Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 9 - Hantu Di Jendela


__ADS_3

Jika malam telah tiba, jangan lupa menarik tirai untuk menutupi jendela kacamu. Apa kamu tahu, kalau hantu senang sekali mengintip dari jendela?


***


Malam semakin lama, semakin larut. Puspa duduk di samping Mawar yang terlihat sudah tenang.


"Apa kau sudah siap untyk bercerita?" tanya Puspa.


"Aku tidak tahu siapa yang mengejarku. Saat aku tertidur di kamarku, tiba-tiba ada orang-orang itu datang dan hendak menculikku. Aku berhasil kabur dan akhirnya sampai di sini." Mawar menjelaskan.


"Apa kau tidak tahu saat orang-orang itu masuk ke rumahmu? Apa mereka membobol rumahmu?" Lestari bertanya penasaran.


"Aku tidak tahu. Tapi seingatku, aku sudah mengunci seluruh pintu dan jendela di rumahku sebelum tidur," sahut Mawar.


"Kamu yakin mereka masuk untuk menculikmu? Bukan untuk memperkosamu?" tanya Puspa.


"Mereka tidak bermaksud memperkosaku, tapi menculikku. Kalian tahu, belakangan ini terjadi peristiwa yang aneh di desa. Gadis-gadis perawan menghilang secara misterius. Aku yakin, orang-orang itu ada hubungannya dengan semua itu." Mawar ketakutan.


"Menghilang? Apa sudah lapor polisi?" Tanya Lestari.


"Sudah. Tapi polisi belum menemukan petunjuk apa-apa," keluh Mawar.


"Ini aneh sekali," gumam Puspa.


Puspa menyuruh Mawar untuk beristirahat. Dia menyarankan agar Mawar menginap saja di villa mereka. Lestari mengantar Mawar ke salah satu kamar untuk ditempati.


Setelah mengantar Mawar beristirahat, Lestari kembali menemui Puspa.


"Ternyata desa itu menyeramkan sekali, Kak." Lestari bergidik ngeri.


"Kamu tenang saja. Aku berjanji akan melindungimu," ujar Puspa.


Puspa pun mengajak Lestari untuk beristirahat. Malam semakin lama, semakin larut. Sudah waktunya untuk tidur.


Sementara di villa yang tidak jauh dari villa tempat Lestari dan Puspa, tampak dua sosok tubuh pria sedang mengobrol. Mereka adalah Pramuja dan Zulfikar. Mereka sedang menyusun sebuah rencana.

__ADS_1


"Besok, kita mulai penyelidikan dari mana?" tanya Zulfikar.


"Kita turun saja dulu ke desa untuk melihat-lihat sambil mencari petunjuk," sahut Pramuja.


Belum sempat berkata lebih lanjut, Pramuja dikejutkan oleh sosok wanita berwajah pucat yang memandanginya dari luar jendela kaca yang tidak tertutup tirai.


"Ada apa, Pram? Apa kau melihat sesuatu?" tanya Zulfikar heran.


"Apa kau melihat sosok wanita di luar jendela itu?" tanya Pramuja sambil menunjuk sosok wanita berwajah pucat.


Zulfikar mengikuti arah jari Pramuja yang sedang menunjuk. Dia tidak melihat siapa-siapa di tempat yang ditunjuk Zulfikar.


"Aku tidak melihat apa-apa, Pram," ujar Zulfikar.


"Kalau kau tidak bisa melihatnya, berarti wanita itu adalah hantu," bisik Pramuja.


"Cepat kau temui hantu itu. Siapa tau dia ingin memberi kita petunjuk," bisik Zulfikar tanpa rasa takut.


Pramuja berjalan dengan hati-hati ke arah sosok hantu wanita itu. Zulfikar mengikutinya dari belakang.


Sosok hantu itu hanya terdiam. Saat Pramuja sudah sangat dekat dengannya, dia berbalik dan melayang dengan perlahan. Karena dia adalah hantu, tentu saja kakinya tidak menyentuh tanah.


Hantu itu terus melayang menuruni bukit. Di kaki bukit, ada dua jalan yang bercabang. Ke arah kiri adalah jalan menuju desa, sedangkan ke arah kanan adalah jalan menuju hutan. Hantu itu pergi ke arah hutan.


Pramuja dan Zulfikar terus mengikuti kemana hantu itu pergi. Mereka sama sekali tidak mempunyai rasa takut. Tentu saja mereka memiliki mental yang sangat kuat sebagai anggota intel.


Saat hendak masuk ke dalam hutan, Zulfikar dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Mau kemana kalian anak muda?" tanya pemilik tangan tersebut.


Pramuja dan Zulfikar, sontak menoleh ke arah sumber suara. Tampak sesosok pria dengan dandanan unik layaknya seorang dukun, sudah berdiri di hadapan mereka.


"Kami hanya berjalan-jalan saja," sahut Pramuja santai. Dia memang pandai berakting.


"Sudah tengah malam. Ini bukan waktunya berjalan-jalan. Segeralah pulang! Kalian tahu? Hutan di depan itu, adalah hutan terlarang. Bahkan warga desa pun, tidak berani masuk ke sana." kata pria aneh itu.

__ADS_1


"Anda sendiri, sedang apa di sini?" selidik Zulfikar.


"Aku sedang mencari seseorang," kata pria aneh itu.


"Mungkin kami bisa membantu," tawar Pramuja.


"Kalian tidak mungkin bisa membantu. Yang aku cari itu bukan manusia biasa, tapi mahkluk halus, ha... ha... ha..." Pria aneh itu tertawa menyeramkan.


"Mahkluk halus seperti apa?" selidik Pramuja.


"Aku tadi hanya bercanda. Aku ada janji dengan seorang teman," sahut sang pria aneh.


"Aneh sekali. Kenapa janjian di tempat sepi seperti ini?" Zulfikar curiga.


"Kami ingin mencari ular di sekitar sini," kata sang pria aneh.


"Bukankah anda bilang tadi, kalau hutan di depan itu sangat terlarang untuk dimasuki? Kenapa anda malah mencari ular?" selidik Pramuja.


"Aku hanya mencari di sekitar hutan saja. Tidak akan sampai masuk ke dalam sana," ujar pria aneh itu.


Pramuja memberi kode kepada Zulfikar untuk meninggalkan tempat itu. Zulfikar pun mengerti. Mereka segera pamit dari pria aneh itu.


"Apa kau merasa pria aneh itu mencurigakan?" tanya Zulfikar setelah tiba di villa.


"Tentu saja dia sangat mencurigakan. Aku yakin, pria itu sedang merencanakan sesuatu di sana," ujar Pramuja.


"Bagaimana kalau kita membuntutinya untuk mencari tahu?" usul Zulfikar.


"Jangan sekarang. Dia sudah melihat kita. Dia pasti akan lebih waspada. Kalau kita gegabah dalam bertindak, penyamaran kita bisa terbongkar. Kita harus menyusun rencana yang matang." Pramuja mengemukakan pendapatnya.


Zulfikar menyetujui pendapat Pramuja. Penyelidikan akan dimulai besok, sesuai dengan rencana semula. Dengan menyamar sebagai fotografer, akan lebih mempermudah dalam proses penyelidikan.


Pramuja pun mengajak Zulfikar untuk beristirahat. Banyak yang harus dilakukan besok.


Di semak-semak tidak jauh dari villa, tampak pria aneh tadi, sedang mengawasi villa tempat Pramuja dan Zulfikar menginap.

__ADS_1


***



__ADS_2