
Rara segera mengunggah foto-foto itu di akun butiknya, juga akun pribadinya di sosial media. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka dengan senang hati melakukan itu.
Berkat ketampanan dan kecantikan sahabat-sahabatnya, banyak yang menyukai postingan itu.
Rancangan punya sahabat aku ini, bagus, kan? Apalagi dipakai oleh pria tampan seperti aku.
Kata-kata yang diunggah oleh Tony itu membuat yang lain mendengkus. Tapi tidak bisa mereka sangkal juga, kalau wajah Tony memang tampan dan tentu saja banyak perempuan yang menyukai dirinya.
"Paling nanti kamu yang diminta beliin untuk mereka."
"Enak aja, beli sendiri, lah. Dari pada aku beliin mereka, mendingan aku beliin buat kalian."
"Ya udah, beliin gih."
"Enak saja, beli sendiri, lah."
"Dasar!"
__ADS_1
Mereka sekarang makan siang bersama.
"Tenang saja, di sini aku akan bersikap sebagai sales profesional. Beli gaun adik ku sayang, enggak beli adik ku buang."
"Kapan kamu taubat, Ton?"
"Kalau sudah menikah."
"Terus, kapan kamu menikah?"
"Ya kalau sudah bosan berkelana, lah!"
"Kalian tidak perlu memusingkan pria sejuta pesona ini. Tuh, si Rivan juga belum laku. Kalian juga sebagai perempuan, jangan sampai jadi perawan tua. Mending nikah sama aku, yuk. Tiga aja cukup, ayo sekalian!"
Ketiga gadis itu melempar tisu ke wajah Tony.
Di sudut lain restoran, seorang perempuan melihat ke arah mereka. Dia adalah Nisya, perempuan yang selalu saja mengintili Alvin. Nisya mencebik kesal pada Rara. Dia masih saja berpikir kalau Rara tiri suka menggoda Alvin.
__ADS_1
Apa cantiknya sih, perempuan itu? Aku lebih cantik, seksi, dan pastinya sangat kaya. Dasar centil, lihat bagaimana cara pria itu yang selalu menyuapinya, memangnya dia tidak punya tangan untuk makan sendiri? Jangan-jangan dia juga sudah pernah ditiduri oleh Alvin?
Nisya terus saja ngedumel dalam hati. Dia sangat iri dengan Rara, yang dulu bisa dekat dengan Alvin.
Dasar aneh, padahal dulu Rara bisa dekat dengan Alvin ya karena Rara itu asisten Alvin, dan urusan mereka berdua memang urusan pekerjaan. Duku, Alvin tidak pernah memiliki asisten atau sekretaris perempuan. Yang ada di sisinya selalu saja laki-laki, tapi tiba-tiba saja perempuan itu datang, membuat Nisya curiga dan ketar-ketir.
Sudah sangat lama Nisya menyukai Alvin, lebih tepatnya sejak pandangan pertama ketiak Nisya masih sekolah menengah atas. Tapi Alvin yang begitu pendiam, sangat sulit untuk didekati. Saat tahu kalau mama Alvin bersahabat dengan kedua orang tua Nisya, perempuan itu tentu saja sangat senang. Dia bisa mendekati Alvin melalui orang tua mereka. Nisya pikir, Alvin akan mau menerima kehadiran Nisya karena permintaan mamanya, tapi siapa yang menyangka kalau pria itu tetap saja bersikap acuh, bahkan terlihat sangat membenci dirinya.
Lihat saja, aku akan menjauhkan kamu dari Alvin. Alvin hanya milikku, dan hanya boleh menjadi milikku. Kamu itu hanya seorang asisten penggoda. Lagi pula, mama Alvin tentu saja tidak akan menerima gadis rendahan seperti dirimu. Kelas kamu sangat jauh berbeda dengan kelas kami.
Nisya tersenyum sinis melihat Rara dari kejauhan. Gadis itu sampai tidak sadar telah mencengkram sendok sangat erat, hingga urat-urat di tangannya terlihat di kulitnya yang putih.
Mata Nisya lalu melihat ke sahabat Rara yang lainnya. Perempuan itu mencebik kesal, merasa tidak suka dengan tawa canda mereka.
.
.
__ADS_1
.
Hai, terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komen, ya. Vote juga boleh klo ada🤭😃🙏