
“Ma, aku ditawari sama bos aku untuk kerja di AZ Group. Gimana, ya?”
“Ya baiknya kamu saja, Sayang. Apa pun keputusan kamu, pasti mama dukung.”
Rara memikirkannya sebaik mungkin, setelah itu dia menghubungi Alvin.
Rara
[Besok siang bisa bertemu?]
Alvin
[Tentu, besok aku akan menjemputmu di butik.]
Rara mengambil laptopnya, memeriksa laporan dari lima butik yang dimiliki mamanya di Jakarta.
Suara pesan masuk di group membuyarkan konsentrasinya.
Karina
[Rara, Tia, ayo kita nyalon!]
Tia
[Ayoooo!]
Rara
[Jemput aku, ya.]
Tony
[Aku sama Rivan enggak diajak?]
Karina
[Dih!]
Tia
[Kamu mau ngapain nyalon?]
Tony
[Nyari cewek, lah.]
Rara
[Tobat woyyy. Entar dikutuk loh sama cewek-cewek yang sudah kamu pehapein.]
Tony
[Asal bukan kalian saja yang aku pehapein.]
Tia
[Najong!]
Karina
[Dah pada bubar, jangan ngobrol terus. Kan mau nyalon.]
Tia
[Itu Rivan kok enggak nongol.]
Tony
__ADS_1
[Rivan lagi pedekate sama cewek.]
Karina
[HAH?]
Tia
[Sama siapa?]
Tidak ada tanggapan dari Rara, dia segera meninggalkan percakapan tersebut.
...🌼🌼🌼
...
Siang ini Alvin menjemput Rara di butik. Mereka sekalian makan siang.
“Jadi gimana keputusan kamu, Nay?”
“Hmmm ... aku ... “
“Aku berikan kamu penawaran, kamu mau jadi asisten, sekretaris atau direktur?”
Gampang banget nawarinnya!
Rara menggaruk pelipisnya, ragu untuk memberikan jawaban.
“Kesempatan belum tentu datang dua kali loh, Nay!”
Ini orang bikin galau deh.
“Ini hanya untuk sementara kok, Nay.”
“Habis itu aku dipecat?” Mendengar itu Alvin langsung tertawa, menurutnya Rara sangat lucu.
“Jadi apa?”
“Istri aku!”
JLEB
Baru kali ini Rara bertemu dengan pria seperti ini.
Bikin salting!
Rara tertawa kencang, sebenarnya dia grogi.
“Kalau kita sering bertemu, kan, kita bisa lebih mengenal. Apa kamu mau langsung aku nikahin saja?”
Ini lamaran?
“Sudah ah bercandanya, nanti aku nangis gara-gara kebanyakan ketawa.”
“Tapi kamu mau kan kasih aku kesempatan buat lebih dekat sama kamu?”
Ini sebenarnya mau membicarakan pekerjaan atau masalah hati, sih?
Rara mengangguk, dari pada urusannya jadi panjang. Tiba-tiba saja Rara melihat Rivan sedang berbicara bersama seorang wanita cantik. Ingin menghampiri, tapi tidak ingin mengganggu. Dia segera mengambil ponselnya.
Rara
[Cieee ... yang lagi kencan. Kenalin, dong!]
Rivan langsung celingak-celinguk, lalu melihat Rara yang sedang bersama Alvin.
Rivan
__ADS_1
[Cuma teman, Ra!]
Rara
[Halah, teman.]
Rivan
[Kamu sendiri, makan sama pacar kamu!]
Rara
[Dia kan mantan bos aku. Hanya ngomongin masalah pekerjaan, kok.]
Rivan
[Halah ... ]
Rara
[Kamu tega ih, selingkuhin aku!]
Rivan
[Jangan ngarang kamu. Kamu duluan yang mendua.]
Rara
[Kamu sudah nyakitin hati aku!]
Rivan
[Kamu mengecewakan aku.]
Rara
[Aku enggak mau diduain.]
Rivan
[Salahmu!]
Rara
[Apa kurang aku? Kurang cantik? Kurang seksi?]
Rivan
[Kurang waras!]
Rivan dan Rara tertawa bersamaan dan saling memandang. Alvin melihat arah pandangan Rara, yaitu Rivan. Sedangkan wanita yang sedang bersama Rivan, melihat ke arah Rara. Tanpa pikir panjang Alvin langsung menghampiri Rara, diikuti oleh wanita tersebut.
“My Sweet, yang lain lagi di jalan. Katanya mau ke sini juga.”
“Wah kebetulan, ya.”
Tidak lama kemudian Tony, Karina dan Tia datang dan duduk bersama mereka.
“Siapa, Van?” tanya Tia.
“Oya kenalin, dia Sandra. Dokter di rumah sakit tempat kerjaku.”
Mereka makan sambil berbicara. Sudah kebiasaan, jika memesan menu yang berbeda, Rara dan Rivan akan saling menyuapi makanan mereka untuk dicicipi. Bagi Tony, Karina dan Tia itu sudah biasa, mereka juga sering begitu. Tapi tidak bagi Alvin dan Sandra.
Sandra terlihat kesal, begitu juga dengan Alvin. Mereka sudah kesal saat mendengar Alvin memanggil Rara dengan panggilan My Sweet, sekarang harus melihat mereka suap-suapan.
NGIRI!
__ADS_1
Berharap kalau mereka juga bisa seperti itu.