
Puspa yang melompati jendela untuk mengejar Pembunuh Bercelurit, sudah berhasil menyusul si Pembunuh itu.
Melihat teman mereka dikejar-kejar Puspa, beberapa orang pembunuh segera berlari ke arah Puspa yang sedang menyerang teman mereka.
"Sreeeet!!!"
Puspa berhasil menyabetkan golok di tangannya ke leher si Pembunuh Bercelurit.
Darah segar menyembur dari luka yang terbuka. Pembunuh itu berusaha menghentikan darahnya, namun gagal. Dia tewas seketika di tangan Puspa.
Lima orang pembunuh yang lain, sudah mengepung Puspa dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Sekali melihat saja, orang-orang tentu akan memprediksi kalau Puspa akan kalah melawan 5 orang pembunuh bersenjata itu.
Puspa sendiri merasa akan kesulitan jika melawan 5 orang sekaligus. Mereka semua adalah para pembunuh berdarah dingin. Tentu saja mereka jauh lebih kuat daripada puluhan anggota sekte Bunga Berdarah yang pernah mengeroyoknya sewaktu kasus di desa Kembang Setaman tempo hari.
Tidak ingin mengambil risiko, Puspa menjatuhkan goloknya ke tanah dan mengambil pistol dari balik jaket kulitnya.
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Puspa menembakkan pistolnya ke arah para pembunuh itu. Satu persatu pembunuh itu tumbang, saat peluru yang melesat dari pistol yang digenggam Puspa, berhasil menembus tubuh mereka.
Mendengar suara tembakan, para pembunuh yang sibuk mengepung rumah yang berisi rombongan pengunjung pulau, beralih ke arah datangnya tembakan itu.
Puspa menyadari kalau bunyi tembakkan akan menarik perhatian para pembunuh yang tersisa. Peluru di dalam pistolnya tentu tidak akan cukup untuk menembaki semua pembunuh yang berjumlah puluhan orang itu.
Puspa mengambil golok yang dijatuhkannya ke tanah. Tangan kirinya memegang pistol, sementara tangan kanannya memegang golok.
"Huh, kalaupun harus mati, aku tidak akan mati dengan mudah. Aku akan bertarung sampai titik darah penghabisan!" Puspa berkata dengan tatapan yang menyala-nyala.
Zulfikar yang melihat Puspa terdesak, segera berlari ke arah Puspa. Dia memasang kuda-kuda pencak silatnya, bersiap untuk bertarung bersama Puspa.
"Apa yang kau lakukan di sini bodoh?!!" Puspa memarahi Zulfikar.
"Tentu saja aku tidak mungkin membiarkanmu bertarung sendirian melawan para pembunuh itu!" sahut Zulfikar.
"Dasar bodoh! Kau sudah bosan hidup ya? Cepat pergi dari sini!" Puspa medorong tubuh Zulfikar dengan kakinya.
"Tidak mau! Kalaupun harus mati, aku ingin mati bersamamu!" Zulfikar kembali ke posisinya.
"Dasar pria aneh!" rutuk Puspa.
"Kau juga wanita aneh!" balas Zulfikar.
Saat Puspa dan Zulfikar sibuk saling menggerutu, para pembunuh sudah berkumpul untuk menghabisi mereka berdua.
__ADS_1
Tangan Zulfikar yang terluka masih meneteskan darah segar. Dia segera mengambil katana dari tangan salah satu pembunuh yang tewas ditembak Puspa.
Pembunuh yang harus mereka hadapi berjumlah dua puluh orang lebih. Mereka semua memegang senjata tajam. Terlihat si Penjaga Vila berdiri paling depan dengan memanggul cangkul yang berlumuran darah.
"Ternyata kau yang membunuh anggota kru itu!" hardik Zulfikar.
"Tentu saja, siapa lagi? Sebentar lagi kau dan teman-temanmu juga akan menyusulnya ke neraka, hahaha!!!" Si Penjaga Vila tertawa dengan menyeramkan.
"Mengapa kau membunuhnya?" Zulfikar memcoba bertanya.
"Mengapa kau sangat penasaran sekali? Baiklah, agar kau tidak mati penasaran, aku akan memberitahumu sesuatu." Si Penjaga Vila tersenyum ke arah Zulfikar, sementara anak buahnya sudah bersiap dengan senjata yang terhunus di tangan masing-masing.
"Cepat katakan!" desak Zulfikar.
