Destination

Destination
47 Cinta Yang Diuji


__ADS_3

Tidak pernah terpikirkan dalam hidup Rara, kalau seseorang dari masa lalunya akan kembali hadir, apalagi orang yang tidak pernah dia sangka sebelumnya, yang tidak pernah ada dalam pikirannya sedikit pun.


Apa dia harus merasa senang?


Tidak, yang dia rasakan justru kecewa. Kecewa pada sesuatu yang sama sekali tidak dia ingat. Rara berpikir bagaimana kalau dia yang menjadi mamanya, ditinggalkan begitu saja dengan seorang anak perempuan yang masih sangat kecil oleh suaminya sendiri. Sakit, pasti sakit rasanya. Juga pasti ada rasa benci dan dendam.


Rara semakin sadar kalau mamanya seorang perempuan yang kuat, ibu yang sangat baik dan dia juga semakin bangga memiliki mama seperti mamanya.


Rara menatap minuman yang ada di hadapannya, yang sampai sekarang masih utuh tak tersentuh.


Satu pikiran buruk tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran dia.


"Aku ... aku bukan anak hasil di luar pernikahan, kan?" Papanya langsung kaget mendengar pertanyaan dari anaknya itu.


"Tentu saja bukan, Sayang. Papa dan mama kamu menikah secara resmi, baik hukum dan agama." Rara menatap mata pria itu, mencari kebohongan di matanya.


Jujur, itulah yang Rara rasakan. Dia jadi sedikit bisa bernafas lega. Pikiran lain muncul lagi, mungkin kali ini lebih masuk akal.


"Apa kalian menikah karena terpaksa? Apa karena dijodohkan?"

__ADS_1


Pria itu tidak langsung menjawab, dan itu membuat Rara langsung menarik kesimpulan sendiri. Pikiran buruk tentang pria yang ada di hadapannya ini semakin meningkat.


"Berarti aku bukan anak yang papa harapkan, kan? Itu sebabnya papa pergi meninggalkan aku dan mamaku? Siapa perempuan itu? Perempuan yang papa cintai dan membuat papa meninggalkan aku dan mamaku. Pasti Papa juga saat ini telah memiliki anak dari perempuan itu, kan? Berapa banyak? Pasti laki-laki, kan? Papa tidak pernah menyayangi aku karena aku anak perempuan, kan?"


Air mata itu akhirnya menetes juga. Satu kesimpulan menarik kesimpulan lainnya. Satu prasangka menghasilkan prasangka lainnya.


Hari Darian terluka melihat anaknya menangis.


"Ra, dengarkan dulu penjelasan papa."


"Cukup! Seharusnya aku tidak pernah memanggil Anda dengan sebutan Papa. Kata-kata itu hanya pantas untuk seorang pria yang memang layak menjadi papaku, menjadi suami dari mamaku, dsn itu memang bukan Anda, Tuan."


Patah hati itu bukan hanya dirasakan saat mendapat penolakan dari orang yang dicintai antara laki-laki dan perempuan saja. Tapi inilah patah hati yang sesungguhnya, yang Darian rasakan.


Patah sepatah patahnya.


Wajah Rara semakin sendu, merasa remuk karena pria yang seharusnya menjadi cinta pertamanya ini.


Rara mengatur nafasnya, menghembusnya perlahan melalui mulutnya. Ini bagai mimpi buruk baginya. Ternyata selama ini dia menjadi anak broken home tanpa dia sadari.

__ADS_1


"Pantas saja selama ini mama tidak pernah menceritakan apa pun tentang Anda. Kalau aku menjadi mama, aku juga pasti melakukan hal yang sama, tidak ingin membuat hati anakku terluka karena penolakan dari papa kandungnya sendiri. Anak mana yang tidak akan terluka saat tahu papanya pergi meninggalkannya karena perempuan lain, pada saat dia masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya."


Rara kembali meremas tangannya. Minuman di hadapannya kini tidak lagi dingin.


"Aku ... jangan temui aku dan menyakiti hati mamaku lagi." Rara lalu beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Darian yang kini merasa sangat hampa.


Tujuan dia untuk mendapatkan kasih sayang dan maaf dari anaknya terenggut begitu saja. Panggilan papa itu hanya untuk sementara, kembali dirampas oleh pemberi keteduhan di mata anak itu.


Cintanya pada anak itu memang harus diuji, tidak hanya cinta antara laki-laki dan perempuan saja yang harus diuji. Dia yang dulu meninggalkan, dan kini dia juga yang akan meraihnya kembali, apa pun rintangannya.


Papa akan berusaha mendapatkan cinta dan kasih sayang kamu, Rara. Juga mama kamu ....


...🥀TAMAT🥀...


Ceritanya memang sampai di sini, seorang ayah yang mendapatkan penolakan dari anaknya sendiri. Mencoba meminta maaf meski dia tahu sangat sulit. Hadir kembali di saat anak sudah dewasa, bukan hal yang mudah pastinya mendapatkan maaf itu🥺


Sekian ya, baca juga ceritaku yang lain. Follow aku ya, follow juga:


Ig-ku @roze.greentea

__ADS_1


FB: Roze


__ADS_2