Destination

Destination
46 Ajakan Makan Siang


__ADS_3

"Rara, setiap orang pasti punya kesalahan, tapi mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua. Bukannya papa mau membela diri. Papa juga sangat sadar akan kesalahan papa, dan ingin memperbaiki semuanya. Tolong berikan papa kesempatan."


Rara diam, dia memang tidak ingat dengan papanya, kenapa?


"Kenapa tidak pernah mengunjungi aku selama ini? Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah mengingat sosok papa sedikit pun. Aku sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang papa. Bahkan saat papa datang ke hadapan aku dan mengatakan kalau papa adalah papaku, aku baru berpikir, kenapa aku selama ini tidak pernah berpikir kalau sebenarnya aku punya papa, bukan anak yang tiba-tiba ada begitu saja.


Saat orang lain menceritakan tentang papa mereka, aku tidak merasakan apa-apa. Tidak merasa iri, atau bertanya pada mama ke mana papaku? Apa aku punya papa atau tidak. Aku merasa ... seorang papa itu memang tidak ada dalam hidupku.


Memang itulah yang Rara alami selama ini. Itu juga sebabnya dia bertanya pada Riva, memangnya dia punya papa?


Di lain tempat


Mamanya Rara merasa sangat cemas, tidak tahu apa alasannya. Dia hanya terus teringat dengan anaknya. Mama membuka laci di sebelah tempat tidurnya. Melihat liontin yang sudah sangat lama tidak doa gunakan.

__ADS_1


Liontin itu akan dia berikan saat Rara menikah nanti. Banyak kotak perhiasan di dalam lemari mama. Semua itu akan dia wariskan untuk anak semata wayangnya. Perhiasan turun temurun yang tentu saja sangat berharga.


Mirna menghela nafas. Satu keinginan terbesarnya belum tercapai, yaitu melihat Rara menikah dan memiliki anak. Dia sudah sangat ingin menimang cucu, juga memastikan kalau anaknya telah memiliki pendamping hidup yang baik.


Setia orang tua pasti menginginkan yang terbaik dalam hidup anaknya. Dia berharap anaknya itu tidak salah memilih pasangan.


Sementara itu, Alvin sedang memimpin rapat. Produk terbaru yang dikeluarkan oleh perusahaannya lahir manis. Banyak permintaan dari para konsumen, yang menandakan kalau produknya bisa langsung diterima oleh masyarakat.


"Alvin, aku datang." Suara manja itu membuat Alvin kesal. Tidak perlu menoleh, dia sudah sangat tahu siapa yang datang.


"Alvin, kamu sibuk?" Satu suara lagi yang Alvin juga sangat kenal, yaitu mamanya. Pria itu menghela nafas.


"Mau apa mama dan dia ke sini."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak senang begitu mama dan Nisya ke sini? Apa kamu tidak bisa bersikap lebih baik ke mama?"


Alvin memandang wajah mamanya. Wajah yang masih terlihat cantik meski usianya sudah tidak muda lagi. Melihat mamanya, dia jadi teringat dengan mamanya Rara, yang juga terlihat masih sangat cantik.


"Kenapa melihat mama seperti itu?"


"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong aku sibuk. Kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, tidak perlu datang ke sini."


Kaki ini mamanya yang menghela nafas berat. Calvin memang selalu bersikap dingin sejak kecil. Entah apa yang bisa mencairkan hari sedingin es ini.


"Ayo kita makan siang bersama. Jangan menolak, karena mama tidak menerima penolakan saat ini."


Alvin mengalah pada akhirnya, tapi dia menepis tangan Nisya yang ingin merangkul manja pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2