
"Mama?"
"Kamu sedang apa di sini, Al?"
"Menjenguk teman."
Mamanya melihat buket buah dan bunga yang ada dalam genggaman Alvin.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Bukan urusan mama."
"Bersikaplah sopan pada mama, Al."
"Aku pergi dulu, dan jangan mengikuti aku."
Amelia menghela nafas, sudah bertahun-tahun tapi sikap Alvin masih saja sama terhadapnya.
Alvin tiba di depan ruang perawatan Rara. Dia mengetuk pintu itu, lalu membukanya. Di dalam sana hanya ada mama, Rara sedang tidur sedangkan yang lain sudah pergi bekerja.
__ADS_1
"Loh, kamu datang, Vin?"
"Iya."
"Ayo duduk."
Mama membuatkan teh hangat untuk Alvin. Alvin meletakkan buah dan bunga di atas nakas. Mereka mengobrol cukup seru. Vin seperti mengobrol dengan mamanya sendiri. Dia cukup iri dengan Rara dan sahabat-sahabatnya, yang bisa memiliki mama seperti ini, bahkan bisa mencurahkan isi hati mereka kapan saja.
Beda sekali dengan mamaku.
...🌼🌼🌼...
Rara lalu mulai merancang baju-baju untuk butiknya. Selama dia hari ini dia sama sekali tidak boleh mendesign, padahal Rara merasa kondisi dia sudah baik-baik saja.
Di dapur, mama membuatkan Rara makanan. Mama juga membuatkan jus berbagai buah. Nanti sore sahabat-sahabat anaknya itu akan datang dan menginap. Mama merasa senang akan kehadiran mereka, rumah menjadi ramai dan dia akan terhibur dengan celotehan anak muda itu.
Kalau saja dia punya anak kandung yang banyak, kasti akan lebih menyenangkan lagi. Tapi kenyataan memang tak selalu seperti yang diinginkan.
Dulu, dia memang menginginkan punya banyak anak, laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Semoga saja Rara nanti memberikan aku banyak cucu. Kapan anak itu akan menikah? Kalau dia sudah menikah, hidupku akan lebih tenang.
Semoga saja anakku selalu berbahagia. Hanya dia penyemangat hidupku, karena Rara akan menjadi kuat dan tetap bertahan hingga saat ini.
Mama juga tidak lupa membuatkan mereka kue-kue yang enak. Ini adalah kegiatan favoritnya.
Di luar, kembali ada mobil asing yang terus terparkir beberapa meter dari sana. Di dalam mobil itu, seorang pria berkaca mata terus melihat ke arah rumah teduh itu. Berharap para penghuninya ada yang ke luar rumah.
Rasanya dia sudah tidak bisa membendung perasaan rindunya lagi. Ingin menerobos pintu rumah itu, memeluk para penghuninya dan mengucapkan kata maaf dan sayang berjuta kali.
Aku harus mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Rara. Aku ingin memperbaiki semuanya. Meski aku tahu sulit untuk melupakan semuanya.
Pria itu lalu melihat mobil Rivan yang datang, dan tidak lama kemudian ada satu mobil lagi. Turunlah Tony, Karina dan Tia. Mereka membawa beberapa bungkus tentengan.
Pria itu sudah tahu kalau mereka adalah sahabat-sahabat Rara sejak dulu. Dia merasa sangat bersyukur karena Rara memiliki sahabat yang baik, yang selalu menemaninya dalam suka dan duka, dan berharap tidak akan ada satu pun dari mereka yang mengkhianati Rara.
Wajah itu lalu terlihat sedih.
Masa lalu terus menghantuinya, menjadikan dia terus cemas dan sulit untuk tidur. Pikiran yang kusut dan hati yang tidak tenang sering membuat dia sakit.
__ADS_1
Dia menghela nafas berat, kembali memandangi rumah yang dia rindukan.