
Pramuja memeriksa tubuh Puspa yang tak bergerak. Dari posisi luka tembakan, kelihatannya peluru tidak menembus jantung Puspa. Puspa kemungkinan masih bisa diselamatkan.
"Kalian tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanya sang Kapten Kapal.
"Mengapa Bapak datang kemari? Bukankah jadwal penjemputan masih 2 hari lagi?" Pramuja bertanya dengan curiga.
"Aku dipanggil polisi untuk memastikan laporan pembunuhan yang berasal dari pulau ini. Walau polisi hanya menganggap sebagai telepon iseng, tapi perasaanku tidak enak dan memutuskan ke sini untuk memeriksanya," jawab sang Kapten Kapal.
"Kalau begitu, tolong bantu saya membawa Puspa ke kapal. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit, begitupun temanku, Zulfikar." Pramuja segera berlari mencari Lestari.
"Lestari, di mana kamu?" Pramuja berteriak ke arah terakhir dia melihat Lestari menyeret tubuh Zulfikar.
"Aku di sini, Mas!" Terdengar suara Lestari dari balik semak-semak.
Pramuja segera berlari ke arah semak-semak. Benar saja, Lestari telah menyeret tubuh Zulfikar sembunyi di balik semak-semak itu.
"Cepat ke vila dan panggil orang-orang untuk keluar! Kapal sudah datang, kita harus segera keluar dari pulau ini. Puspa dan Zulfikar terluka parah, harus segera dibawa ke rumah sakit." Pramuja segera menggendong Zulfikar di punggungnya dan pergi menemui kapten kapal yang sedang bersama tubuh Puspa.
"Kita bawa dulu mereka ke kapal, Pak!"
"Baik, Mas!" Kapten Kapal segera menggendong tubuh Puspa dan membawanya menuju kapalnya yang sedang bersandar.
"Mengapa mereka lama sekali, Mas?" tanya Kapten Kapal yang sudah menyalakan mesin kapalnya.
"Tidak tahu, Pak. Coba Bapak periksa ke sana! Aku akan menunggu di sini."
Belum sempat kapten kapal turun dari kapal, Lestari dan rombongan film terlihat sedang berjalan ke arah kapal dengan membawa barang-barang serta mayat sutradara dan anggita kru yang dibungkus dengan sprei.
"Pantas saja kalian lama sekali. Ternyata kalian membawa semuanya." Pramuja segera turun dan membantu mengangkut barang-barang, termasuk mayat ke dalam kapal.
"Bagaimana dengan mayat-mayat si Penjaga Vila dan para pembunuh itu?" tanya Lestari.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu. Kapal ini tidak akan muat membawa mereka semua. Nanti kita lapor polisi saja agar mayat-mayat itu diurus oleh mereka," sahut Pramuja.
Kapal yang sudah berisi seluruh pengunjung pulau mulai bergerak meninggalkan pulau.
Sesampainya di dermaga, ambulance sudah menunggu mereka. Rupanya Pramuja sempat menelepon ambulance sebelum kapal meninggalkan pulau hantu itu.
Tubuh Zulfikar dan Puspa segera dipindahkan ke dalam ambulance untuk segera dilarikan ke rumah sakit. Pramuja, Lestari, Viola serta asistennya ikut dalam ambulance itu. Memang Viola juga mendapatkan sedikit luka robek ketika melewati jendela yang pecah.
Sementara anggota kru dan para pemain film pergi ke kantor polisi untuk melapor. Mereka juga akan menyerahkan Wijaya sebagai pelaku pembunuhan, serta membawa mayat sutradara dan anggota kru yang tewas ke kantor polisi.
Sang Kapten Kapal memandangi ambulance yang mulai bergerak pergi. Orang-orang yang dibawanya tadi juga sudah tidak terlihat.
Dia mengambil ponselnya dan menelepon Mr. Danu.
"Semuanya sudah beres, Boss!" lapornya.
Bagus. Aku senang anakku selamat. Mereka semua memang pantas mati. Berani sekali mereka mencoba menguasai ladang ganja milikku.
Terdengar suara Mr. Danu dari seberang telepon.
