Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 5 - Kasus Pertama


__ADS_3

Petunjuk penting itu, terkadang didapat hanya dari sebuah gerakan atau tindakan kecil.


***


Di hadapan Pramuja dan Zulfikar, kini sudah berdiri petugas kamar mayat. Dengan berbekal kartu tanda anggota kepolisian, tentu sangat mudah untuk menggali informasi dari petugas kamar mayat itu.


"Ini mayat wanita korban perampokan dan perkosaan. Mayat ini, tadi pagi ditemukan di semak-semak tepi hutan. Tidak ada tanda pengenal satu pun. Polisi sekarang masih menyelidiki identitas wanita ini," tutur petugas kamar mayat itu.


"Terima kasih, Pak," kata Pramuja.


Petugas itu pun kembali ke kantor petugas kamar mayat yang berada di samping kamar mayat itu.


Pramuja melirik ke arah hantu wanita yang masih berdiri di situ.


"Di mana rumahmu? Apa benar anakmu terkurung di dalam lemari? Kalau begitu, kita harus segera mengeluarkannya sebelum terlambat," kata Pramuja.


"Aku tidak bisa mengingat alamatku. Kematian telah menghapus ingatanku. Untung saja aku masih mengingat anakku yang terkunci di lemari," sesal sosok hantu itu.


"Kau masih bisa mengingat anakmu, berarti kamu masih punya sisa-sisa ingatanmu. Berusahalah mengingat lagi!" pinta Pramuja.


Sosok hantu itu terdiam sejenak. Dia seperti mencoba untuk mengingat-ingat kehidupannya sebelum maut datang menjemput.


"Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Melati ... yah, kata melati terus saja berkelebat di ingatanku. Aku juga melihat bunga melati. Sepertinya saat masih hidup, aku menyukai bunga itu. Aku juga mengingat nama Perumahan Kejora. Mungkin aku tinggal di sana. Itu saja yang bisa kuingat. Waktuku sudah hampir habis. Aku mohon, selamatkan anakku!" ujar hantu wanita itu, lalu tiba-tiba menghilang.


"Apa kata hantu itu, Pram?" tanya Zulfikar.


"Rumahnya di Perumahan Kejora dan dia mengingat bunga melati. Mungkin rumahnya ditanami bunga melati," jawab Pramuja agak ragu.


"Tunggu apalagi, Pram? Ayo kita segera mencari tempat itu!" Zulfikar terlihat sangat antusias, walaupun masih duduk di kursi roda.


Akhirnya Pramuja dan Zulfikar memutuskan untuk mencari tempat itu. Zulfikar mencari lewat Google Maps. Ternyata memang ada nama Perumahan Kejora. Pramuja pun mengemudikan mobil sesuai arahan Zulfikar.


Mobil yang dikemudikan Pramuja, kini sudah sampai di depan gapura Perumahan Kejora. Mereka mencari pos satpam untuk meminta izin masuk.


Setelah memperkenalkan diri sebagai petugas kepolisian berpakaian preman, Pramuja pun dipersilakan masuk ke dalam pos satpam, sementara Zulfikar menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Pos satpam itu cukup luas. Berukuran 3x3 meter. Ada dua orang satpam yang sedang berjaga di sana. Pramuja dipersilakan duduk di sebuah kursi yang kosong.


"Memangnya ada perlu apa ya, Mas-Mas Polisi ini datang kemari?" tanya seorang petugas satpam.


"Kami sedang menyelidiki kasus perampokan dan pembunuhan," sahut Pramuja.


"Sepertinya keadaan di sini aman-aman saja. Tidak ada kasus perampokan, apalagi pembunuhan," kata satpam itu keheranan.


"Apa benar begitu? Apa tidak ada orang yang mencurigakan masuk kemari?" tanya Pramuja.


"Tidak ada, Mas. Setiap tamu yang datang, wajib melapor ke sini. Anda bisa lihat sendiri, ada portal yang dipasang di gapura perumahan ini. Tidak ada yang bisa keluar masuk seenaknya tanpa izin petugas jaga," terang petugas satpam yang lain.


"Aneh sekali. Aku yakin, memang di sini tempatnya," kata Pramuja dalam hati.


"Apa di sini ada rumah yang ditanami bunga melati?" tanya Pramuja kemudian.


"Wah, kalau itu kurang tahu, Mas. Kami hanya bertugas menjaga gerbang saja. Kalau yang bertugas keliling kompleks biasanya ada wakar, itu pun tugasnya tengah malam. Kalau jam segini, dia belum datang," kata satpam itu lagi sambil menunjuk jam yang tergantung di dinding. Jam masih menunjukan pukul 8 lewat 35 menit, waktu malam hari.


