Destination

Destination
33 Pasangan Untuk Mama


__ADS_3

Rara dan Rivan berbaring di atas karpet buku yang sangat tebal di dalam ruangan Rara. Mereka sangat lelah setelah membereskan dekorasi butik ini.


Rivan segera mengirimkan pesan kepada Tony, meminta dibelikan es campur dan makanan. Pria itu memainkan matanya, dan tanpa terasa jatuh tertidur.


Begitu juga dengan Rara yang ada di sebelahnya, gadis itu sudah sangat lelah dan ikut tidur.


Pintu ruangan Rara terbuka, Alvin terpaku melihat Rara dan Rivan tidur bersebelahan di atas karpet.


"Elah, malah tidur mereka!"


Alvin menoleh dan melihat ada Tony, Karina dan Tia.


Mereka bertiga terlihat cuek saja melihat Rara dan Rivan seperti itu, seolah hal itu Sidah biasa bagi mereka.


"Ngapain berdiri di depan pintu, ayo masuk!" ucap Tia pada Alvin.


Tony lalu mengguncang tubuh Rivan, membangunkan pria itu.


Rivan bangun dan mengucek matanya. Dia menguap, melihat ke samping, masih ada Rara yang tidur. Pria itu kembali merebahkan dirinya dan memejamkan mata.


"Ck!" Tony terlihat kesal.


Apa dia disuruh datang ke sini hanya untuk melihat Rara dan Rivan tidur?


"Baginya, woy!" teriak Tony.


Rara dan Rivan jadi gelagapan, wajah mereka terlihat sangat lucu.

__ADS_1


"Apaan, sih? Ganggu, deh!"


"Nih, makanan dan minuman untuk kalian."


Baru pertama kali ini Alvin melihat wajah bantal Rara. Gadis itu tetap terlihat cantik meski penampilannya berantakan.


Karina melihat Alvin yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya ke arah Rara.


Apa dia menyukai Rara?


Karina menghela nafas. Bukannya dia tidak suka jika Alvin menyukai Rara, tapi dia hanya khawatir dengan sahabatnya itu. Status sosial mereka berbeda, dia takut Rara akan kecewa.


Berbeda lagi dengan Tia. Dia terus saja melihat Rivan. Ada rasa cemburu di hatinya. Dia ingin bisa sedekat itu dengan Rivan. Memang, Rara dan Rivan sudah saling mengenal sejak kecil, tapi bisakah dia yang lebih dekat dengan pria itu?


"Van, ini aku bawakan makanan kesukaan kamu," ucap Tia.


Rara dan Rivan bergantian ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ruangan kerja Rara juga sekarang sudah berubah. Lebih bagus, tentu saja.


Karina duduk selonjoran, memakan rujak yang tadi dia bawa.


"Pedas!" keluhnya.


"Nih, bibir aku manis, biar ada penawarnya," ucap Tony.


"Cih! Pahit begitu dibilang manis."


"Memangnya kamu sudah pernah merasakan bibir Tony, Kar?" tanya Rara.

__ADS_1


Karina tersedak rujak itu, matanya berair dan hidungnya sangat sakit. Mereka tertawa, kecuali Alvin yang selalu berwajah datar.


"Impossible!"


Tony berdecak, dia malah semakin menggoda sahabatnya itu. Bersama sahabat memang saat yang paling menyenangkan untuk menghilangkan jenuh dengan pekerjaan. Nanti, jika sudah saatnya mereka berkeluarga, belum tentu hal ini bisa terjadi lagi. Pasti mereka akan sibuk dengan rumah tangga masing-masing.


"Oya, bagaimana perkembangan butik?" tanya Alvin.


"So far so good."


"Penjualan meningkat, khususnya gaun pesta. Mereka suka dengan rancangan yang aku buat. Tapi aku harus lebih banyak belajar dari mama lagi."


Designer idola Rara memang mamanya. Mamanya menjadi panutan untuk dia, bukan hanya sebagai designer, tapi dalam segala hal.


Pintar memasak


Merawat diri


Merancang


Dan yang paling penting membesarkan Rara tanpa kekurangan. Entah apa jadinya Rara tanpa mamanya. Sejauh ini, Rara belum pernah mendengar mamanya mengeluh. Mama selalu terlihat, kecuali saat Rara sakit.


Rara berpikir, kenapa perempuan sempurna seperti mamanya bisa hidup sendiri?


Maksudnya, kenapa mamanya tidak menikah?


"Aw!" ringis Rara, merasakan sakit di kepalanya. Lagi, berpikir tentang pasangan untuk mamanya, membuat kepala Rara berdenyut.

__ADS_1


__ADS_2