Tidak apa-apa. Itu hanya sebuah ladang kecil. Biarkan saja para polisi itu menemukan mayat penjaga vila dan anak buahnya. Penjaga vila itu sangat bodoh. Dia berpikir kalau ladang ganja itu tumbuh dengan sendirinya. Lebih bodohnya lagi, dia mengajak para residivis untuk berbisnis dengan ladang ganjaku. Tentu saja para polisi akan mengenali mereka dengan mudah dan tidak akan mencurigaiku sebagai pemilik ladang ganja itu. Boss Mafia tidak mungkin berhubungan dengan para penjahat kelas teri kan, hahaha ...
"Benar Boss, anda memang sangat pintar," puji sang Kapten Kapal.
Kau awasi saja pulau tak berpenghuni di dekat pulau itu. Di situlah sebenarnya ladang ganjaku yang sesungguhnya. Di sana memang sengaja tidak dibangun dermaga agar tidak ada yang datang ke pulau itu.
"Baik Boss, saya mengerti."
Sang Kapten Kapal menutup teleponnya dan segera pergi meninggalkan dermaga.
Sementara di suatu tempat, para pasukan elit berpakaian ninja juga sedang berusaha menghubungi Mr. Danu.
__ADS_1
"Misi sukses, Boss. Semuanya bersih. Sayangnya, Puspa tidak sengaja tertembak," lapor Pimpinan tim elit sekaligus orang yang telah menembak Puspa.
Apa? Mengapa kalian bisa sangat ceroboh? Puspa adalah orang kepercayaanku. Berani sekali kalian melukainya!
Mr. Danu terdengar sangat marah.
"Saya yang salah, Boss. Saya siap menerima hukuman," ujar sang Pimpinan Tim Elit.
Sudahlah, kali ini aku memaafkanmu. Lain kali jika ada yang melukai Puspa, aku akan pastikan nyawanya tidak akan selamat.
Mr. Danu mengancam, lalu menutup teleponnya dengan sangat kesal.
"Mengapa tidak kau ceritakan saja yang sebenarnya, Bang?" tanya salah seorang anggota tim elit.
"Ini hal yang sangat menarik bagiku. Aku sangat mengenal pria yang Puspa lindungi itu. Dia adalah anggota intel yang pernah menyusup ke salah satu markas kita di pelabuhan peti kemas. Puspa adalah orang yang bertindak sebagai eksekutor kala itu. Aku melihat dengan jelas kalau Puspa menembaknya tepat di jantung. Tapi ajaibnya, dia bisa selamat dari kematian. Lebih menariknya lagi, Puspa malah melindunginya saat hendak kubunuh tadi." Sang Pimpinan Tim tersenyum penuh arti.
"Apa Puspa berkhianat? Mengapa tidak dilaporkan saja kepada Boss Besar?" sahut anggota tim yang lain.
"Sudahlah, mungkin dia punya rencana sendiri. Aku sangat mengenalnya. Dia adalah wanita yang sangat mengerikan dan berhati dingin. Tidak mungkin dia menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi musuhnya sendiri," jawab sang Pimpinan Tim.
"Tapi mengapa Abang malah menembaknya?" tanya anggota tim bingung.
"Apapun rencananya, aku akan mendukungnya. Aku sengaja menembaknya agar dia tidak dicurigai oleh anggota intel itu. Lagi pula, aku sudah terlatih untuk menembak dengan tepat sasaran. Aku sengaja membuat tembakan yang meleset dari posisi jantungnya. Aku pastikan dia tidak akan mati karena tembakanku itu." Sang Pimpinan Tim tersenyum.
"Baiklah, aku mengerti, Bang. Aku harap Puspa baik-baik saja. Dia adalah salah satu anggota terbaik yang dimiliki Boss Besar saat ini. Beliau pasti akan murka jika terjadi sesuatu padanya."
"Tentu saja Boss Besar akan murka, bahkan bisa menghabisi kita semua jika Puspa tewas di tangan kita. Aku merasa hubungan mereka bukan sekedar hubungan antara Boss dan bawahan. Perhatian Boss Besar kepada Puspa itu sangat tidak biasa." Sang Pimpinan Tim seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Maksud Abang, mereka ..."
"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Yang jelas, wanita itu adalah kesayangan Boss Besar. Jangan coba-coba mengusiknya."
__ADS_1
Sang Pimpinan Tim memerintahkan anak buahnya untuk membubarkan diri. Mereka akan dipanggil lagi jika mendapatkan misi dari Mr. Danu.
***