Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 38 - Pembunuh Yang Tersisa


__ADS_3

Orang-orang terlihat panik mendengar instruksi dari Pramuja. Mereka berusaha mencari benda apa saja yang bisa digunakan untuk senjata. Ada yang mengambil pisau dapur, sapu, teflon, sampai kursi.


"Ada apa ini, Mas? Apa yang sedang terjadi?" Viola bertanya dengan kebingungan.


"Aku juga tidak sepenuhnya mengerti, Pram. Aku tahu kalau penjaga vila adalah pembunuh. Tapi mengapa kau terlihat panik? Bukankah kita sudah biasa menghadapi pembunuh?" Zulfikar bertanya keheranan.


"Apa kau tidak curiga saat melewati pemukiman warga pulau?" tanya Pramuja.


"Selain rumah yang sangat jarang dan tatapan penduduk yang aneh, tidak ada lagi yang aneh." Zulfikar mencoba berpikir keras.


"Penjaga vila dan kapten kapal yang mengantar kita itu pernah mengatakan kalau mata pancaharian penduduk pulau adalah sebagai nelayan. Tapi saat aku melewati pemukiman penduduk pulau, aku tidak melihat satu pun jala tergantung. Biasa nelayan mengantung jalanya di luar rumah. Selain itu, tidak ada kapal satu pun di bibir pantai maupun di sekitar rumah penduduk pulau. Bukankah itu sangat aneh." Pramuja mengungkapkan analisanya.


"Kau benar juga, Pram! Jadi siapa sebenarnya mereka?" Zulfikar bertanya dengan penasaran.


"Aku tidak tahu pasti siapa mereka. Yang jelas, mereka bukanlah orang baik. Mereka bekerjasama dengan penjaga vila. Mungkin kru yang dibunuh itu telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat sehingga harus disingkirkan."


"Jadi kita sekarang harus bagaimana?" Viola terlihat ketakutan.


"Kita semua harus bertahan hidup. Usahakan lindungi diri kalian masing-masing. Aku, Zulfikar, Puspa, dan Lestari mempunyai kemampuan beladiri. Kami akan berusaha melindungi kalian semua," ujar Pramuja.


Puspa terlihat masuk ke dalam kamarnya dan mencari sesuatu dalam tasnya. Itu adalah sebuah pistol. Dia menyambar jaket kulit yang tergantung, lalu memakainya. Pistol diselipkan di kantong bagian dalam jaketnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Mr. Danu di panggilan masuk. Puspa mengangkat teleponnya sembunyi-sembunyi, berusaha agar tidak terdengar sampai ke luar.


Aku sudah mendengar laporan dari salah seorang anak buah kita di pulau itu. Eksekusi mereka, jangan sampai ada yang tersisa! Kau harus berhati-hati dan jangan lupa lindungi Lestari!


Terdengar suara Mr. Danu memberikan perintah kepada Puspa.


"Baik, Boss! Akan saya laksanakan."


Puspa menutup telepon setelah menyanggupi perintah dari Mr. Danu.

__ADS_1


Sementara di kantor polisi wilayah Kepulauan Seribu, Kapten Kapal yang mengantarkan rombongan Pramuja dan rombongan sutradara terlihat datang menghadap.


"Apa kamu ada mengantarkan turis ke pulau hantu itu?" tanya seorang anggota polisi.


"Tidak ada, Pak. Sudah lama tidak ada turis yang datang ke pulau itu," jawab Kapten Kapal. Jelas saja dia telah berbohong.


"Aku mendapat laporan ada pembunuhan di pulau itu. Peneleponnya mengaku sebagai turis di pulau itu," kata petugas kepolisian.


"Itu tidak mungkin, Pak. Pulau itu adalah pulau pribadi milik miliarder Danuari Setiawan. Tidak ada turis yang bisa keluar masuk pulau itu seenaknya tanpa izin pemilik pulau. Lagi pula, hanya ada beberapa orang penjaga vila yang tinggal di pulau itu." Kapten Kapal menjelaskan.


