Destination

Destination
30 Tante


__ADS_3

"Tuan, nona Rara mendirikan pabrik tekstil bersama sahabat-sahabatnya," ucap seorang pria berkaca mata kepada bosnya.


"Benarkah?"


"Benar, pabrik itu belum lama berjalan. Baru dua minggu."


"Lakukan kerja sama dengan perusahaan itu. Ingat, lakukan diam-diam. Bantu juga dia sembunyi-sembunyi."


"Baik, Tuan."


...🌼🌼🌼...


Rara bekerja dengan sungguh-sungguh. Karena bisa menentukan sendiri kualitas bahan kain yang akan digunakan untuk membuat gaun, Rara jadi tidak perlu cemas. Rara yang memang memiliki bakat merancang seperti mamanya, meskipun tidak mengambil jurusan design, mulai membaut karyanya sendiri, untuk menambah koleksi butik mama.


Ini memang hobi Rara, tadinya dia ragu apakah harus mengambil jurusan design atau bisnis saat akan kuliah, tapi setelah mendapat banyak masukan dari berbagai pihak dan dipertimbangkan baik-baik, akhirnya Rara mengambil jurusan bisnis, dan ternyata dia tidak salah pilih.


Jiwa bisnisnya mulai tumbuh, gadis itu malah sudah mulai mempertimbangkan untuk membuka beberapa usaha baru.


Hasil-hasil rancangannya dia simpan di dalam folder. Dia sendang berpikir, bagaimana dia mengembangkan butik mamanya ini agar semakin berkembang dan tidak kalah saing dengan butik lainnya.


[Datang ke butik sekarang, gak pake lama!]


Pesan itu langsung Rara kirimkan pada saja sahabat-sahabatnya di dalam grup chat. Tapi namanya juga orang sibuk, baru dua jam kemudian mereka datang, bersamaan dengan kan makan siang.


"Ada apaan sih, nyuruh orang datang kaya orang pengen malam pertama aja, alias gak sabar!"

__ADS_1


Mereka langsung menoyor Tony.


"Kamu itu yang kaya orang pengen malam pertama."


"Heleh, dia mah tiap hari juga malam pertama mulu, tapi ceweknya yang beda-beda!" sungut Karina.


"Cemburu ya? Mau aku malam pertamain juga?"


"Dasar kadal!"


"Ada apaan, Ra?" tanya Rivan.


"Nih pakai!"


Rara langsung memberikan dua kemeja beserta jasnya, dan dua gaun.


Belum apa-apa sudah dipertegas lebih dulu kalau mereka akan melakukan ini dengan cuma-cuma.


"Ayolah, kali saja ada bule yang lihat dan mau mempersunting aku jadi istrinya."


"Bule lagi, bule lagi."


"Biarin, yang penting happy!"


Kedua pria itu langsung berpose, sedangkan Rara memfoto mereka dengan kamera ponselnya. Ya, untuk saat ini dia pakai ponsel dulu, baru nanti mencari fotografer profesional.

__ADS_1


Tony bergaya ala casanova butuh belaian. Wajah tampannya dia tonjolkan, bukan jasnya.


"Niat gak sih, mau bantuin?"


"Iya, iya. Kan nanti kalau banyak cewek yang nyari aku, aku bakalan nunjukin kafe ini biar mereka mau beli gaun di sini. Dah pokoknya tenang, saja. Urusan kata gini serahkan ke Tony, pria tampan sejuta pesona."


"Ya sudah, kalau nanti kamu dapat nomor cewek, aku minta bagian, ya!" tegas Rara.


Tony diam, sedang berpikir. Seperti ada yang aneh.


"Kok aku merasa kaya lagi di lelang, ya? Kaya lagi dipromosikan oleh tante-tante girang ke playgirl." Tony mengetuk jarinya ke dagu, sedangkan mereka menahan tawa.


"Penampilan kamu dah keren banget. Mami pasti dapat untung yang banyak dari kamu," ucap Rara seraya menepuk jas yang digunakan Tony.


"Anjir, geli woyyy!"


Hahahaha


Tony jadi merinding, menyimpangkan tangannya di depan dada.


"Dih, cowok kaya kamu bisa geli juga?"


"Jangan tante, aku masih perjaka."


Rivan langsung melempar kertas ke wajah Tony.

__ADS_1


"Kamu bukannya terlihat takut, malah pengen!"


Rara, Karina dan Tia sudah tidak bisa lagi menahan tawa.


__ADS_2