suka kek, tapi takut ditolak.”


Yang lain hanya tertawa.


Ajaib memang persahabatan mereka.


“Tony ... kamu kemana saja, kok enggak pernah ke rumah lagi?” Seorang wanita berpakaian seksi menghampiri Tony.


“Siapa, ya?” tanya Tony bingung.


“Kamu jangan pura-pura lupa, Ton. Baru dua minggu yang lalu kamu ngajak aku makan malam romantis.”


“Hmmm ... masa?”


“Ih, Tony. Suka gitu, deh.”


“Oya, kenalin ini Karina. Dia calon istri aku. Sebentar lagi kami akan menikah.”


“APA? Kamu selingkuh?”


“Selingkuh apaan, hanya Karina pacarku satu-satunya. Kami sudah berpacaran sejak SMP. Sudah bertunangan sejak lulus SMA.”

__ADS_1


“Kamu kejam!”


“Masa?”


Rara, Rivan, Karina dan Tia saling melirik, langsung menghabiskan minuman mereka dan melihat piring sudah tidak ada lagi makanan. Pikiran mereka sama. Bisa saja sebentar lagi ada adegan melempar makanan atau mengguyur air minum. Atau menampar dan menjambak.


Efek kebanyakan nonton drama dan membaca novel!


Tapi hal itu ternyata tidak terjadi. Wanita itu langsung pergi dan berdumel penuh kekesalan.


Beberapa detik kemudian ...


“Karina! Jadi kamu sudah bertunangan? Kamu bilang kamu belum punya pacar. Jadi apa aku bagimu selama ini?” Seorang pria bule yang bahasa Indonesianya terbata-bata menatap Karina penuh kekecewaan.


“Steven, jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu kira!”


“Aku melihat dan mendengarnya sendiri. Aku mau kita putus!” Pria itu langsung pergi.


“Steven ... kita kan belum jadian, gimana bisa putus?” Pria itu tidak mempedulikan teriakan Karina.


Karina langsung memandang Tony.


“Ini semua gara-gara kamu!”


Karina langsung menjambak rambut Tony tanpa ampun. Sahabat mereka hanya tertawa tanpa perasaan.


Kasihan sih, tapi lucu.


“Tadi saja, bilang enggak suka. Tapi malah ngaku-ngaku tunangan aku. Segala mau nikah, lagi! Kenapa bukan Rara atau Tia saja yang jadi tumbal dari ke-playboy-an kamu!”


“Kan kamu yang duduk di samping aku. Jadi lebih meyakinkan. Bisa langsung aku rangkul, peluk atau cium!”


“KAMPRET!”


“Namanya enggak jodoh, Kar.”


“SIALAN!”


Karina masih menjambak rambut Tony.


“Maaf deh, Kar. Aku bakalan tanggung jawab.”


“Caranya?”


“Aku bakalan nikahin kamu.”


“Anjir! Kamu kira aku hamil!”


Suara tawa semakin membahana.


Rara, Alvin, Rivan, dan Tia sangat menikmati hiburan yang ada di dela dan sebelah mereka.


Alvin sama sekali tidak menyangka, kalau sahabat-sahabat Rara ternyata semenyenangkan dan selucu itu. Dia juga memiliki sahabat, hanya saja sahabat-sahabatnya itu pria semua.

__ADS_1


__ADS_2