"Saat aku dipekerjakan di pulau ini, aku mencoba menjelajahi isi pulau dan aku pun menemukan harta karun yang tersembunyi. Aku mengajak teman-teman lamaku untuk berbisnis dengan harta karun tersembunyi itu. Mereka adalah kawanan perampok. Karena bisnis ini membutuhkan banyak tenaga, aku pun merekrut kawanan perampok yang lain," terang si Penjaga Vila yang ternyata adalah Boss Perampok itu.
"Harta karun apa itu? Mengapa kau malah membunuh orang-orang yang kau sendiri tidak mengenal mereka secara pribadi?" Zulfikar bertanya dengan penasaran.
"Sebuah ladang ganja yang cukup luas. Hasilnya bisa membuat kami semua kaya raya. Sayangnya, pulau ini masih sering didatangi orang. Kami membunuh orang-orang yang secara kebetulan mengetahui rahasia kami. Aku pun menyebarkan cerita kalau pulau ini sangat berhantu. Itu bertujuan agar para turis enggan datang kemari. Tapi hal itu justru menarik seorang sutradara film horor untuk syuting di tempat ini. Bahkan itu juga menarik perhatian anak pemilik pulau ini untuk datang dengan membawa teman-temannya, yaitu kalian." Si Penjaga Vila menjelaskan panjang lebar.
"Gara-gara terjadi pembunuhan di vila tempat kami menginap, maka kalian ingin membantai kami semua, bukan begitu?" Zulfikar mengambil kesimpulan.
"Ya, kasus pembunuhan itu bisa membuat polisi datang kemari untuk menyelidiki tempat ini. Itu memungkinkan ladang ganja kami akan ditemukan. Kami berencana menghabisi kalian semua agar pulau ini aman. Tentu saja aku sudah dihubungi polisi yang menanyakan tentang laporan pembunuhan yang datang dari pulau ini. Dan aku mengatakan kalau itu hanyalah telepon iseng. Polisi tidak tahu kalau pulau ini dihuni oleh orang-orangku, bahkan dia tidak tahu kalau pulau ini didatangi oleh kalian, hahaha ..." Si Penjaga Vila tertawa mengejek.
"Kau salah, polisi akan datang besok pagi. Malam ini ada badai, sehingga tidak memungkinkan mereka datang kemari," sahut Zulfikar.
"Apa? Badai? Tidak ada badai di Kepulauan Seribu, Bung! Polisi itu hanya meladeni telepon iseng dengan candaan sedang ada badai saja, hahaha ..." Si Penjaga Vila tertawa geli.
"Sudah cukup basa-basinya, Boss! Kita habisi saja mereka secepatnya!" seru seorang anak buah perampok.
Sementara di vila, Pramuja yang juga mendengar suara tembakan, mengintip dari balik tirai jendela. Dia melihat para pembunuh berlarian ke arah sumber suara tembakan.
"Aku harus memeriksa keadaan Puspa dan Zulfikar!" Pramuja berkata kepada orang-orang yang berkumpul dalam rumah.
"Aku ikut!" Lestari mengikuti Pramuja yang keluar dari jendela dapur yang telah pecah. Tanpa mereka sadari, Viola juga mengikuti mereka dari belakang.
Puspa mulai menembaki para pembunuh sampai pelurunya habis. Itu lumayan menewaskan beberapa orang pembunuh. Dia sekarang berkonsentrasi dengan golok di tangannya.
Zulfikar berusaha memegang katana dengan tangan kanannya yang terluka. Dia mulai menghalau para pembunuh yang menyerangnya. Dia mengayunkan katananya ke titik yang bukan daerah vital sehingga itu hanya melukai dan melumpuhkan pergerakan lawannya saja.
Berbeda dengan Zulfikar, Puspa justru menyerang daerah vital para pembunuh itu. Dengan sekali sabetan di tempat-tempat yang mematikan, sudah bisa menewaskan orang yang diserangnya.
Zulfikar merinding melihat wajah Puspa yang tampak tenang saat membantai orang-orang itu. Dia terlihat seperti pembunuh berdarah dingin yang bahkan lebih kejam dari para perampok sekaligus pembunuh yang menyerang mereka.
Secara logika, Puspa dan Zulfikar kalah jumlah dari para pembunuh. Meski berhasil mengalahkan beberapa orang, tapi mereka tidak sanggup menghalau semuanya. Mereka pun mulai terdesak.
Puspa berada di posisi yang tidak menguntungkan. Seorang pembunuh menebaskan goloknya ke arah Puspa yang dalam kondisi tidak sempat menangkis serangan itu.
"Puspa, awas!!!"
Zulfikar segera menerjang tubuh Puspa menjauh dari sasaran sabetan golok.
__ADS_1
Sreeeeeet!!!!
