Destination

Destination
26 Rencana (Karena Saya Adalah ....)


__ADS_3

“Aku bisa membantumu mendapatkan lokasi pabrik yang strategis!”


Setidaknya kalau Naya tidak bekerja denganku, aku masih punya alasan untuk mendekatinya.


“Baiklah, aku setuju untuk membaut pabrik sendiri, tapi setelah masalah ini selesai.”


“Aku akan membantumu. Semakin cepat masalah ini selesai, maka akan semakin baik.”


...🌼🌼🌼


...


Dua hari kemudian, dengan bantuan Alvin akhirnya masalah itu dapat diselesaikan. Pihak pabrik akhirnya meminta maaf dan bersedia ganti rugi, karena karyawanya lah yang bersalah. Karyawan Rara yang melakukan penggelapan pun sudah ditangkap dan harus mengganti kerugian yang sudah diterima oleh butik.


Atas dukungan dan semangat dari mama dan sahabatnya, akhirnya Rara yakin untuk membuka pabrik tekstil sendiri. Alvin sendiri yang mendampingi Rara. Setelah mendapat tempat yang bagus, perizinan segera diurus oleh Bryan. Tidak hanya itu, para buruh dan karyawan juga diurus oleh Bryan. Mereka mempekerjakan orang-orang yang telah diseleksi dengan ketat. Pabrik tersebut akan diberikan nama SKY Textile.


...🌼🌼🌼


...


Sambil menyelam minum air


Sekali mendayung dua pulau terlewati


Atau apa pun pribahasanya, yang dirasakan oleh Rara saat ini adalah sibuk dan lelah. Bagaimana tidak? Dia harus mengurus butik, EO yang dia dirikan dengan usahanya sendiri, lalu sekarang pabrik tekstile. Rara tidak bekerja di AZ group, tapi dia menjalin kerja sama dengan perusahaan itu.


Alvin sendiri yang akan merekomendasikan EO dan butik Rara pada rekan-rekan bisnisnya yang akan mengadakan pesta. Entah itu pesta ulang tahun, pertunangan, pernikahan atau pun pesta perusahaan.


Yang paling khawatir sekarang adalah mamanya.

__ADS_1


“Jangan sampai kelelahan, Ra!”


“Jangan khawatir, Ma. Rara dibantu sama Alvin, Rivan dan yang lain, kok. Pokoknya mama tinggal duduk santai saja di rumah. Saatnya Rara yang bekerja dan membahagiakan mama.”


“Mama akan bahagia kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak.”


Kok jadi itu?


“Rara pergi dulu ya, ma.”


Rara mengecup kedua pipi mamanya. Kabur, sebelum pembicaraan lebih berkembang.


...🌼🌼🌼


...


Pria itu lagi! Pria yang beberapa waktu lalu menemui Rara dan menerornya. Wajahnya terlihat lelah. Entah kenapa ada perasaan sedikit iba dari Rara untuk pria itu. Sedikit, hanya sedikit.


“Bisa kita bicara sebentar?”


Pria itu tampak memohon. Rara mengangguk. Pria itu mengulas senyum saat Rara menyetujui keinginannya. Mereka menuju cafe yang cukup ramai.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik!”


“Bagaimana pekerjaanmu?”


“Baik!”

__ADS_1


“Maafkan saya yang baru menemui kamu sekarang. Beberapa waktu yang lalu saya harus ke Jepang dan baru tiba di Jakarta tadi malam.”


Apa urusanku?


“Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda!”


Pria itu tersenyum miris.


“Saya tahu kamu pasti sudah melupakan saya. Bukan salahmu, tapi saya yang salah. Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin bertemu denganmu.”


Pria itu terdiam sesaat.


“Oya, ini saya bawakan cokkat untuk kamu. Kamu masih suka coklat, kan?”


Rara menerima coklat itu dengan ragu-ragu. Miuman datang, Rara langsung menyeruput lemon teanya dengan cepat. Sedangkan pria di hadapannya meminum kopi.


Tidak ada pembicaraan. Hening!


Tanpa sadar Rara membuka satu bungkus coklat yang ada di dalam paper bag tersebut dan memakannya. Rasa coklat yang pekat dan lumer di mulut membuat Rara ketagihan dan langsung menghabiskan satu bungkus coklat itu dengan cepat.


Lagi-lagi pria itu tersenyum senang, bahagia karena gadis di hadapannya mau memakan coklat pemberiannya.


“Anda mengenal saya dari mana?”


“Tidak dari mana-mana.”


“Maksudnya? Apa Anda mengenal mama saya?”


“Tentu saja saya mengenal mama kamu, Sayang. Karena saya adalah ayah kamu.”

__ADS_1


__ADS_2