Destination

Destination
11 Oleh-oleh


__ADS_3

“Ra, ada yang mencari kamu. Sekarang dia di loby.”


“Siapa?”


“Enggak tahu.”


“Ya sudah aku ke bawah dulu sebentar.”


Rara langsung menuju loby dan mendapatkan Rivan telah ada di hadapannya.


“Hai, My Sweety!”


“Rivannn ... kebiasaan deh, datang kok enggak bilang-bilang!"


Rivan hanya tersenyum, lalu memeluk Rara dan dibalas dengan pelukan juga oleh gadis itu.


“Aku bawa oleh-oleh nih, buat kamu.”


“Apa?”


Rara terdengar antusias dan membayangkan oleh-oleh apa yang dibawakan okeh Rivan dari Jakarta.


“Ada deh. Nantilah aku kasih tahu!”


“Kamu menginap di mana?”


“Di hotel tempat dulu kamu bekerja. Kamar nomor 707.”


“Ya sudah, nanti aku ke sana.”


Rivan mencubit gemas kedua pipi Rara bertepatan dengan Alvin dan Bryan datang.


“Selamat siang, Sir!” ucap Rara pada Alvin.


Alvin dan Rivan saling menatap dan tidak mengatakan apa-apa.


“Van, aku lanjut kerja lagi, ya. Bos aku galak!” bisik Rara.


“Oke. Semangat ya kerjanya, My Sweety!”


“Iya deh, My Little Honey Sweety!”


Rivan tertawa kecil, lalu melangkah pergi untuk kembali ke hotelnya.


Saat di dalam lift, Rivan mengirimi Rara pesan.


Rivan


[Ra, nanti kamu pulang jam berapa? Aku saja deh yang ke apartemen kamu, biar kamu tidak kecapean]


Rara


[Ya sudah. Kalau tidak lembur, biasanya jam lima aku pulang kerja. Nanti kalau sudah mau pulang, aku kabari lagi.]


Tidak ada lagi balasan dari Rivan, lalu Rara memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


...🌼🌼🌼...


Jam lima Rara menghubungi Rivan untuk datang ke apartemennya.


Setibanya Rara di apartemen, dia langsung mandi karena takut kalau Rivan keburu datang. Lima belas menit setelah Rara selesai mandi, Rivan datang dengan membawa paper bag yang cukup besar.


“Apaan, tuh?”


“Oleh-oleh buat kamu!”


“Asikkk!"


Rara dengan buru-buru membuka isi dari paper bag tersebut. Di dalamnya ada beberapa kotak makanan. Dia segera membukanya dan isinya adalah ....


“Rivannn ...!”


Rivan langsung tertawa ngakak. Bagaimana tidak? Rivan membawakan jengkol dan pete yang masih mentah. Ada juga ikan asin dan terasi. Semua itu dikemas sedemikian rupa agar tidak mengeluarkan aroma yang menyengat.


Hebat. Benar-benar hebat!


“Aku sudah susah-susah loh, bawain kamu ini secara langsung.”

__ADS_1


Rara mencebik kesal. Tidak masalah sih kalau ikan asin dan terasi. Tapi kalau pete dan jengkol? Aishhh ... Rivan kan tahu bangat kalau Rara tidak doyan yang begituan.


“Nanti aku deh, yang masakin buat kamu. Aku juga sudah bawain bumbu-bumbunya.”


Rara semakin memanyunkan bibirnya. Untung besok libur, jadi dia bisa menghabiskan waktu seharian bersama Rivan dan melihat aksi Rivan di dapur. Asal jangan dia saja yang disuruh membersihkannya.


“Sudah dong, jangan cemberut gitu. Anggap saja ini hadiah ulang tahun aku.” Rivan berusaha membujuk Rara dengan tetap tersenyum jahil.


“Kamu belum makan, kan. Aku masakin dulu ya. Kamu mau pete atau jengkol duluan?”


Rara tidak menjawab karena masih sebel, yang terlihat menggemaskan di mata Rivan.


Akhirnya pria itu memutuskan untuk memasak pete duluan, menelepon sang mama (mama Rara) untuk bertanya cara mengolahnya dengan benar begitu juga cara mengolah jengkol untuk makan besok.


Astaga, Rara bisa stres memikirkannya. Sahabatnya itu benar-benar iseng dan mengesalkan.


Rivan memeriksa isi kulkas Rara, dan mengambil beberapa bahan yang cocok digunakan bersama pete.


Tiga puluh menit kemudian masakan jadi. Rivan menyuruh Rara makan dan mengambilkan Rara nasi dengan porsi yang bisa membuat perut gadis itu begah.


Rara makan dengan setengah hati. Masakan Rivan memang enak, karena dia sudah lama tidak tinggal dengan orang tuanya. Di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Tukang cuci datang setiap hari untuk mencuci dan bersih-bersih rumah. Kalau lagi malas masak sendiri, Rivan akan makan di rumah Rara. Tentu saja dia lebih sering makan di rumah Rara dari pada masak. Maklum, selain malas juga nyari yang gratisan.


“Habisin ya, Beb!”


“Mbeb ... Mbeb ... Bebek?”


Rivan hanya cengengesan. Sambil menikmati wajah Rara yang sedang makan tapi sambil mendumel. Senang rasanya bisa ngerjain sahabatnya yang satu ini.


...🌼🌼🌼...


Jam sepuluh Rivan kembali ke hotel. Besok pagi dia akan datang lagi dan berjalan-jalan dengan Rara.