Sabetan golok mengenai punggung Zulfikar sampai bajunya terobek. Darah segar mengalir dari punggung Zulfikar yang terluka cukup parah. Tidak kuat menahan sakit, Zulfikar kehilangan kesadarannya
"Zul!!!"
Puspa menjerit mendapati tubuh Zulfikar yang terkulai lemah akibat melindunginya. Dia mengambil katana dari tangan Zulfikar dan mulai menyerang para pembunuh dengan tatapan marah. Dia tampak seperti Azumi, seorang samurai assasin wanita di sebuah film terkenal dari Jepang.
Tanpa ampun, Puspa menyabetkan katananya ke arah para pembunuh. Sesekali tubuhnya terkena senjata lawan, tapi dia tetap tidak menyerah. Puspa semakin terdesak, sementara tubuh Zulfikar sudah tidak bergerak lagi.
Di saat-saat genting, Pramuja dan Lestari datang untuk membantu Puspa. Pramuja menyuruh Lestari untuk mengamankan tubuh Zulfikar, sementara dia membantu Puspa bertarung.
Saat sedang sibuk, Pramuja melihat Viola yang ternyata dari tadi mengikuti mereka.
"Sedang apa kamu di sini? Bahaya! Cepat berlindung!" Pramuja berteriak ke arah Viola.
Viola terlihat kebingungan. Seorang pembunuh maju mengejar Viola.
Pramuja yang sibuk bertarung, tidak sempat lagi untuk menghadang pembunuh yang mengejar Viola, sementara Lestari terlihat sudah jauh menyeret tubuh Zulfikar.
Di saat pembunuh hendak mengayunkan golok untuk membunuh Viola, sebuah kekuatan tak kasat mata melindungi Viola dari sabetan golok itu. Pramuja sempat melihat sosok mahkluk halus yang waktu itu dilihatnya mengikuti Viola. Sosok mahkluk halus itu terlihat sedang mengerahkan kekuatannya untuk melindungi Viola dari pembunuh itu.
Pramuja mendapatkan beberapa luka robek dari sabetan senjata tajam. Secara logika, mereka tidak mungkin menang melawan para pembunuh itu. Mahkluk halus yang melindungi Viola sendiri, hanya bisa melindungi Viola saja. Lagi pula, dia tidak bisa menyerang balik si Pembunuh.
Posisi Pramuja dan Puspa sudah terpojok. Para pembunuh sudah bersiap untuk mengeksekusi mereka.
Saat seorang pembunuh akan menebaskan goloknya ke leher Puspa, sebuah peluru menembus jantungnya secara tiba-tiba. Pembunuh itu tewas seketika.
Para membunuh lain melihat ke arah datangnya suara tembakan. Terlihat segerombolan orang berpakaian seperti ninja sedang berdiri dengan senjata tajam di tangan kiri dan pistol di tangan kanan mereka.
Belum sempat para pembunuh itu tersadar dari kagetnya, para ninja itu berlari dengan sangat cepat ke arah mereka.
Sreeet!!! Sreet!!! Sreeet!!!
Dor!!! Dor!!! Dor!!!
Terdengar suara sabetan senjata tajam yang merobek daging para pembunuh disertai bunyi letusan pistol yang pelurunya telah menembus jantung mereka. Para ninja itu terlihat seperti seorang pembunuh profesional. Hanya dalam sekejap mata, para pembunuh itu sudah tewas tak bersisa.
Si Penjaga Vila terlihat ketakutan melihat semua anak buahnya tewas dibantai oleh para ninja. Dia bermaksud kabur, tapi terlambat. Seorang ninja menusukkan katana hingga menembus tubuhnya. Si Penjaga Vila akhirnya tewas seketika.
Gerombolan ninja mendekati tubuh Puspa dan Pramuja.
"Siapa kalian?!!" teriak Pramuja tanpa rasa takut.
Seorang ninja mengarahkan pistol ke arah jantung Pramuja. Puspa segera bergerak melindungi tubuh Pramuja dengan tubuhnya. Matanya menatap tajam ke mata orang bepakaian ninja itu.
"Hmmm ... menarik sekali," ujar pria berpakaian ninja, sambil menarik pelatuk pistolnya.
Sebuah peluru menembus dada Puspa dan membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Dari sebuah arah, terlihat sang Kapten Kapal datang dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Kau beruntung kali ini! Lain kali, aku benar-benar akan membunuhmu!" Ninja itu berkata kepada Pramuja, sambil memberi kode kepada ninja yang lainnya agar segera pergi meninggalkan tempat itu.
***