
Belakangan ini, ada sebuah video yang viral di media sosial. Video itu berisi curahan hati seorang gadis remaja yang mengaku sebagai korban bullying atau perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sekolahnya.
Sebenarnya berat untuk mengatakan semua ini, tapi aku harus mengatakannya. Selama ini, aku menjadi korban bullying di sekolah. Teman-teman jahat kepadaku. Mereka sering menyiksaku. Toilet sekolah adalah tempat yang menyeramkan bagiku, sekaligus menjadi saksi bisu penderitaanku. Di sana, mereka bisa sepuas hati menyiksaku tanpa ketahuan guru atau teman-teman yang lain. Mereka menamparku, saat aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun, lalu mengurungku dalam toilet. Mereka juga memaksaku mengerjakan PR mereka, merobek buku pelajaranku, bahkan mereka juga memasukkan tikus mati ke dalam laci mejaku. Aku berusaha menerima semua itu, tapi ... sekarang mereka berusaha menjual tubuhku ke lelaki hidung belang. Jika tidak menuruti keinginan mereka, mereka mengancam akan menyiksaku lebih sadis lagi. Saat aku ditinggalkan sendiri dalam toilet yang terkunci, aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku.
Begitulah ucapan yang keluar dari mulut gadis remaja yang ada di video yang sat ini sedang viral tersebut. Dia mengatakan semua itu sambil menangis. Dari tampilan video, tampaknya dia sedang merekam video itu di dalam kamar. Video itu juga ditayangkan secara live pada akun youtube gadis remaja yang bernama Linda itu.
Linda, apa yang sedang kau lakukan di dalam?
Dari dalam video, terdengar suara gadis lain dari luar kamar.
Mereka datang ... Aku takut sekali!
Linda berkata setengah berbisik ke arah kamera.
Belum sempat Linda mematikan kameranya, segerombolan gadis remaja menerobos masuk ke dalam kamar. Linda cepat-cepat mematikan rekaman kameranya. Video siaran live itu pun berakhir.
Beberapa hari kemudian, sebuah sekolah menengah atas dihebohkan dengan penemuan mayat seorang gadis remaja yang tewas di dalam toilet sekolah. Ditemukan botol obat tidur di samping mayat korban. Di dalam botol tersebut, ada 2 butir obat tidur yang tertinggal. Sepertinya dia sengaja menelan pil tidur dalam jumlah banyak untuk mengakhiri hidupnya.
***
Di salah satu kantor polisi wilayah kota Jakarta, seorang gadis berseragam SMA sedang duduk di kursi tunggu. Gadis itu terlihat murung. Sepertinya dia sedang punya masalah.
Pramuja dan Zulfikar yang kebetulan lewat di depan gadis itu, meyapanya dengan ramah. Seppertinya mereka mengenal gadis remaja itu.
"Dek Intan sedang menyari ayah, ya?" tanya Pramuja dengan ramah.
Intan hanya mengangguk. Wajah terlihat lesu. Sepertinya dia kurang tidur.
__ADS_1
"Wah, Intan sudah besar ya! Sudah pakai seragam SMA. Terakhir ketemu masih kecil, masih pakai seragam SMP. Siapa sangka sekarang Intan jadi gadis yang cantik." Zulfikar terlihat kagum pada perubahan Intan yang sedikit lebih dewasa dari terakhir mereka bertemu.
"Ah, Om ini bisa saja! Intan merasa biasa-biasa saja kok." Intan tersipu malu.
Sewaktu Intan masih duduk di bangku SMP, dia sering bertemu dengan Zulfikar dan Pramuja. Dulu mereka sering ke rumahnya dan terkadang mengajaknya bermain monopoli. Intan sebenarnya sangat akrab dengan mereka. Tapi sekarang, dia merasa malu dekat-dekat dengan kedua pria tampan yang masih lajang itu.
"Jangan panggil Om dong! Kayaknya tua sekali. Aku kan belum menikah, pacar saja belum punya" protes Zulfikar sambil memberitahu kalau dirinya sedang jomblo.
"Ah, kau ini Zul! Bisa-bisanya kau menggoda anak atasan kita! Ingat tuh si Puspa! Jangan lihat cewek cantik senikut saja, langsung jelalatan itu matamu." Pramuja mengomeli Zulfikar.