Rara merasa perutnya sangat begah. Tapi dia juga senang Rivan datang menemuinya. Dia dan Rivan sudah seperti saudara, orang tua mereka juga bersahabat.


Perlahan Rara memejamkan matanya dan mulai ke alam mimpi. Bermimpi bertemu dengan mama dan sahabat-sahabatnya. Mereka saling berpelukan melepaskan rindu.


Aku kangen mama, igaunya.


Di suatu tempat, seseorang sedang memandangi sebuah foto dan menciumnya ....


...🌼🌼🌼...


Jam delapan mereka mulai pergi. Tawa dan canda mengisi perjalanan mereka. Mereka berfoto bersama, lalu dikirim ke grup char mereka, membuat yang lain merasa iri dan kesal.


Memasuki jam makan siang, mereka ke restoran yang menyajikan makanan khas Asia.


Sementara itu, di pintu masuk terdapat pria dan wanita yang sedang berdebat.


“Mejanya penuh!”


“Tapi aku mau makan di sini.”


“Kita ke tempat lain saja.”


“Tapi aku mau ke sini, kenapa kamu tidak reservasi dulu?”


“Kenapa aku harus repot-repot reservasi untukmu? Memangnya kamu siapa?”


“Ih Alvin. Lihat, bukankah dia pegawaimu? Kita duduk bersamanya saja.”


“Jangan mengganggu mereka.”


“Ayo kita ke sana!”


Dengan terpaksa Alvin mengikuti Nisya.


“Boleh kami bergabung bersama kalian? Tempat yang lain sudah penuh.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Rara dan Rivan, Nisya langsung duduk.


“Alvin, kenapa berdiri saja. Ayo duduk!”


Alvin duduk di hadapan Rara.


Terjadi kecanggungan di antara mereka.


“Kapan menikah?” tanya Nisya.

__ADS_1


Tidak jelas pertanyaan itu diajukan untuk siapa, jadi tidak ada yang menjawabnya.


“Kalian berdua kapan menikah?” Sekali lagi Nisya bertanya.


Rara terbatuk dan Rivan tertawa tapi mereka berdua diam saja.


“Jadi kapan?”


Ya ampun, kepo bangat deh.


“Nisya, jaga sikap kamu!” bentak Alvin, merasa malu dengan kelakuan gadis manja itu. Nisya memanyunkan bibirnya saat dibentak oleh Alvin.


Masing-masing dari mereka telah memesan makanan. Rara dan Rivan sibuk mengobrol, meskipun sebenarnya canggung dengan suasana ini.


“Kalian mesra sekali, ya!” ucap Nisya.


“Owh iya, dong. Banyak yang iri sama kita. Selalu nampak mesra kapan pun dan di mana pun!”


Itu sindiran buat Nisya, yang selama ini selalu dicuekin oleh Alvin. Alvin sendiri nampak tidak peduli, dia malah sibuk dengan ponselnya. Rara menahan tawanya, merasa lucu tapi juga kasihan dengan perempuan di hadapannya itu.


Makanan datang. Rivan dan Rara memesan makanan yang berbeda, tapi biasanya saling mencoba makanan satu sama lain. Kebiasaan yang sejak dulu telah mereka lakukan. Entah pelit atau ngirit. Yang jelas bukan biar romantis. Enggak bangat, deh!


“Biar saya yang bayar!” ucap Alvin.


“Tapi ....” Revan ingin menolak, tapi Alvin tetap memaksa. Pantang baginya yang seorang CEO dibayarkan makanan oleh bawahannya atau pun teman bawahannya.


Rezeki tidak boleh ditolak, begitu pikir Rivan enggak mau ribet pura-pura menolak.


Rara dan Rivan kembali melanjutkan acara jalan-jalan mereka.


“Kamu masih lama kan, Van, di London?”


“Besok malam aku pulang!”


“Kok cepat?”


“Banyak kerjaan!”


“Banyak kerjaan kok malah ke London!”


“Kan butuh hiburan juga, Ra!”


“Oya, besok kan, kamu ulang tahun. Mau hadiah apa?”


“Enggak mau apa-apa. Ini kan udah jalan-jalan. Oya, nanti kita beli dulu oleh-oleh buat mama dan yang lain, ya!”


“Oke!”


Mereka lalu membeli oleh-oleh untuk mama dan yang lain. Rara juga membelikan Rivan dasi sebagai hadiah ulang tahun untuknya.


...🌼🌼🌼...


Tepat jam dua belas, Rara menghubungi Rivan.


“Selamat ulang tahun!“


“Thanks Ra.”


“Aku buatin kue untuk kamu. Kamu tiup dan berdoa.”


Rivan mulai berdoa dan Rara mewakili Rivan meniup lilinya, karena mereka melakukan video call.


“Ya sudah Ra, tidur gih.”


“Besok malam aku antar ke bandara ya!”


“Oke. Tapi kalau sibuk enggak usah.”


...🌼🌼🌼...


Keesokannya jam tujuh Rara sudah di bandara. Dia juga memberikan kado untuk Rivan.


“Hati-hati Van. Salam untuk mama dan yang lain.”


“Kamu juga, baik-baik ya di sini.”


“Oke. Sampai jumpa lagi!”

__ADS_1


Rara dan Rivan saling melambaikan tangan. Rara mulai pergi setelah Rivan tidak terlihat lagi.


__ADS_2