
Malam harinya, Rara tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan perkataan pria tadi, yang dengan berani mengajaknya melakukan tes DNA. Kalau dia hanya membual saja, pastinya dia tidak akan menantang Rara seperti itu, kan?
Apa kau harus melakukan tes DNA itu? Tidak, kalau aku melakukannya, maka aku akan membuat mama kecewa. Mama pasti akan terluka jika aku melakukannya diam-diam. Kalau pun aku bertanya pada mama tentang pria itu, mama juga pasti tidak akan suka.
Rara berperang dalam pikirannya sendiri. Dia merasa galau, apa yang harus dia pilih.
Tapi kenapa juga aku harus bingung? Kalau pun dia adalah ayahku, lalu kenapa? Toh selama ini bukan dia yang membesarkan aku, yang tinggal bersamaku, yang memberi aku makan dan minum. Yang bekerja keras demi masa depan aku. Mama, hanya mama yang melakukan semau itu untukku.
Rara menolak keras apa yang dikatakan oleh pria itu. Kalau memang pria itu adalah ayahnya, kenapa baru datang sekarang? Setelah dia sebesar ini dan hidupnya baik-baik saja dengan sang mama. Dia ingin mengeluarkan semua perasaan kalut itu dari hati dan pikirannya.
Tapi gadis itu masih saja penasaran. Dia berusaha menggali lebih dalam ingatannya tentang sang ayah, apa masih ada yang tertinggal meski hanya sedikit saja, atau tidak.
Rara memegang kepalanya yang terasa berdenyut, sangat sakit dan membuat matanya juga berkunang-kunang.
Tidak, dia tidak mengingat apa pun, tapi tetap bersikeras untuk menggali lebih dalam lagi. Lagian lagi, hingga dia rasanya ingin muntah.
__ADS_1
...🌼🌼🌼...
Mama melihat jam di dinding, sudah sesiang ini, tapi putri cantiknya itu belum juga keluar dari kamarnya. Apa Rara masih tidur saat ini? Wanita itu lalu menuju kamarnya, mengetik pintu berkali-kali Taki Bekim juga dibukakan oleh Rara.
"Ra, ini sudah jam tujuh. Apa kamu tidak bekerja?"
Karena tidak ada sahutan, mama membuka pintu kamar itu.
"Ya ampun, Rara!"
"Rivan!" teriak mama dari pintu rumahnya. Untung saja rumah mereka memang bersebelahan.
"Kenapa, Ma?"
"Rara pingsan di kamarnya. Tolong bantu mama."
__ADS_1
"Apa? Ayo, Ma!"
Rivan segera memanjat tembok, tidak perlu keluar pagar karena sedang terburu-buru. Tembok itu hanya sebatas pinggang saja, dan sebenarnya sudah sejak dulu ingin dihancurkan, biar gak usah ribet kalau mau main ke rumah masing-masing.
Rivan mengendong tubuh Rara, membawanya ke rumah sakit diikuti oleh mama. Untung saja Rivan belum pergi bekerja. Mama mengusap kening Rara. Wajah putihnya sangat pucat. Selama ini beberapa tahun ini, Rara baik-baik saja, tidak pernah sakit apalagi sampai pingsan. Jadi tidak heran kalau mama sangat khawatir, takut terjadi sesuatu yang buruk.
Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju ruang UGD. Rivan langsung mengabari sahabat-sahabat mereka, minta dibawakan sarapan, karena tadinya dia berniat sarapan di rumah tetangga.
Dokter keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana, Dok?"
"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan dan banyak pikiran. Untuk sementara waktu ini tolong biarkan dia istirahat, jangan membuat dia stres."
Mereka mengangguk, tidak lama kemudian Rara dipindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
Satu jam kemudian yang lain datang. Ada yang membawakan nasi kuning lengkap, ada juga yang membawa soto Betawi, dan gudeg.