
Rara semakin menyibukkan diri untuk melupakan permasalahannya. Mengurus butik, EO dan pabrik bukan lah hal yang mudah, namun dia menikmatinya.
“Jadi kamu sudah bersahabat dengan Rivan sejak kapan?”
“Dari masih bayi. Kalau Tony dan Karina sejak masuk SMP. Sedangkan Tia dari SMA tapi tidak satu sekolah sama dia.”
“Owh, berarti seperti aku dan Bryan.”
“Kalian sudah lama berteman?”
“Sama seperti kamu dan Rivan.”
Rara mengangguk mengerti. Saat ini mereka ada di sebuah restoran untuk makan malam. Akhir-akhir ini mereka memang sering bersama, akibat dari pendirian pabrik tersebut.
“Kamu tidak berniat membuka bisnis baru?”
“Aduh, enggak dulu dah, Vin. Tiga saja aku sudah kliyengan, gimana mau nambah!”
Alvin tertawa renyah.
“Kamu hebat ya, masih muda tapi sudah punya banyak usaha yang ada di mana-mana.”
“Enggak semuanya, Nay. Sebagian dari ayah aku, aku hanya meneruskannya saja. Sebagian lagi aku sendiri yang memulainya dari nol.”
“Ya tetap hebat lah, Vin! Yang punya kamu sendiri yang mana?”
“AZ Group semuanya punya aku.”
Rara tersedak salivanya sendiri.
Ini orang mau merendah atau pamer sih, sebenarnya?
“AZ Group punya kamu sendiri? Gimana kalau ditambah yang dari ayah kamu, ya? Enggak kebayang aku gimana kayanya, kamu!”
“Ya enggak usah dibayangin, Nay!”
“Terus kenapa AZ namanya?”
__ADS_1
“Alvin Zion, namaku. Aku sengaja tidak menggunakan nama keluarga. Tidak banyak juga yang tahu aku pemiliknya, aku tidak suka di ekspose!”
“Takut dikejar-kejar cewek matre ya, takut dijodoh-jodohin juga?”
Rara tertawa, begitu juga dengan Alvin.
“Seperti yang sering aku bilang Nay, dunia bisnis itu kejam. Teman, lawan, atau pun keluarga, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya. Aku sudah pernah mengalaminya.”
Pandangan Alvin tampak meredup, seperti orang yang kembali merasa kecewa teramat dalam akan sesuatu.
“Kamu punya saudara?”
“Aku anak satu-satunya.”
“Sama seperti aku ya, Vin.”
Setelah selesai makan dan mengobrol, mereka lalu pulang.
“Oya, tiga hari lagi Lyan, Emma, Jasmine dan Leo mau ke Jakarta. Kamu mau bertemu dengan mereka?”
“Beneran?” Alvin mengangguk.
Tanpa terasa mereka sudah tiba di depan rumah Rara. Mama menyambut mereka dengan senyuman.
“Minum teh dulu?” tanya mama pada Alvin.
“Tidak usah repot-repot, Tante. Saya pamit dulu.”
“Panggil mama saja, sama seperti yang lain.”
“Iya, Ma.” Alvin nampak canggung namun merasa senang.
“Oya, besok pagi kalau tidak sibuk kamu ke rumah ya, Alvin.”
Mama juga memanggil Alvin dengan namanya saja, tanpa embel-embel pak, biar merasa tidak dibeda-bedakan juga dengan yang lain meski status Alvin adalah pengusaha besar dan mantan bos Rara.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
Hari Minggu, hari bermalas-malasan. Tapi tidak di kediaman Rara. Kerusuhan akan selalu terjadi di rumah itu sejak pagi hari. Siapa lagi pelakunya kalau bukan para sahabat pembuat onar.
Kesibukan pertama terjadi di dapur. Membuat sarapan seperti orang yang mau hajatan.
Kesibukan para orang tua dari sahabat-sahabat Rara itu membuat mereka lebih menganggap rumah Rara seperti rumah mereka sendiri. Orang tua mereka lebih sibuk bekerja, bahkan di hari libur. Apalagi bagi Rivan, yang orang tuanya memang tinggal di luar negeri.
Mama akan dengan senang hati memasakan makanan kesukaan muda-mudi itu.
Suara deru mobil berhenti di depan rumah Rara. Rara keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Alvin beneran datang atas ajakan mamanya kemarin. Dia menyerahkan kue dan buah-buahan pada Rara.
Karina yang melihat Alvin langsung merasa senang.
“Bryan enggak datang?” tanya Karina.
“Hmmm ....”
“Suruh Bryan datang saja, kalau enggak sibuk,” ucap Rara pada Alvin.
Alvin langsung menghubungi Bryan dan menyuruhnya untuk segera datang.
Tiga puluh menit kemudian Bryan datang, dia juga membawakan makanan dan minuman.
“Alvin dan Bryan makanan kesukaannya apa? Kapan-kapan mama buatin.”
Alvin dan Bryan saling memandang.
“Ikan asin kayaknya, Ma!”
“Rara.”
“Hahaha ... beneran, Ma. Waktu di London mereka pernah sarapan pakai ikan asin, sambel terasi, lalapan dan kerupuk di apartemen aku.”
“Beneran?” tanya Karina. Alvin dan Bryan mengangguk.
“Wah, bule rasa lokal.”
“Ayo makan, masakannya sudah jadi.”
__ADS_1
Di atas meja makan sudah ada nasi kuning, rendang, ayam bakar, lalapan, telur balado, sambal, kerupuk, ikan bakar.
Sarapannya saja sudah seperti ini, apalagi makan siang dan makan malam?