
"Rara!"
Rara menoleh saat namanya dipanggil. Pria tua yang saat itu pernah menemuinya, kini menampakkan dirinya kembali. Rara pikir pria itu tidak pernah muncul lagi.
"Jangan pergi, bisakah kita bicara berdua saja?"
Rara bisa melihat kesedihan dari pria itu, yang membuat dirinya sendiri merasa tidak nyaman, tapi kakinya melangkah mengikuti pria itu, masuk ke dalam kafe di mall itu.
"Ayah sangat merindukan kamu, Sayang."
Kata-kata yang membuat hati Rara bergejolak. Kedua kaki dan tangannya gemetaran. Dia ingin pergi, tapi tubuhnya terasa berat.
"Bagaimana kabar kaju, Sayang? Apa kau tidak pernah merindukan ayah selama ini?"
"Aku ... tidak punya ayah!"
Pria itu langsung tersentak. Begitu sakit mendengar saat anaknya sendiri mengatakan di hadapannya, kalau dia tidak punya ayah.
"Aku tidak punya ayah," ucap Rara lagi, dengan pelan.
__ADS_1
Rara sendiri tidak pernah mengingat siapa ayahnya, dan di mana atau ke mana ayahnya berada.
Rara meremas tangannya, menggigit bibir dan menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah. Matanya melirik kiri kanan, dengan wajah yang pucat dan keringat dingin.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Pria yang sampai sekarang Rara tidak tahu siapa namanya itu, memegang tangan Rara. Rara langsung menarik tangannya dari pegangan orang itu.
Matanya melirik pria yang ada di hadapannya, wajah yang terlihat lelah dan menyimpan banyak beban. Semua itu tiba-tiba saja membuat dia teringat akan mamanya. Ada kalanya, Rara diam-diam memperhatikan mamanya yang juga terlihat lelah, namun berusaha dia tutupin dari Rara.
Makan dan minuman yang dipesan telah datang.
Pria itu meminum kopi hitamnya, lalu kembali melihat wajah cantik anaknya.
"Ayah senang melihat kesuksesan kamu sekarang, dan sangat bangga."
Pria Itu menarik dompet dari kantong celananya, dan mengeluarkan sesuatu yang Rara pikir itu adalah foto berukuran kecil.
"Ini kamu dan ayah saat kamu masih kecil dulu."
Rara melihat foto seorang bayi perempuan yang sangat lucu. Pipi gembul dengan kulit yang putih bersih. Matanya hitam bulat, dan bibir merah.
__ADS_1
Pria yang menggendongnya itu terlihat masih sangat muda, dan begitu tampan.
Semua ini membuat Rara bertanya-tanya dalam hatinya, kalau memang dia masih memiliki seorang ayah, kenapa mamanya tidak pernah bercerita padanya?
Apa mereka telah bercerai?
Rara menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir begitu saja.
Satu hal yang dia pikirkan ....
Pasti pria di hadapannya ini telah menyakiti hati mamanya. Dia meninggalkan mamanya dan dirinya begitu saja. Membuat Rara dan mamanya hidup berdua saja, berjuang bersama tanpa sosok laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung bagi mereka berdua.
Rara merasa sakit hati!
"Anda bukan ayah saya. Jangan panggil saya anak!"
Rara sudah mengambil keputusan, dia tidak akan mempercayai pria itu. Lagi pula dia tidak yakin kalau bayi perempuan di foto itu adalah dirinya. Dia sendiri saja tidak tahu bagaimana wajahnya saat dia masih bayi.
"Bagaimana caranya agar kamu mau percaya, Sayang? Apa kamu mau kita melakukan tes DNA?"
__ADS_1
"Anda tidak berhak melakukan tes apa pun padaku. Yang berhak atas aku hanya mamaku. Mama yang membesarkan aku seorang diri. Yang menjaga dan menyayangi aku, bukan Anda atau pria lain yang tiba-tiba saja mengaku sebagai ayahku!"
Pria itu menunduk, semakin yakin aku semua ini tidak akan mudah.