
Pramuja berjalan ke arah gerombolan orang berjubah yang sudah babak belur dihajar Zulfikar dan Puspa itu.
"Siapa orang yang paling kaya di desa ini?" tanya Pramuja sambil tersenyum ke arah orang-orang itu.
"Mawar, Pak Kades dan Dokter Jaya yang bertugas di puskesmas!" jawab salah seorang anggota sekte.
"Apa kalian tahu dari mana mereka mendapatkan semua kekayaan itu?" tanya Pramuja lagi.
Orang-orang itu hanya menggeleng. Kalau dipikir-pikir, gaji sebagai kepala desa dan dokter puskesmas tidak akan cukup untuk gaya hidup mereka yang sangat mewah.
"Aku tadi lewat di depan tenda misterius itu dan aku mencium bau yang khas. Apa kalian juga mencium bau yang khas ketika melewati tenda itu?" tanya Pramuja.
"Itu seperti bau rumah sakit," celutuk seorang anggota sekte.
"Tepat sekali!" sahut Pramuja.
"Apa maksudnya itu?" tanya anggota sekte yang lain.
"Aku berani bertaruh, di dalam tenda itu pasti ada dokter dari puskesmas," ujar Pramuja.
"Sedang apa dia di sana? Pantas saja beberapa bulan ini, dia tidak terlihat mengikuti ritual." Anggota sekte yang lain lagi menyelutuk.
"Tentu saja untuk membedah para gadis tumbal. Mengambil organ-organnya untuk dijual di pasar gelap." Pramuja berkata dengan tenang.
"Bohong! Kalian jangan percaya dengan orang kota ini!" Mawar berteriak.
"Silakan diperiksa!" Pramuja tersenyum.
Gerombolan anggota sekte itu segera pergi menyerbu tenda misterius. Selang beberapa menit, mereka sudah kembali membawa seorang pria tua yang menjadi dokter di desa itu.
"Kamu benar, Mas Fotografer! Kami menemukan Dokter Jaya di dalam tenda, lengkap dengan peralatan bedah," lapor seorang anggota sekte.
"Mawar, mengapa kamu tega sekali menipu kami? Seruni anakku ... Maafkan ibu ... Ibu lebih medengarkan omongan perempuan iblis ini dan dengan sadisnya menyerahkan nyawamu sebagai tumbal. Dia bukan utusan sang Dewi, tapi dia adalah seorang iblis!" Seorang perempuan paruh baya menangis pilu.
Tiba-tiba Pramuja melihat sosok hantu perempuan yang membimbingnya masuk ke dalam hutan, muncul diselingi asap tipis berwarna putih.
Hantu itu menangis sambil memandang wanita tua yang sedang meratap pilu.
"Apa kau Seruni?" tanya Pramuja ke arah sosok hantu itu.
Hantu itu hanya mengangguk pelan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Sepertinya dia teramat sedih dan terluka.
__ADS_1
"Apa Seruni ada di sini? Di mana dia? Oh, Seruni anakku!" Wanita tua itu meratap pilu.
"Apa Seruni memiliki rambut panjang sebahu dan tahi lalat di pipi sebelah kiri?" tanya Pramuja.
"Benar! Kau benar-benar bisa melihat Seruni! Katakan padaku, apa dia baik-baik saja?" tanya wanita tua itu.
"Dia sedang tersenyum sekarang. Sepertinya dia sudah bisa kembali ke alamnya dengan tenang." Pramuja berkata setelah hantu Seruni benar-benar menghilang bersama gumpalan asap putih.
"Kita juga harus menangkap Mawar dan Pak Kades!!!" seru salah seorang pria paruh baya anggota sekte.
Pak Kades yang berada di kerumunan anggota sekte, tidak sempat untuk kabur. Dia keburu ditangkap oleh para anggota sekte.
Menyadari anggota sektenya berbalik menyerangnya, Mawar segera mengambil pisau yang diikatkan di balik roknya. Dia segera menyerang Lestari yang berada paling dekat dengannya.
"Jangan bergerak! Atau kugorok leher perempuan ini!" Ancam Mawar sambil menodongkan pisau ke leher Lestari.
Pramuja dan Zulfikar terlihat panik. Lestari kini sedang berada dalam bahaya. Sementara Puspa terlihat sangat tenang, seolah-olah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
"Lebih baik kau menyerah saja, Mawar! Kau sudah mengambil sandera yang salah!" Puspa berkata dengan tenang.
"Perempuan lemah ini akan mati jika kau bergerak selangkah saja!" hardik Mawar ke arah Puspa.
"Aku sudah memperingatkanmu! Jangan sampai kau menyesalinya!" sahut Puspa.
"Jangan sok tenang! Aku tahu kamu hanya menakut-nakutiku saja!" bentak Mawar.
"Dasar gadis tidak sopan!" Lestari yang biasanya lemah lembut itu terlihat mulai emosi.
