Destination

Destination
6 Makan Siang


__ADS_3

“Halo Ra, nanti makan siang sama-sama, ya?” ucap Rivan melalui sambungan telepon.


“Makan siang di restoran hotel saja, ya?”


“Ya sudah.”


“Yang lain juga ikut?”


“Mama ada di apartemen. Yang lain lagi jalan-jalan. Nanti kalau sempat mereka nyusul.”


“Ya sudah, nanti kamu langsung saja ke restoran. Setelah jam makan siang aku juga langsung turun.”


“Oke!” Rara menutup sambungan telepon itu.


“Siapa Ra? Kok senyum-senyum begitu?”


“Rivan. Sahabat aku dari Indonesia.”


“Sahabat atau pacar?”


“Sahabat lah.”


Jasmine hanya tersenyum mendengar perkataan Rara. Jasmine berpikir mungkin saja di negara asalnya, Rara sudah memiliki seorang kekasih. Ya, asal tidak diselingkuhi saja, karena biasanya hubungan jarak jauh itu membuka peluang besar untuk perselingkuhan. Siapa sih yang bisa menahan rindu dalam jangka waktu yang lama? Orang baru akan hadir sebagai penghibur diri, lalu, keterusah, deh!


“Nanti mau makan siang sama-sama? Aku dan Rivan mau makan siang di restoran hotel.”


“Aku nanti ada janji sama orang.”


“Owh, ya sudah.”


Tanpa terasa jam istirahat telah datang. Rara segera merapihkan barang-barangnya dan bergegas menuju restoran.


Rivan tersenyum dan melambaikan tangannya saat melihat kehadiran Rara.


“Aku sudah pesan makanan buat kamu.”


“Thanks.”

__ADS_1


“No problem, Honey!”


“Dih, jijik!”


“Duh ... lucu banget sih mukanya.”


Rivan mencubit dengan gemas kedua pipi Rara.


“Rivan, stop it!” Rara mengusap-usap pipinya yang dicubit oleh Rivan.


“Hahaha.”


Suara tawa Rivan membahana di restoran dan menyebabkan orang-orang melihat ke arah mereka.


“Mama kenapa enggak ikut, Van?”


“Tadi sudah aku ajakin, tapi kata mama, mama mau ketemu sama temannya.”


“Memangnya mama punya teman?”


“Wah parah, mama sendiri dikatain. Ya pasti punyalah, masa iya enggak punya teman. Ck, anak durhaka.”


“Ya mungkin lagi liburan kali, Ra. Atau mungkin punya, tapi memang belum bertemu dengan kamu. Sudahlah, mama kan juga butuh hiburan. Biar gak pusing ngurusin butik terus.”


“Iya sih.”


“Jangan mikir mama seperti anak kecil, yang bakalan nyasar di negara orang!”


“Dih songong. Mana mungkinlah mama nyasar. Norak bangat, deh!”


“Hahaha!”


Sekali lagi suara tawa Rivan mengundang perhatian para pengunjung restoran.


Makanan yang dipesan telah tiba. Makanan kesukaan Rara dan Rivan yang telah memenuhi meja itu sangat menggugah selera, membuat mereka ingin segera melahapnya.


“Woi, enggak nungguin kita ya, kalian!”

__ADS_1


Tony, Karina dan Tia telah berdiri di hadapan Rara dan Rivan.


“Kirain, kalian tidak datang.”


“Kami kan mau cuci mata, Ra.”


Mata Karina dan Tia mulai jelalatan, begitu juga dengan Tony. Hanya Rivan yang terlihat masih anteng.


“Van, itu cewek seksi bangat, deh.”


Rivan melihat arah pandangan Rara.


“Enggak sumpek apa, ya? Pakai baju kok kesempitan begitu. Begah aku, lihatnya.”


“Ya elah Van, namanya juga di negara barat,” kata Tony.


Rivan langsung melihat Rara.


“Kamu selama di sini juga suka pakai baju seperti itu, Ra?”


“Enggak lah. Memangnya mau apa coba? Aku kan di sini sibuk kerja dan kuliah. Jalan-jalan juga jarang, paling yang dekat-dekat saja buat nikmati makanan.”


“Enggak bosan, Ra?”


“Ya bosan juga, sih. Tapi mau gimana lagi, tugas-tugas aku banyak bangat. Pekerjaan juga menumpuk, aku jadi sering lembur.”


“Kamu sering lembur?”


“Iya. Tapi jangan bilang-bilang mama, ya. Aku tidak mau mama jadi khawatir. Aku harus menjaga nilai-nilaiku tetap tinggi dan bekerja semaksimal mungkin. Perusahaan ini kan sudah kasih aku beasiswa dan bekerja di sini. Jadi ya aku harus berterima kasih lah dengan cara giat belajar dan bekerja. Kalau sudah lulus dan punya pengalaman kan, aku bisa mengembangkan bisnis aku dan mengembangkan butik mama.”


Mereka hanya mengangguk-ngangguk. Memang bekerja di sini bisa menjadi batu loncatan untuk gadis itu. Semua memang sudah Rara pikirkan dengan matang. Itulah sebabnya dia rela meninggalkan sejenak mama, sahabat, dan negaranya.


Makanan yang dipesan oleh Tony, Karina dan Tia sudah datang. Kami mulai makan sambil mengobrol.


“Ra, coba deh makanan ini!”


Rivan menyuapi Rara. Akhirnya mereka saling suap-suapan. Hal yang biasa mereka lakukan. Lagi-lagi, Rara dan Rivan tidak menyadari tatapan yang memandang mereka tidak suka.

__ADS_1


Aku akan merebutmu. Menjadikanmu milikku dan hanya ada aku untukmu. Bukan dia! Entah apa pun hubungan kalian!


__ADS_2