Destination

Destination
34 Mengawasi


__ADS_3

Mama Ara sedang merapihkan rumahnya. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman. Tidak ada asisten rumah tangga di rumah itu, karena dia sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri.


Setelah selesai membersihkan rumah, dia membuat kue. Perempuan itu terlihat sangat senang melakukan pekerjaannya, tidak merasa bosan atau lelah. Semua dia lakukan demi kurir tercinta, satu-satunya harta berharganya.


Di luar rumah, seorang pria sejak tadi terus memperhatikan rumah yang terlihat sepi itu. Tidak ada orang di luar. Pria itu memasang halaman yang terlihat asri dengan pohon rindang dan bunga-bunga beraneka jenis. Ada bangku dan meja di halaman rumah itu. Rumahnya memang tidak terlalu besar, tapi halamannya sangat luas.


Melihat rumah itu dari jarak yang cukup jauh, membuat hatinya merasa sedih.


Ada kehampaan yang menyelimuti hati.


Kaki ingin melangkah mendekat.


Tangan ingin membuka pintu.


Dsn mata ingin melihat orang-orang yang tinggal di rumah bercat hijau muda itu.


Tapi apa daya, rasa takut terlalu kuat. Kepengecutan membuat dia tetap bertahan di tempat, meski setiap kali pulang dari sana, hanya rasa sesak yang mengikuti.


Kenapa aku masih tidak berani juga?

__ADS_1


Itulah yang selalu kata hatinya katakan pada diri sendiri.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah itu. Sesosok gadis cantik berambut panjang Ririn dari mobil, diikuti oleh seorang pria tampan.


"Mamaaa, anakmu yang ganteng ini pulang!" teriak Rivan.


"Mamaaa, anakmu yang cantik ini merindukanmu!" teriak Rara.


Pria dalam mobil itu tersenyum, merasa sedih, tali juga bahagia bisa melihat orang terkasih di hari ini.


Rara dan Rivan saling merangkul.


Apa mereka berpacaran?


Senyumnya sangat menawan, memberikan desiran halus yang membuat gundah. Mata indah yang terlihat teduh, membangkitkan rasa ingin memiliki kembali.


Mata pria itu terus melihat, tidak ingin kehilangan momen langka ini. Andai dia juga bisa berdiri di sana. Mencium keduanya dengan rasa sayang dan cinta kasih.


Pria itu menghela nafas, merasa sakit sendiri. Sakit karena belum bisa menjangkau apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Dia ingin berubah menjadi angin, menerpa wajah keduanya dan memberikan kesejukan di sana.


Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, membuatnya merasa sangat kehilangan.


"Aku ingin pulang."


Pulang?


Ya, sebaiknya pulanglah ke rumahmu sendiri, karena di situ bukan rumahmu.


Tidak lama kemudian Rivan keluar dari rumah Rara, menutup pintu pagar dan membuka pagar di sebelah rumah itu.


Hingga malam menjelang, rasa lelah telah datang, maka saatnya untuk pulang.


Hanya doa yang bisa dia lakukan saat ini.


Mama Rara membuka sedikit kordeng, melihat ke ujung jalan. Dia merasa ada yang mengawasi mereka sejak tadi. Tapi mobil hitam itu kini tidak terlihat lagi. Perempuan itu menghela nafas lega, mungkin tamu dari tetangganya, pikirnya.


Rara kekar dari kamarnya dengan keadaan segar. Gadis itu mengambil bolu pisang buatan mamanya, melahapnya dengan nikmat. Rara melihat wajah mamanya, yang terlihat masih sangat cantik. Dia pikir, pasti saat muda dulu mamanya lebih cantik lagi. pasti banyak pria yang menyukai mamanya, dan siapa laki-laki beruntung itu?

__ADS_1


"Aw!" Rara kembali merasakan sakit di kepalanya.


Dia sendiri tidak paham, kenapa akhir-akhir ini sering merasa resah, lebih tepatnya sejak kedatangan pria misterius itu.


__ADS_2