Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 36 - Alibi Yang Sempurna


__ADS_3

Pramuja memberikan kode kepada Zulfikar untuk mengajukkan pertanyaan kepada para tersangka.


"Siapa saja yang tadi pergi meninggalkan vila?" tanya Zulfikar yang membantu penyelidikan.


"Sebelum jam makan malam, asistenku tadi pergi keluar untuk mencari barang-barang yang kuminta. Dia pergi ke rumah penjaga vila," kata Viola.


"Anita juga tadi pergi keluar sebelum jam makan malam," tuding salah seorang aktris figuran.


"Bukan aku saja yang keluar, tapi Wijaya juga pergi keluar rumah sebelum jam makan malam." Anita menuding Wijaya.


"Aku pergi keluar untuk merokok. Para kru pasti bisa membuktikan alibiku." Wijaya berkata dengan yakin.


"Aku juga bisa membuktikan alibi kedua wanita ini. Mereka tadi memang pergi ke rumahku untuk mencari barang," ujar penjaga vila.


"Sebenarnya aku juga melihat kedua wanita itu lewat, karena aku tadi sedang duduk di teras." Pramuja membenarkan alibi Anita dan asistennya Viola.


"Kalau boleh tahu, barang-barang apa yang mereka cari?" tanya Zukfikar kepada penjaga vila.


"Wanita ini mencari koyo dan krim otot. Saya memang menyediakan obat-obatan, jika sewaktu-waktu pengunjung vila ada yang membutuhkannya," kata penjaga vila sambil menunjuk asistennya Viola.


"Untuk apa koyo dan krim otot itu?" tanya Pramuja kepada asistennya Viola.


"Viola mengeluhkan sakit dan pegal-pegal di daerah bahu dan punggungnya. Makanya dia menyuruhku mencari benda-benda itu," kata asistennya Viola.


Viola pun membenarkan hal itu.


"Kalau wanita yang satunya lagi, dia mencari terasi dan sebotol saos tiram untuk memasak," kata penjaga vila sambil menunjuk Anita.


"Benar, Anita memang membawa barang-barang itu kepada kami yang sedang memasak di dapur. Tapi kami sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang-barang itu," ujar seorang aktris.


"Hei, bukankah kalian berkata ingin menumis kangkung? Bukankah harus ditambahkan saos tiram agar lebih lezat? Dan terasi itu tentu akan sangat nikmat dicampur ke dalam sambal." Anita membela diri.


"Apa kamu tidak tahu kalau aku alergi udang? Bukankah terasi terbuat dari udang? Aku juga tidak bisa makan terasi," kata aktris itu lagi.


"Ya, mana aku tahu! Memangnya aku harus tahu semua itu? Kau hanya aktris figuran, bukan hal penting untuk mengingat kebiasaan makanmu," semprot Anita. Dia tidak terima dicurigai sebagai pembunuh.

__ADS_1


"Kalau kau merasa tidak membunuh sutradara, mengapa harus marah? Aku dengar selentingan kabar kalau kau pernah tidur dengan sutradara untuk mendapatkan peranmu itu. Huh, sayang sekali ya, sudah tidur sama sutradara, malah peran utama diberikan kepada Viola!" cibir aktris figuran tadi.


"Kurang ajar!" Anita menjadi sangat marah dan ingin menampar orang yang mencibirnya itu.


"Sabar, Anita!" Wijaya mencegah aksi Anita.


"Sayang sekali, pria setampan Wijaya harus berpacaran dengan wanita yang tubuhnya bekas diberikan kepada sutradara. Bukankah Wijaya lebih cocok dengan Viola? Mereka sama-sama mendapat peran utama dan wajah Viola juga jauh lebih cantik daripada Anita," cibir aktris yang lain.


"Hei, hei ... kalian mengapa senang sekali bergosip? Aku sarankan kalian menjaga lidah kalian itu. Bisa saja kalian terbunuh gara-gara lidah tajam kalian itu!" Puspa yang merasa terganggu dengan obralan wanita yang menurutnya tidak berguna itu, ikut angkat bicara.


"Huh, memangnya kamu siapa melarang kami bicara?" sungut salah seorang aktris figuran.


"Kamu mau tau siapa aku? Aku adalah orang yang akan memotong lidahmu jika kau berani bergosip di hadapanku lagi!" Puspa menarik kerah baju wanita itu lalu mencengkramnya dengan kuat sambil menatapnya tajam.


Wanita yang berprofesi sebagai aktris figuran itu, merasakan kekuatan yang besar dan aura yang sangat mengerikan pada sosok Puspa. Dia menjadi sangat takut dan mulai berusaha menutup mulutnya dari obrolan yang tidak disukai Puspa.


"Sudahlah, Pus! Kau ini seperti preman saja!" Zulfikar mencegah Puspa bertindak lebih arogan lagi.


Puspa melepaskan cengkraman dari kerah baju wanita itu. Wanita itu pun menarik napas lega, seolah-olah baru saja terhindar dari maut.