Dengan gerakan secepat kilat, Lestari menangkap tangan Mawar yang menggenggam pisau, lalu memelintirnya sampai pisaunya terjatuh. Tidak cukup sampai di situ, Lestari membanting tubuh Mawar dengan teknik judo.
Melihat kemampuan beladiri yang dimiliki Lestari, membuat Pramuja dan Zulfikar melongo keheranan. Puspa yang sudah mengetahui kemampuan Lestari itu, hanya tersenyum. Tentu saja anak seorang Boss Mafia dididik dengan sangat keras dan dibekali dengan ilmu beladiri, meskipun Lestari juga tidak tahu apa tujuan ayahnya melakukan semua itu.
***
Esok harinya, rombongan polisi datang untuk menangkap Mawar, Pak Kades dan Dokter Jaya yang sudah diikat oleh warga di kantor desa. Para warga juga menyerahkan diri kepada polisi. Meski tidak secara langsung membunuh, mereka juga ikut andil dalam ritual penumbalan para gadis desa.
Desa itu kini terlihat sepi. Hanya ada para gadis muda yang tersisa. Mereka sama sekali tidak tahu tentang perkumpulan sekte sesat, apalagi soal ritual penumbalan. Semalam mereka semua tertidur, saat orang tua palsu mereka pergi ke hutan terlarang.
Melati yang selamat dan telah mengerti duduk permasalahannya, memberikan pengertian kepada gadis-gadis itu. Meskipun berat, mereka mencoba menerima kenyataan pahit itu. Ternyata orang tua yang selama ini mereka sayangi bukanlah orang tua kandung mereka.
"Polisi nanti akan membantumu mencari tahu asal-usulmu beserta semua gadis di desa ini. Untuk sementara, kau harus bertahan di desa ini, apa kau sanggup?" tanya Pramuja kepada Melati.
__ADS_1
Melati hanya mengangguk. Dia mempercayai perkataan orang yang sudah menolongnya itu.
"Tapi, Pram, bagaimana dengan pria misterius itu? Kita bahkan tidak menemukan petunjuk apa-apa," ujar Zulfikar.
"Dia dan orang-orang yang hendak membawa Mawar waktu di villa, kemungkinan besar adalah sindikat perdagangan organ tubuh. Mungkin Mawar telah melanggar kesepakatan sehingga mereka mengejarnya. Aku yakin mereka sudah pergi jauh dari desa ini karena banyaknya polisi yang datang ke sini," kata Pramuja.
"Hari ini kami akan kembali ke kota. Tempat ini benar-benar mengerikan," kata Lestari.
"Sepertinya kami juga akan kembali ke kota hari ini," sahut Pramuja.
"Ngomong-ngomong, siapa kalian sebenarnya?" Puspa bertanya penuh selidik.
"Hanya fotografer yang menyukai cerita detektif," jawab Pramuja sambil tersenyum.
"Juga fotografer yang menyukai beladiri." Zulfikat menambahkan.
"Baiklah, Mas-Mas Detektif dan ahli beladiri, senang berkenalan dengan kalian! Sampai bertemu lagi di lain waktu." Puspa tersenyum penuh arti.
Setelah bertukar nomor telepon, mereka berpisah di persimpangan jalan menuju ke villa masing-masing.
***
Lestari terlihat sibuk berkemas, sementara Puspa menjauh untuk menelepon seseorang.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya suara di seberang telepon.
"Orang suruhan anda sungguh sangat ceroboh. Mereka hampir saja ketahuan. Klien kita kali ini sudah ditangkap polisi. Aku harap orang suruhan anda mengantisipasi hal ini. Jangan sampai polisi mengendus sampai ke tempat kita," ujar Puspa.
"Kau tenang saja. Klien kita itu tidak tahu apa-apa tentang organisasi kita," sahut suara di seberang telepon.
"Bukan klien kita, tapi ..." Puspa mengantungkan perkataannya.
"Tapi apa? Kudengar ada 2 pria mencurigakan yang tinggal dekat villa kalian. Siapa mereka?" tanya suara di seberang telepon.
"Hanya fotografer, Boss!" jawab Puspa.
"Baguslah kalau begitu! Terima kasih sudah menjaga anakku! Aku senang kalian akan kembali hari ini. Aku akan memberimu bonus 3 kali lipat untuk pekerjaanmu kali ini," kata Boss mafia di seberang telepon.
"Terima kasih, Boss!" Puspa menutup telepon.
"Fotografer yang menyukai beladiri dan cerita detektif kata kalian? Kalian berdua sungguh pandai berbohong! Dasar anggota intel! Aku penasaran, apa kalian juga bisa berbohong atas nama cinta demi pekerjaan kalian itu?"
__ADS_1
Puspa bergumam sambil mengambil sebuah foto dari dalam dompetnya. Foto Pramuja dan Zulfikar.
***