Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 31 - Motif Pelaku


__ADS_3

Berbekal surat perintah, polisi membawa tersangka nomor 2, yaitu Ayu ke kantor polisi. Mereka juga membawa Desi, Meta, dan Ponirah untuk meminta keterangan lebih dalam.


"Langsung saja, kenapa saudari Ayu membunuh saudari Linda?" tanya Zulfikar yang mulai melakukan interogasi.


"Saya tidak membunuhnya, Pak!" kilah Ayu.


"Bukti-bukti sudah jelas dan kami menarik kesimpulan bahwa kaulah pelakunya," ujar Zulfikar.


"Jadi kamu yang membunuh Linda, Yu? Kenapa kau tega membunuhya? Bukankah kita semua sahabat?" Desi yang ada di ruangan yang sama, tiba-tiba mendamprat Ayu.


"Hahaha ... sahabat kau bilang? Sebenarnya sahabat macam apa yang menuduh sahabatnya yang lain membully-nya? Gara-gara video pengakuan palsunya itu, kita semua dihujat masyarakat. Bahkan aku mendapat cibiran dari teman-teman di sekolah." Ayu menatap Desi dengan tajam.


"Kuakui Linda kali itu benar-benar keterlaluan. Bukan hanya kamu, tapi aku dan Desi juga mendapat tatapan sinis dari orang-orang, bahkan komentar-komentar yang menyakitkan. Tapi, apa hanya gara2 itu lantas membuatmu tega membunuhnya? Aku bahkan menganggap semua hujatan dari orang-orang itu sebagai angin lalu. " Meta ikut angkat bicara.


"Kau ini benar-benar terlalu cuek jadi orang, Met! Kau bahkan tidak tahu kalau selama ini Linda dan Desi sering membullyku. Semua pengakuan yang dilontarkan Linda di video live itu memang benar adanya. Tapi akulah orang yang mengalami hal itu, bukan dia. Justru dia adalah pelakunya, tapi dia malah playing victim. Itu benar-benar membuatku muak. Orang seperti itu memang pantas untuk mati, hahaha ..." Ayu tertawa dengan menyeramkam.


"Benarkah semua yang dikatakan Ayu itu, Des?" Meta bertanya dengan sengit kepada Desi.

__ADS_1


Desi tidak dapat menyangkal semua pernyataan Ayu. Dia hanya mengangguk lemah.


"Tidak kusangka kau dan Linda tega merundung Ayu!" Meta terlihat marah.


"Sudah terlambat, Met! Nasi telah menjadi bubur. Desi harus banyak bersyukur karena polisi bisa menangkapku sekarang. Sebenarnya aku juga sudah merancang pembunuhan untuk Desi. Tapi sayangnya aku sudah tertangkap duluan," ujar Ayu.


"K-kau juga mau membunuhku?" Desi terbata.


"Tentu saja. Aku benar-benar menikmati saat membunuh Linda. Aku ingin merasakan lagi sensasi itu dengan membunuhmu, Des!" Ayu tersenyum dengan menyeramkan.


***


Beberapa hari kemudian, Intan mendatangi Pramuja dan Zulfikar di kantor polisi. Dia diberitahu ayahnya kalau mereka sedang berada di sana.


Memang sangat sulit menemui kedua anggota intel itu karena mereka jarang sekali ke kantor, ditambah lagi mereka sedang mengambil cuti panjang pasca insiden penembakkan oleh para anggota mafia yang hampir merenggut nyawa mereka.


"Ada apa mencari kami, Ntan?" tanya Pramuja yang sudah berada di ruangan AKP Hendarto.

__ADS_1


"Saya mau memberitahu, Om, bahwa arwah Linda sudah tenang. Dia datang kembali di dalam mimpiku dan mengucapkan terima kasih," ujar Intan.


"Baguslah kalau begitu. Kami harap tidak terjadi lagi kasus semacam ini di sekolah manapun. Kalian ini masih muda. Sebaiknya fokus belajar saja. Tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi sampai melakukan tindakan perundungan kepada teman maupun junior kalian." Pramuja menasehati Intan.


Dia kembali meminjam tangan Intan untuk mengetahui arwah Linda betul-betul sudah tenang.


Pramuja masuk kembali ke dalam ingatan mimpi Intan. Linda memang datang dan mengucapkan terima kasih. Tapi setelah arwah Linda menghilang, tiba-tiba muncul sesosok wanita berwajah busuk dipenuhi belatung.


"Kamu akan mati!!!" serunya sambil menunjuk ke arah Pramuja.


Pramuja tersentak dari konsentrasinya. Kejadian itu membuat beberapa bulir peluh jatuh dari wajahnya.


"Ada apa, Om? Apa ada yang salah?" tanya Intan penasaran.


"Tidak ada apa-apa. Linda benar-benar sudah tenang di alam sana." Pramuja tersenyum lalu mengajak Zulfikar keluar untuk makan siang.


***

__ADS_1


__ADS_2