Destination

Destination
39 Berkat Tony


__ADS_3

Ternyata di sana juga ada Rivan dan Bryan. Oh ya, satu orang lagi yaitu Nisya. Bibir gadis itu mengerucut saat melihat Rara. Rivan yang melihat ekspresi Nisya yang terlihat tidak suka saat melihat Rara, mengerutkan keningnya.


Mereka duduk bersama, karena ternyata bangku yang diberikan untuk mereka ada di deretan utama.


Rara sangat antusias dengan acara ini.


🌼🌼🌼


Pria itu menatap foto Rara saat masih bayi. Bayi perempuan yang dulu sering dia gendong dan peluk penuh kasih sayang. Sayangnya, semua itu telah menjadi kenangan.


Di sana tuanya ini, ingin sekali dia berkumpul dengan anaknya itu. Mendengar anaknya bercerita tentang pria yang dicintainya, tentang teman-temannya atau apa pun. Dia ingin menjadi tempat pertama anaknya datang di saat sedih. Tapi semua itu hanya sebatas angan. Gadis kecilnya telah hilang dari pelukannya, dan kini tidak mengingatnya sama sekali.


Ke mana waktu yang berharga itu dia sia-siakan?


Semua yang telah terjadi tidak dapat diulang kembali. Anak gadisnya kini telah dewasa, dsn mungkin tidak akan lama lagi dia akan menikah dengan seseorang yang dia cintai.


Memang benar apa kata orang, penyesalan selalu datang terlambat, dan untuk memperbaiki semua itu sangat sulit.


...🌼🌼🌼...


Hari ini dia kembali mengawasi Rara dari jarak jauh. Rara yang merasa dirinya sedang diawasi, sesekali menoleh ke belakang. Gadis itu sekarang sedang berada di salah satu kafe karena akan bertemu dengan calon pelanggannya yang ingin memesan sebuah gaun untuk pertunangan.


"Selamat siang nona Rara."

__ADS_1


"Siang, silahkan duduk."


Perempuan yang akan bertunangan itu menginginkan gaun yang terlihat simpel tapi menunjukkan kemewahan. Tangan Rara dengan cekatan mencoret-coret buku sketsanya, memberi beberapa aksen di beberapa tempat, khususnya di bagian perut dan leher. Warna yang dipilih adalah warna hitam


Semua detail digambar Rara dengan teliti.


"Ini hanya design kasarnya saja. Bagaimana?"


"Wah, bagus sekali. Apa aku juga bisa memesan gaun pernikahan untukku nanti?"


"Tentu saja bisa. Saya sangat senang kalau Nona mau memesannya kepada saya."


"Panggil saja Clara."


"Wah, benarkah? Aku senang kalau kamu mau merekomendasikan butik milikku."


"Ternyata Tony memang tidak salah, ya."


"Tony?"


"Iya, Tony. Tony itu sepupu dari sahabat calon suami aku. Dia sering merekomendasikan butik ini pada sepupunya, dan sepupunya yang bernama Bagas itu merekomendasikan kepada kami."


"Oh, jadi seperti itu."

__ADS_1


"Kamu kenal dengan Tony dari mana?"


"Tony itu sahabat aku sejak sekolah. Kami juga kuliah di kampus yang sama meski berbeda jurusan."


"Oh, pantas saja. Dia sangat rajin membicarakan butik kamu. Karena aku penasaran, aku jadi datang ke butik dan ternyata gaun-gaun di sana memang sangat bagus. Nyaman dipakai dan berkualitas."


Rara jadi merasa tersanjung dipuji seperti itu, entah itu benar atau hanya basa-basi saja.


Aku harus mentraktir Tony. Ternyata dia benar-benar membantu aku mempromosikan butik, aku kira dia selalu promosi tentang dirinya yang ganteng, saja. Hehehe ....


Tidak hanya gaun untuk pertunangan saja, Clara juga akhirnya memesan gaun-gaun untuk pesta, bahkan dia langsung memberikan DP sebanyak enam puluh persen.


"Aku jadi tidak sabar sampai semua gaunnya jadi."


Rara tahu gadis di depannya ini memang sangat menyukai baju-baju yang bagus. Ya perempuan mana sih, yang tidak menyukai segala sesuatu yang bagus?


.


.


.


Hampir saja aku enggak up cerita ini hari ini. Kenapa yang like dikit, ya? Aku jadi enggak semangat buat nulisnya 🥺 Padahal aku sejak aku nulis cerita ini, Belum pernah bolong kan, ya. Ayo dong dukungan kalian, biar aku semangat lagi😥

__ADS_1


Gak ada yang komen atau pun kasih hadiah 🥱


__ADS_2