
Rara membongkar barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Di dalam kotak besar, ada beberapa album foto lama. Gadis itu lalu membukanya, dan melihat foto-foto saat dia masih kecil.
Foto pertama adalah ulang tahunnya yang keenam. Lalu ulang tahun selanjutnya hingga dia mencapai umur sepuluh tahun. Ada juga foto masa kecil dia bersama dengan Rivan.
Rara terhanyut akan kenangan masa kecil dalam bentuk foto itu. Semau kenanga itu sangat lengkap bagi Rara, Tidak ada yang terlewat sedikit pun. Bahkan foto saat dia pertama kali masuk sekolah bersama Rivan saja, ada.
"Sayangku, tetanggaku, minta makan dong!" teriak Rivan, si tetangga tak tahu malu.
Tidak mendapatkan sahutan dari Rara, Rivan segera menuju kamar gadis itu. Dia melihat pintu kamar Rara yang terbuka.
"Woy, orang minta makan malah dicuekin."
"Ambil sendiri sana di dapur."
"Lagi apa, sih?"
"Lagi lihat-lihat foto. Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Semua foto ini terasa lengkap. Dari usia aku enam tahun sampai besar, tapi kenapa tidak ada foto dari bayi sampai usia lima tahun?"
__ADS_1
"Ya mungkin hilang atau rusak gara-gara banjir."
"Memangnya di sini pernah kebanjiran?"
"Pernah kali waktu kita masih kecil."
Rara melihat Rivan yang terlihat santai saat menjawabnya.
"Ayo Ra, temani makan." Rara mendengus mendengar perkataan Rivan. Sudah minta makan, ngerepotin, lagi!
Mereka beroda akhirnya makan bersama. Mama hari ini membaut ayam goreng dengan sayur asam. Porsinya sangat banyak, karena untuk berjaga-jaga bila banyak tamu tidak diundang datang, contohnya saja Rivan.
Mama datang dari luar rumah, membawa banyak barang belanjaan.
"Beli bahan masak dan buah-buahan. Kamu makan yang banyak,Van."
"Iya, Ma." Mendengar perintah seperti itu, Rivan langsung nambah lagi.
"Kan anak berbakti, Ra. Harus nurut apa kata mama, jangan sampai durhaka."
Mama langsung terbahak mendengar perkataan Rivan. Mama mengusap rambut panjang anaknya itu. Rara dan Rivan sudah seperti kakak beradik yang saling menyayangi, meski mereka berbeda rahim.
__ADS_1
...🌼🌼🌼...
Rara membongkar barang-barang yang ada di dalam gudang. Ada satu kotak besar berwarna coklat tua yang menarik perhatiannya.
Begitu melihat apa isinya, perhatiannya langsung tertuju pada album foto yang selama ini belum pernah dia lihat. Dia mengusap album yang penuh debu itu. Matanya juga melihat baju-anak perempuan yang masih terlihat bagus. Dia mengibas baju itu, dan sedikit terbatuk.
Ada juga sepatu dan sendal anak kecil, yang sudah pasti milik anak perempuan juga. Rara lalu membuka album itu.
Deg
Baru sesaat melihatnya, dia langsung menutupnya kembali. Rara menggelengkan kepalanya.
Tidak! Ini tidak benar, aku pasti salah lihat.
Gadis itu buru-buru meninggalkan gudang dengan jantung yang berdetak kencang. Rara melihat ke sekelilingnya, setelah memastikan tidak ada mamanya, gadis itu langsung masuk ke kamarnya.
Kenapa aku malah bersikap seperti pencuri?
Rara kembali memegangi kepalanya yang sakit. Selaku seperti ini jika dia berusaha mengingat sesuatu.
Ponselnya berbunyi, ada kesan masuk dari seseorang yang mengaku sebagai papa itu.
__ADS_1
[Ra, bisa papa bertemu dengan kamu?]
Rara tidak langsung membalas, dia masih berpikir, apakah pria itu memang benar papanya? Bukan orang iseng yang hanya mengaku-ngaku dan berniat jahat padanya, kan?