"Tidak kemana-mana. Aku langsung pulang ke rumah yang kutempati. Para kru bisa membuktikan alibiku. Jika aku masuk ke rumah yang sutradara tempati, bukankah Mas Detektif ini akan melihatku?" Wijaya berusaha meyakinkan alibinya.


"Dia memang pergi ke rumah kami untuk merokok. Dia juga sempat meminjam toilet untuk buang air besar. Setelah itu, dia kembali ke rumah yang dia tempati," ujar seorang anggota kru.


"Apa kamu yakin dia tidak keluar dari toilet?" tanya Zulfikar.


"Tidak, kami semua sedang berada di ruang tengah, beberapa orang lagi sedang memasak di dapur. Jika dia keluar dari toilet, tentu saja harus melewati dapur dan ruang tengah. Lagi pula, saat ada yang hendak memakai toiletnya, pintunya terkunci. Berarti dia masih ada di dalam," ujar salah seorang kru.


"Aku memang melihatnya masuk ke rumah yang dia tempati." Pramuja membenarkan alibi Wijaya.


"Jadi siapa pembunuhnya? Bukankah Mas Detektif akan melihat dengan jelas jika ada yang masuk ke rumah yg ditempati sutradara? Kalau Mas Detektif tidak melihat apa-apa, berarti pembunuhnya adalah hantu." Salah seorang anggota kru menyimpulkan sambil bergidik ngeri.


"Itu benar. Semua orang yang keluar vila bisa dibuktikan alibinya. Mas Detektif ini juga sebagai saksi kunci. Tapi Mas ini bilang tidak melihat seorang pun yang keluar atau masuk ke rumah sutradara. Bukankah cuma hantu yang bisa keluar masuk tanpa terlihat?" Wijaya menyetujui pendapat kru tadi.


"Aku yakin pembunuhnya bukan hantu, tapi salah seorang di antara kita." Pramuja berkata sambil berpikir.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang bisa membunuh sutradara tanpa diketahui kapan keluar-masuk ke TKP?" Wijaya meragukan pendapat Pramuja.


"Biarkan dia berpikir!" sela Zulfikar.


"Satu pertanyaan lagi. Setelah kita tiba di vila ini, siapa saja yang masuk ke rumah sutradara?" tanya Pramuja.


"Beberapa orang kru, Anita, Wijaya, aku dan asistenku, tadi sore berada di rumah sutradara untuk mengobrol," ungkap Viola.


"Apa ada yang terlihat mencurigakan?" tanya Pramuja.


"Tidak ada. Hanya saja, Wijaya, Anita dan Asistenku sempat meminjam toilet untuk buang air kecil," jawab Viola.


Pramuja hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penuturan Viola.


"Aku akan keluar sebentar, Zul. Tolong jaga mereka di sini. Jangan biarkan seorang pun keluar dari sini!"


Pramuja keluar dari rumah dan mulai berjalan di depan area vila. Dia mengamati satu persatu rumah yang berjejer. Tampak rumah penjaga vila terletak agak jauh dari deretan rumah yang berjejer tapi masih terlihat jelas.


Pramuja mencoba masuk ke dalam rumah yang ditempati sutradara. Walaupun dari depan semua rumah vila itu terlihat sama, tapi terdapat perbedaan letak jendela dan posisi toiletnya. Rumah yang ditempati sutradara ternyata memiliki jendela tanpa teralis di area belakang. Itu adalah akses yang paling masuk akal untuk si Pembunuh keluar masuk tanpa dilihat oleh Pramuja.


Benar saja, jendela itu ternyata tidak terkunci. Posisi persis berada di samping toilet. Bisa saja Wijaya, Anita, atau asistennya Viola membuka kuncinya dengan berpura-pura meminjam toilet sutradara.


Posisi belakang rumah tersisa 1 meter sebelum ada tembok panjang yang membatasi area belakang vila. Itu sudah cukup untuk seseorang bisa lewat dan keluar masuk dari jendela itu.


Rumah penjaga vila ada di belakang tembok pembatas, tapi ada sebuah pintu di ujung tembok. Persis di belakang rumah yang ditempati Pramuja. Ada juga gang kecil di samping rumah yang ditempati Pramuja menuju rumah penjaga vila. Itu untuk mempermudah penjaga vila mengakses area vila. Pintunya juga sudah terbuka. Mungkin karena Anita dan asistennya Viola tadi lewat situ untuk menuju rumah penjaga vila.


"Orang itu yang paling mencurigakan. Tapi bagaimana aku mematahkan alibinya yang sempurna itu?" gumam Pramuja, sambil masuk ke dalam toilet.


Ekor mata Pramuja menangkap sesuatu di pintu sebelah dalam. Dia terlihat senang, seperti menemukan harta karun.


Pramuja segera keluar dari rumah sutradara dan berlari ke arah salah satu rumah. Dia mencari toilet dan memeriksa pintu sebelah dalam.


"Sempurna!" serunya karena telah menemukan petunjuk penting untuk memecahkan kasusnya.


***

__ADS_1


__ADS_2