"Yah, aku juga berpikir begitu. Pulau itu juga tak berpenduduk. Hanya ada vila milik pengusaha itu di sana. Mungkin ini hanya telepon iseng. Sebelumnya juga ada telepon iseng yang mengaku berasal dari pulau itu dan mengatakan hal-hal yang aneh," ujar polisi itu.


"Apa katanya, Pak?" tanya sang Kapten Kapal penasaran.


"Dia mengatakan penduduk pulau adalah pembunuh. Tentu saja aku tidak mempercayainya. Pulau itu saja tak berpenduduk, bagaimana bisa ada penduduk pulau yang membunuh, hahaha ..." Petugas itu tertawa geli.


"Kalau tidak ada apa-apa lagi, bolehkah saya pergi sekarang, Pak?" tanya sang Kapten Kapal.


Kapten Kapal segera keluar dari kantor polisi. Dia terlihat menelepon seseorang.


"Semuanya beres, Boss. Polisi tidak akan datang ke pulau itu," ujar sang Kapten Kapal.


Bagus, aku akan mengirimkan tim elit untuk membantu Puspa membantai orang-orang itu. Kau juga segeralah pergi ke pulau itu. Kau harus memastikan Lestari anakku, pulang dengan selamat.


Terdengar suara Mr. Danu dari seberang telepon.


"Baik, Boss, laksanakan." Sang Kapten Kapal menutup teleponnya dan memacu sepeda motornya menuju dermaga tempat kapalnya bersandar.


Dari arah yang berlawanan dengan kapal yang dikemudikan sang Kapten Kapal, terlihat sebuah speed boat tengah melaju menuju pulau. Di dalamnya ada beberapa orang berpakaian hitam dan memakai masker serta penutup kepala berwarna senada. Mereka terlihat seperti ninja. Di tangan mereka sudah memegang senjata tajam. Ada katana yang biasa dipakai samurai, golok, hingga tombak. Sebuah pistol juga terselip di masing-masing pinggang orang-orang misterius yang dilabeli tim elit oleh Mr. Danu itu.


"Apa kalian sudah siap untuk membantai orang-orang itu?" teriak salah seorang anggota tim elit itu. Suaranya berbaur dengan suara mesin speed boat yang memekakan telinga.

__ADS_1


"Puspa ada di sana. Sepertinya wanita itu bisa membantai mereka seorang diri," teriak anggota yang lain.


"Kau benar juga. Tapi Boss juga menyuruh kita membersihkan tempat itu, termasuk mayat-mayat orang yang akan kita bantai nanti," teriak anggota yang pertama kali bicara tadi.


Speed boat yang ditumpangi para pasukan elit hampir tiba di dermaga pulau, sementara kapal yang dikemudikan sang Kapten masih melaju menuju Pulau Hantu.


***


"Pus ... Puspa ... apa kau baik-baik saja di dalam?" Zulfikar mengetuk pintu kamar Puspa dengan cemas.


"Aku sebenarnya tidak mau lagi mengotori tanganku ini dengan darah, tapi aku harus mematuhi perintah Boss Besar."


Puspa berkata dalam hati sambil memandangi kedua tangannya. Dia meraih pisau petualang di atas meja, lalu segera keluar dari kamar.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya mencari senjata ini!"


Puspa menghunuskan pisau di tangannya ke arah wajah Zulfikar. Tatapannya sudah berubah menjadi tatapan seorang pembunuh.


"Hei, hati-hati dengan pisaumu itu, Nona Jagoan! Salah-salah kau bisa melukaiku," protes Zulfikar.


"Aku harap kau berhati-hati, jika tidak ingin terluka." Puspa tersenyum dengan menyeramkan.


Sebagai seorang anggota intel berpengalaman, Zulfikar merasakan ada yang tidak beres dengan diri Puspa. Dia terlihat tampak sangat berbeda. Saat berhadapan dengan Puspa, Zulfikar justru merasakan aura yang sama saat dia berhadapan dengan seorang penjahat yang juga seorang pembunuh berdarah dingin.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Zulfikar bertanya dalam hati sambil berbalik memunggungi Puspa.


Puspa mengikuti Zulfikar dari belakang dengan pisau terhunus yang di arahkannya ke Zulfikar.


***

__ADS_1


__ADS_2