"Kalau anda mau, saya bisa menemani anda berkeliling. Tapi saya tidak menjamin anda akan menemukan petunjuk apapun. Sepertinya anda salah tempat. Tidak mungkin terjadi perampokan di sini, apalagi pembunuhan seorang wanita. Perumahan ini sangat aman dan damai," kata petugas satpam yang satunya.


"Oh iya, apa kalian punya daftar nama penghuni perumahan ini?" tanya Pramuja.


Petugas satpam mencari-cari sesuatu di laci. Dia mengambil beberapa lembar kertas berisi nama-nama dan alamat penghuni perumahan itu. Pramuja meminta izin untuk membawa catatan itu. Tentu saja satpam itu mengizinkan.


Pramuja kembali ke mobil. Zulfikar penasaran menunggu hasilnya.


"Bagaimana, Pram? Apa kamu menemukan petunjuk?" tanya Zulfikar.


"Tentu saja, aku sudah menemukan petunjuk besar. Segera hubungi markas atau kantor polisi terdekat. Minta mereka mengirimkan tim untuk menyisir perumahan ini. Aku yakin, memang di sinilah tempatnya. Jangan lupa juga minta kirimkan ambulance dan petugas medis," ujar Pramuja tenang.


"Hei, apa satpam itu memberi petunjuk penting?" tanya Zulfikar keheranan, sambil meraih ponsel dan mulai menghubungi markas dan kantor polisi terdekat.


"Nanti saja kujelaskan. Sekarang, kita harus mencari rumah korban secepatnya," kata Pramuja sambil menelusuri nama-nama yang ada di kertas yang dipegangnya.


"Kita harus mulai dari mana? Nama korban saja kita tidak tahu," kata Zulfikar sambil ikut menelusuri nama-nama yang ada di catatan itu.

__ADS_1


"Melati ... cari yang namanya Melati," kata Pramuja yakin.


Zulfikar pun mencoba mencari nama Melati di daftar itu, tapi hasilnya nihil. Tidak ada nama Melati tertulis di kertas-kertas itu.


"Jangan-jangan, hantu itu menipu kita. Kalau dipikir-pikir, kita terlihat konyol mengikuti petunjuk hantu itu," keluh Zulfikar.


"Ini dia! Blok B No. 13. Di sini tempatnya!" seru Pramuja sambil cepat-cepat menyalakan mobil dan mengarahkannya masuk ke dalam perumahan.


"Apa ini? Bukan Melati nama pemilik rumahnya, tapi Aidil Gunawan dan Jasmine Fauziah. Sepertinya, mereka pasangan suami-istri." Zulfikar kebingungan.


Tidak beberapa lama, mobil yang dikemudikan Pramuja sudah sampai di depan rumah yang dimaksud. Memang ada sebuah pohon bunga melati dalam pot bunga di teras depan.


"Hei, kamu masih membawa peralatan di mobilmu kan?" tanya Pramuja sambil mengambil kursi roda, lalu membantu Zulfikar duduk di atasnya.


"Maksudmu peralatan membobol rumah? Tentu saja aku selalu membawanya. Cari saja di bagasi!" sahut Zulfikar.


Pramuja bergegas mencari peralatan di bagasi mobil Zulfikar. Setelah ketemu, dia segera mencoba membobol pintu masuk rumah tersebut.


Klik ...


Pintu masuk sudah terbuka. Pramuja segera berkeliling menggeledah isi rumah. Dia masuk ke kamar-kamar untuk memeriksa lemari.


Dug!!! Dug!!! Dug!!!


Terdengar bunyi aneh di sebuah kamar. Pramuja bergegas memeriksa kamar itu. Dia langsung menuju lemari. Terkunci ... Sementara suara itu terdengar jelas dari dalam lemari.


Dengan segera, Pramuja kembali mencoba membobol lemari yang terkunci dengan peralatan yang dibawanya.


Klik ...


Lemarinya terbuka dan tampak sesosok tubuh anak kecil berusia sekitar 2 tahun. Anak itu terlihat lemas.


Pramuja segera mengendong tubuh anak kecil itu keluar rumah. Zulfikar menunggu di luar dengan cemas. Dia mendapatkan informasi, bahwa para polisi dan ambulance sedang menuju ke sana.


***

__ADS_1



__ADS_2