Destination

Destination
32 Mendekor Butik


__ADS_3

Alvin sedang meeting bersama dengan para petinggi perusahaan. Alvin meminta bagian design untuk membuat terobosan baru, dsn mereka harus bekerja sama dengan baik dengan bagain produksi dan pemasaran.


"Aku mau awal tahun depan semua bisa segera direalisasikan. Setiap tahun harus menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua. Jangan hanya kalian berharap tiap tahun mendapatkan kebaikan gaji dan bonus besar, tapi tidak memberikan peningkatan pemasukan bagi perusahaan!" sindir Alvin.


"Kalau kalian memakai produk yang sama dengan orang lain, mau sebagus apa pun itu, tentu saja kalian sedikit bangga. Tapi kalau kalian memakai produk yang bagus dan tidak pasaran, pasti kalian akan sangat bangga dan pamer, kan? Seperti itulah kita di perusahaan ini!"


Di lain tempat


Rara sedang membaut design interior yang baru untuk butiknya. Dia melakukan semua itu sendiri tanpa bantuan orang lain, kare Adia memang sudah terbiasa mendesign.


Butik ini terdiri dari empat lantai lima. Lantai pertama untuk baju khusus pria. Lantai dua untuk anak-anak, lantai tiga Untuk perempuan, lantai empat untuk ruang kerja Rara dan lantai lima untuk tempat istirahat dan kamar bagi karyawan. Juga ada rooftop yang dihiasi oleh pot-pot bunga dan terasa adem meski paling atas.


Dia sudah mencetak foto sahabat-sahabatnya dengan ukuran besar yang menggunakan produk miliknya. Foto itu terlihat natural dengan gaya bebas mereka.


"Oh iya, aku kan belum punya foto anak-anak. Anak mana yang harus aku foto, ya?"

__ADS_1


Setelah mengubah dekorasi lantai pertama, Rara bergegas ke lantai dua. Bagian kanan untuk baju anak perempuan, sedangkan bagian kiri untuk anak laki-laki. Butik ini memang cukup besar, dan butik inikah yang didirikan oleh mamanya dengan keringat dan pengorbanan.


Rara mengusap keringatnya. Dia lelah, tapi senang melakukannya. Rasa lelahnya ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan sang mama yang sudah membesarkan dia sejak kecil, dan seorang diri tanpa suami.


Deg


Jantung Rara tiba-tiba saja berdetak kencang.


Tanpa suami?


Rara jadi teringat dengan pria yang menemui saat itu. Pria itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Apa berarti pria itu telah berbohong?


Rara duduk di salah satu sofa di lantai itu, sofa yang digunakan pengunjung untuk duduk selagi menemani orang yang mereka temani memilih baju.


Ck, sepertinya dia hanya orang iseng saja. Dasar, untuk apa juga aku memikirkannya? Lebih baik aku kembali menyibukkan diri untuk butik ini. Aku akan melanjutkan perjuangan mama.

__ADS_1


Rara juga sudah membeli beberapa perabot baru. Beberapa sofa yang lebih empuk juga sudah di letakkan di tiap-tiap lantai.


Jam sebelas Rivan datang.


"Sayang!" sapa Rivan. Pria itu membawa bungkus makanan kesukaan Rara. Dia juga tidak lupa membawa rujak untuk gadis itu. Rivan menggulung lengan bajunya, membantu Rara memindahkan barang-barang berat, sementara para pegawai lainnya membereskan hal lain.


Untuk urusan mendesign, Rara memang tidak ingin ada campur tangan orang lain. Dia lebih suka melakukannya sendiri.


"Kamu istirahat saja, yang berat-berat biar aku yang memindahkannya."


"Tapi ...."


"Enggak ada tapi-tapian. Tuh, kamu bisa lihat aku bekerja sambil ngemil."


Rivan lalu menekan pundak gadis itu agar duduk di sofa. Pria itu lalu mengusap kepala Rara dengan lembut. Para karyawan Rara yang melihat jadi iri. Kenapa bos mereka selalu dikelilingi oleh para pria tampan dan baik? Kan mereka juga mau.

__ADS_1


__ADS_2