
"Aku jadi menyesal sudah melepaskan kamu dari perusahaan aku."
Yang lain saling padang, lalu melihat Alvin. Jadi pria itu serius? Tony, Rivan, Karina dan Tia langsung duduk mendekat.
"Dua milyar?"
"Semahal itu hanya untuk gambar seperti ini?" tanya Rara tak percaya.
Alvin mengeryitkan keningnya mendengar Rara berkata seperti itu.
"Bagaimana kamu bisa menggambar ini?" tanya Alvin.
"Kami ini hobi makan. Jadi suka berangan-angan bagaimana kalau punya restoran sendiri, dan sesekali membuat design. Hanya iseng saja, sih, karena memang pada dasarnya hanya hobi makan semua."
"Jadi, kamu mau menjual logo ini, kan?"
"Enggak!"
"Ayolah, kamu mau berapa? Lima milyar?"
"Enggak aku jual, buat kamu saja."
"Apa?"
"Buat kamu saja, lah."
"Ya enggak bisa begitu, dong. Bisnis ya bisnis."
"Ya sudah, enggak usah dibayar pakai uang."
__ADS_1
"Terus? Pakai tubuh aku?" tanya Alvin asal.
"Dasar, ketularan Tony, nih."
"Jadi, kamu mau apa?"
"Pakai saham saja, deh. Bagi aku saham untuk produk ini."
"Deal, dua puluh persen saham akan aku berikan untuk kamu."
"Hah?" Lagi-lagi mereka tercengang, apa semudah itu Alvin mengeluarkan saham yang cukup banyak?
"Wah, untung banyak kamu, Ra. Saham akan lebih menguntungkan daripada uang," ucap Tony.
"Memang ada dasarnya bakat bisnis, dia."
"Asyik, makan-makan, nih," ucap Karina.
"Ayolah kalau begitu."
Rara memang bukan gadis yang pelit. Dia akan berbagi dengan sahabat-sahabatnya saat mendapat rejeki, apalagi sebanyak ini.
"Wah, siapa sangka sekarang Rara salah satu pemegang saham di AZ group," goda Tia.
Rara juga memesankan makanan untuk dikirim ke rumah. Tentu saja dia tidak akan melupakan mama tersayangnya.
Rara berpikir untuk membelikan sang mama mobil baru. Karena kalau membelikan rumah, itu tidak mungkin. Bukan karena Rara pelit atau tidak punya uang, tapi mereka juga tidak akan pindah dari rumah itu. Selain karena ada Rivan di sana, mereka sudah betah tinggal di rumah dengan design mim itu.
"Belikan saja mama mobil," saran Rivan.
__ADS_1
"Kamu mau beli mobil untuk mama? Kamu pilih saja, nanti biar aku yang mengurus sisanya."
"Ayo Ra, hari Sabtu nanti kita ke showroom, aku juga mau beli mobil baru," ucap Karina.
Untuk urusan mobil, mereka memang sebaiknya mengajak Rivan dan Tony, bahkan mungkin juga Alvin, karena para perempuan itu tidak terlalu mengerti tentang mesin. Yang mereka lihat hanya body mobil yang bagus, interior yang menarik, juga keluaran terbaru.
"Ngomong-ngomong, kapan yang lain ke sini?"
"Masih banyak pekerjaan mereka di sana."
"Bawalah banyak anak buah kamu yang pria ke sini." Siapa lagi yang bicara sepe itu kalau bukan Karina. Gadis itu benar-benar terobsesi dengan pria bule.
"Nanti aku cat rambut aku jadi warna coklat," ucap Tony.
"Apa itu kamu juga akan kamu besarkan agar seperti punya mereka?" tanya Karina.
Mereka langsung tersedak, bisa-bisanya Karina bertanya ambigu seperti itu.
"Itu aku juga besar."
"Apaan, itu kamu kecil."
"Dari mana kamu tahu itu mereka besar?"
"Kan bule biasanya besar. Iya kan, Alvin?"
Wajah Alvin langsung merah saat mereka melihat ke arahnya. Kenapa dia jadi malu dan salah tingkah? Padahal yang dimaksud itu kan, banyak.
Dasar Karina dan Tony!
__ADS_1