
Hari ini mama dan yang lain akan kembali ke Indonesia, tapi tidak dengan Rara. Rara mengantarkan mereka ke bandara. Peluk dan cium mama berikan untuk putri semata wayangnya itu.
“Kalau mau pulang kabari mama ya, Sayang!”
“Iya, Ma.”
Rivan mencubit gemas pipi Rara. Karina melihat kanan kiri, memanfaatkan kesempatan yang masih ada untuk melihat bule yang datang dari segala penjuru. Nampaknya dia sangat terobsesi dengan cowok bule!
Tony melirik gadis-gadis seksi yang berseliweran di hadapannya.
Sedangkan Tia memandang seorang pria yang berdiri agak jauh dari tempat mereka.
Itu orang aneh bangat, sih!
Orang itu menutupi wajahnya dengan masker sehingga wajahnya tidak terlihat.
Rara memandang mereka sampai mereka tidak terlihat lagi. Lalu dia berjalan melewati orang yang bermasker itu dan tanpa sengaja menabraknya. Ponsel pria itu terjatuh dan cepat-cepat memungutnya.
...🌼🌼🌼
...
Akhir-akhir ini Rara merasa seperti ada yang mengikutinya. Atau mungkin hanya perasaannya saja? Rara tidak pernah menyadari bahwa sudah sejak lama dirinya diawasi. Dia berjalan dengan cepat. Suasana yang mulai sepi dan gelap membuat dia sedikit takut.
Biasanya dia membawa mobilnya, tapi tadi dia ingin berjalan-jalan dengan menggunakan kereta.
Langkahnya semakin tergesa-gesa.
“Kyaaaaa ... lepas! Lepaskan!” Rara memejamkan matanya dan mengguncang-guncangkan badanya.
__ADS_1
“Hey, ini aku!”
Suaranya seperti aku kenal.
Rara membuka matanya.
Oh
Dia menghembuskan nafasnya, merasa lega.
“Kamu kenapa?” Rara menggelengkan kepalanya.
“Ayo!”
Dia menggandeng tangan Rara dan merasakan tangan gadis itu yang dingin dan gemetaran. Dia menyuruh Rara masuk ke dalam mobil sportnya. Alvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe yang buka dua puluh empat jam.
Dia memesankan teh hangat dan sandwich untuk Rara.
“Iya, saya baik-baik saja, Sir!”
“Panggil saja Alvin, kalau tidak sedang bekerja!”
“Oke!” Rara tersenyum.
Cantik!
Tanpa sadar Alvin menahan nafasnya. Dia berusaha menetralkan degup jantungnya yang bermaraton ria.
Alvin menyeruput kopinya dengan pelan.
__ADS_1
“Oya, besok kamu temani saya makan malam!”
Rara mengangguk mengerti.
Harus dandan lagi, deh!
Setelah makanan dan minuman itu habis, Alvin lalu mengantar Rara kembali ke apartemennya. Rara sudah kembali tenang.
Apa karena tadi aku lapar, ya? Memang dasar ya, perut lapar pikiran kacau. Dan sekarang, perut kenyang mata mengantuk! Saatnya tidur ....
...🌼🌼🌼
...
Kembali beraktifitas dengan status yang bukan lagi mahasiswi memang terasa berbeda. Dia sekarang bisa lebih fokus. Setelah nanti kembali ke Indonesia, dia bisa fokus dengan bisnisnya sendiri. Bekerja di perusahaan besar sangat menguntungkan. Selain pengalaman, dia juga mengenal para pembisnis yang pastinya sangat dia butuhkan di kemudian hari. Teman-teman satu kampusnya pun anak-anak dari pengusaha besar. Dia sudah berhubungan baik dengan mereka. Sering bertukar pikiran dan menambah koneksi. Dikenalkan dari satu orang, ke orang yang lain.
Tidak hanya dibutuhkan kepintaran, tapi juga keberuntungan dan koneksi yang banyak! Modal yang bagus untuk kembali ke Indonesia.
Siang ini Alvin dan Bryan ada rapat di hotel, membahas tentang cabang baru yang akan dia buka di Thailand. Rara tidak ikut, dia harus membuat laporan data-data klien yang ingin mengajukan kerja sama dengan AZ Group.
Jam tiga Alvin dan Bryan sudah kembali. Rara segera menyerahkan laporannya untuk dipelajari oleh Alvin.
“Tunggu saja mereka yang menghubungi lebih dulu!”
“Baik, Sir!”
“Kamu tunggu laporan dari Leo. Katakan juga padanya untuk mencari direktur yang baru jika orang itu tidak becus bekerja. Aku tidak membutuhkan orang-orang yang hanya besar mulut tapi tidak bisa memberikan keuntungan untuk perusahaan!”
“Baik, Sir. Saya permisi!” Rara melangkahkan kakinya, setelah menutup pintu dia baru menghembuskan nafasnya dengan lega.
__ADS_1
Alvin memang tidak menggebrak meja ataupun berteriak. Tapi itu sudah cukup seram bagi Rara. Lyan pernah bercerita kalau dulu Alvin pernah marah-marah pada semua direktur dan manager. Juga memecat sepuluh diantara mereka saat itu juga tanpa peringatan. Jadi jangan macam-macam pada bos besar!