Destination

Destination
36 2 M?


__ADS_3

Rara menunjukkan beberapa hasil rancangannya pada seorang perempuan.


"Dih, aku jadi bingung harus memilih yang mana?"


"Bagaimana kalau yang berwarna hitam saja?" Rara memberikan saran perempuan itu. Kulitnya yang putih sebenarnya cocok memakai pakaian berwarna apa saja.


"Baiklah, aku pilih yang hitam saja." Perempuan itu akhirnya mengikuti saran dari Rara.


...🌼🌼🌼...


Alvin segera mengemudikan mobilnya menuju butik Rara. Dia baru saja keluar dari bandara, dan ingin menemui gadis itu. Entahlah, sepertinya Alvin sangat merindukan gadis itu. Gadis yang tidak pernah bersikap berpura-pura dan apa adanya. Saat bekerja di perusahaannya dulu, Rara memperlakukannya sebagai atasan, dan saat dia sudah tidak bekerja dengannya lagi, Rara bersikap layaknya teman, tanpa memandang status. Begitu juga dengan teman-teman Rara, mereka juga biasa saja kepadanya, tidak bersikap canggung.


Apalagi mamanya Rara, yang bersikap seperti ibunya. Mengingat tentang ibu, dia mendengus. Ibu kandungnya sendiri tidak sedekat itu dengannya. Hubungan Alvin dengan mamanya memang tidak dekat, apalagi Alvin memutusakan. untuk tinggal sendiri. Sibuk bekerja mengembangkan perusahaan dan membuat perusahaan sendiri.


Yang membuat Alvin semakin kesal lagi, mamanya terus saja berusaha mendekatkan dia dengan Nisya. Gadis cerewet dan centil. Sok cantik padahal enggak cantik-cantik amat!


Cantikan juga Rara!


Mengingat Nisya membuat Alvin kesal. Gadis itu terus saja mengikuti dirinya, membuat dia kesal.


Alvin membeli beberapa jenis buah dan es krim untuk gadis itu. Penjual buah terpana melihat sosok Avin yang sangat tampan. Rahang tegas dengan lengan yang kekar walau tertutup dengan jasnya.

__ADS_1


Alvin membeli jeruk, anggur dan apel. Pria itu meminta untuk dibuatkan dalam bentuk parcel, mungkin agar terlihat lebih bagus.


Pria itu kemudian membeli es krim. Agak banyak, karena dia pikir sahabat-sahabatnya Rara itu suka datang ke butik Rara.


Para penjaga butik yang sudah cukup sering melihat Alvin, mempersilahkan pria itu untuk langsung ke dalam ruangan Rara. Alvin membuka pintu ruangan Rara setelah dipersilahkan masuk.


Alvin langsung memberikan oleh-oleh dari London, padahal gadis itu tidak pernah memintanya.


"Makasih, padahal kamu tidak perlu memberikan apa pun padaku. Bagaimana pekerjaan kamu?"


"Lancar. Aku ingin mengeluarkan produk terbaru, tapi pihak design belum memberikan rancangan mereka."


Rara.menikmari es krim itu, sementara es yang lain dia masukkan ke dalam kulkas pribadinya.


"Memang design untuk produk apa yang kamu inginkan?"


"Logo makanan kemasan."


Rara berpikir sejenak. Lalu mulai mengambil alat gambarnya.


"Bagaimana menurut kamu?"

__ADS_1


Mata Alvin terbuka lebar begitu melihat hasil rancangan Rara. Belum dia berkata apa-apa, pintu sudah terbuka dengan lebar. Tony yang melihat apa yang dipegang oleh Alvin, langsung bertanya, "Kamu mau membuat produk makanan, Ra?"


"Bukan, tapi Alvin."


Sahabat Rara yang lain tanpa permisi langsung mencoret-coret rancangan Rara itu, membuat Alvin ingin marah. Tapi begitu melihat kertas itu, dia menggelengkan kepalanya, rasa kesalnya langsung hilang.


"Berapa kamu menjual design ini? Dua milyar? Kemurahan, ya?"


"Apa?" Mata mereka terbelalak begitu mendengar apa yang Alvin katakan.


Rara lalu tertawa, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


.


.


.


Sepi amat sih ini, jadi enggak semangat🥺


Belum ada yang komen, atau kasih hadiah 🤭

__ADS_1


__ADS_2