
Rara terbangun dari tidurnya yang hanya sebentar itu. Lagi-lagi air matanya keluar. Rivan memberikan coklat dan permen untuk Rara, namun gadis itu tidak mempedulikannya.
Tidak lama kemudian Tony datang bersama Tia, disusul oleh Karina. Rara langsung mengusap air matanya.
“Kamu kenapa nyuruh mereka ke sini, Van?”
“Ya harus, dong. Kamu sedih kenapa sih, Ra. Aku sudah kasih coklat, permen, tapi kamu diam saja.”
“Sudah kamu kasih balon, Van?”
Tia langsung menjitak Tony.
“Memangnya Rara anak kecil?”
“Ya sudah, ayo kita main!”
Tony, Karina dan Tia langsung mengeluarkan bawaan mereka.
Congklak
Ular tangga
Rara dan Rivan menggelengkan kepalanya, tapi ikut bermain juga dengan heboh. Mereka bermain hingga malam seperti anak kecil.
“Jangan cerita apa-apa ya sama mama!” Mereka mengangguk, tentu saja paham karena tidak mau membuat mama Rara yang sudah mereka anggap mama sendiri itu jadi khawatir dan bersedih.
Tidak ada yang bertanya pada Rara apa ya g sebenarnya terjadi. Bukan karena tidak peduli, tapi mereka tahu Rara sendiri yang akan menceritakannya jika suasana hatinya Sidah jauh lebih baik dan ada di saat yang tepat. Jadi lebih baik sekarang mereka akan membuat suasana hati Rara membalik lebih dulu.
☆☆☆
__ADS_1
Dua hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Rara ingin sekali bertanya pada mamanya, namun selalu dia urungkan. Setiap kali Rara berusaha untuk mengingatnya, maka kepalanya akan sangat sakit, bahkan dia akan muntah-muntah.
“Sebenarnya ada masalah apa, Ra?”
“Van, memangnya selama ini aku punya ayah?”
Rivan terdiam mencermati pertanyaan Rara.
“Bisa diperjelas pertanyaannya?”
“Selama ini aku lihat kalian dan orang-orang punya ayah, tapi aku tidak. Tapi ... aku juga selama ini tidak pernah bertanya kenapa orang lain punya, aku tidak. Seperti tidak pernah mengenal kata ayah dalam kehidupanku.”
Rivan mengangguk paham.
“Mama tidak pernah cerita apa-apa tentang sosok ayah. Aku juga tidak pernah bertanya. Di rumah juga tidak ada foto atau apa pun yang berhubungan dengannya.”
“Terus kamu sudah nanya sama mama?”
“Terus kenapa sekarang tiba-tiba kamu penasaran?”
“Ada seorang pria yang tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia ayahku?”
“Hah?”
“Kamu ingat kan, waktu kita janjian di mall buat makan siang, terus enggak jadi gara-gara ada pria yang memanggil aku Sayang? Setelah itu aku pernah beberapa kali bertemu dengannya, sepertinya dia sengaja menemuiku saat aku sendiri. Lalu ada yang sering menghubungi aku untuk bertemu. Ternyata orang itu dia, ayahku.”
“Kalau orang itu mengajak kamu bertemu lagi, kamu ajak aku Ra. Jangan sendirian. Bahaya! Kita enggak tahu kan maksud orang itu apa.”
Rara mengangguk.
__ADS_1
“Ya sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Kasihan mama kalau kamu sakit.”
“Kalau ada apa-apa kamu langsung cerita.”
“Iya.”
“Ya sudah, ayo kita makan.”
Rivan dan Rara langsung menuju cafe favorit mereka.
...🌼🌼🌼
...
Pria yang mengaku sebagai ayah Rara melihat dari kejauhan rumah itu. Rumah yang dihuni oleh Rara dan mamanya. Berkali-kali dia menghela nafas, namun itu tetap tidak membuat dirinya tenang.
Sembilan belas tahun sudah dia pergi, tidak akan mudah untuk memunculkan diri kembali.
Buktinya, Rara langsung berlari meninggalkannya begitu saja tanpa bertanya atau pun mendengar penjelasannya.
Tapi dia tidak akan menyerah.
Walau telat, tapi dia akan menciptakan peluang. Bertemu dengan anak perempuannya. Anak yang telah dia tinggalkan.
Ingin meminta maaf dan dimaafkan. Mungkinkah?
Akhir-akhir ini dia sulit untuk tidur. Umurnya yang semakin tua merindukan sosok gadis kecilnya. Dia tahu dia egois. Tapi dia tidak bisa memutar waktu. Hanya penyesalan yang semakin dalam. Banyak hati yang tersakiti.
Akhirnya dia harus menanggung semua ini. Dia memutar kembali memorinya, mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.
__ADS_1
Maafkan aku!