"Kau ini, Pram! Pengertian sedikit dong! Seperti bukan anak muda saja," keluh Zulfikar.
"Ehem ... siapa yang bukan anak muda?"
Tiba-tiba sebuah suara yang berasal dari punggung Zulfikar mengagetkannya. Itu adalah suara AKP. Hendarto, atasannya.
"Ini, Pak! Tadi Zulfikar menggoda anak Bapak." Pramuja mengadukan keisengan Zulfikar.
"Sudahlah, Pram, Zul ... tidak usah berdebat," lerai AKP. Hendarto.
"Ada perlu apa kau mencari Ayah, Intan?" tanya AKP. Hendarto kepada anak gadisnya.
"Intan dan teman-teman Intan di sekolah, dihantui arwah Linda. Dia datang dalam mimpi dan berkata kalau dia telah dibunuh. Bukan hanya Intan saja yang mendapat mimpi itu, tapi teman-teman Intan yang lain juga." Intan menjelaskan permasalahannya. Itu mungkin menjadi penyebab mata lelahnya yang seperti kurang tidur itu.
"Masuklah dulu ke ruangan Ayah! Pram, Zul, kalian juga ikut masuk!" perintah AKP. Hendarto.
"Bukankah Linda temanmu yang korban bullying itu? Dia memang benar-benar meninggal karena bunuh diri. Hasil autopsinya menjelaskan bahwa ditemukan zat-zat yang terkandung dalam obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi dalam lambungnya. Dokter forensik juga menyatakan kalau dia tewas karena over dosis obat tidur. Kasusnya sudah ditutup dengan kesimpulan dia tewas bunuh diri." AKP. Hendarto menjelaskan saat mereka sudah berada di ruangannya.
__ADS_1
"Tapi Intan yakin kalau yang datang dalam mimpi Intan itu memang arwahnya Linda, Yah! Dia sepertinya meminta pertolongan menemukan pembunuhnya." Intan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Bagaimana menurutmu, Pram? Kau kan ahli dengan hal-hal yang berbau mistis seperti ini. AKP. Hendarto meminta pendapat Pramuja.
"Kemarikan tanganmu!" pinta Pramuja kepada Intan.
Intan menurut dan mengulurkan tangannya ke arah Pramuja. Pramuja pun mulai menggenggam tangan Intan.
"Hei, hei ... apa maksudnya ini Pram? Ternyata kau juga punya niat menggoda Intan," sindir Zulfikar.
"Kau diamlah dulu! Aku harus konsentrasi," sahut Pramuja.
AKP. Hendarto pun memberi kode agar Zulfikar tutup mulut.
"Sekarang kamu tutup mata dan konsentrasi. Ingat-ingat lagi mimpimu semalam," perintah Pramuja kepada Intan.
Intan menuruti perintah Pramuja dan mulai konsentrasi dan memejamkan matanya.
Pramuja juga memejamkan matanya. Dia mencoba masuk ke dalam mimpi di ingatan Intan. Dan benar saja, Pramuja melihat sesosok gadis remaja berwajah pucat dan seperti sedang putus asa. Dia mengatakan kalau dia telah dibunuh. Tapi dia tidak menyebutkan nama pelakunya.
Pramuja merasakan ada cahaya yang menyilaukan bergerak cepat ke arahnya. Cahaya itu mengahantamnya. Pramuja tersentak. Dia sudah kembali ke dimensi normal. Kepalanya sedikit sakit akibat benturan cahaya itu.
"Apa yang terjadi padamu, Pram?" Zulfikar terlihat cemas melihat sahabatnya sedang kesakitan.
"Tidak apa-apa, Zul. Aku tadi mencoba memasuki ingatan mimpinya Intan dan aku benar-benar melihat arwahnya Linda. Aku percaya dia benar-benar meminta pertolongan untuk mengungkapkan kasusnya," ujar Pramuja.
"Baiklah, aku aku panggilkan petugas yang menangani kasus itu. Barang bukti yang sudah dikumpulkan sebelum hasil autopsinya keluar, pasti masih tersimpan dengan baik di tempat penyimpanan arsip kasus."
__ADS_1
AKP. Hendarto memanggil beberapa polisi yang menangani kasus itu dan meminta semua barang bukti dan hasil penyelidikan diserahkan ke meja kerjanya.
***