
Wanita tangguh itu bukan diukur dari seberapa besar kekuatan fisiknya saja, tetapi dari seberapa kuat dia menghadapi segala rintangan yang menghalangi langkah hidupnya.
***
Pagi yang cerah menyelimuti langit yang menaungi Desa Kembang Setaman. Bunga-bunga bermekaran dengan sangat indah, menambah keindahan desa yang terletak di kaki pegunungan itu.
Zulfikar terlihat sibuk berlatih beladiri di halaman villa, sementara Pramuja sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Pram! Aku hendak joging di sekitaran sini. Apa kau mau ikut?" tawar Zulfikar yang menghampiri Pramuja di dapur.
"Kau sajalah! Aku sedang sibuk menyiapkan sarapan. Jangan pergi terlalu jauh! Setelah sarapan, kita harus memulai penyelidikan di desa." Pramuja mengingatkan.
Zulfikar berlari-lari kecil di sekitar villa. Dia tertarik untuk pergi ke villa lebih besar yang letaknya tak jauh dari villa tempatnya menginap. Sepertinya pemandangan dari sana terlihat lebih indah.
Villa itu letaknya lebih tinggi dari villa tempat Zulfikar dan Pramuja menginap. Pemandangan dari sana benar-benar lebih indah. Seluruh desa terlihat dengan sangat jelas, bahkan pegunungan dan hutan juga bisa terlihat dari sana.
Mata Zulfikar tertuju ke arah sesosok tubuh yang berdiri di tepi jurang. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Hanya punggung belakangnya saja yang terlihat dengan rambut hitam panjang yang diikat dengan gaya ekor kuda.
Zulfikar menyadari kalau kaki gadis itu berada sangat dekat dengan tepi jurang. Kelihatannya itu sangat berbahaya sekali.
Tiba-tiba, gadis itu merentangkan kedua tangannya ke samping.
"Gawat, sepertinya dia hendak terjun bunuh diri!" seru Zulfikar.
Zulfikar segera berlari ke arah gadis itu. Memeluknya dari belakang, lalu menyeret tubuhnya menjauh dari tepi jurang.
"Lepaskan aku!" gadis itu memberontak.
Zulfikar merasakan kalau gadis itu memiliki kekuatan yang besar. Tidak seperti gadis pada umumnya. Takut dia akan mencoba bunuh diri lagi jika dilepaskan, Zulfikar mempererat pelukan di tubuh gadis itu.
"Jangan bunuh diri, Mbak! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik." Zulfikar mencoba menasehati.
"Bunuh diri? Siapa yang mau bunuh diri?" Gadis itu terus menggeliat, mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Zulfikar.
"Loh? Bukan mau bunuh diri ya? Tapi kenapa berdiri terlalu dekat dengan tepi jurang? Dan tadi saat merentangkan tangan, aku pikir Mbaknya mau lompat."
Zulfikar melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu. Gadis itu menoleh dengan tatapan tajam menusuk. Sepertinya dia sudah sangat marah terhadap Zulfikar.
__ADS_1
Bukk!!!
Puspa melayangkan tinju ke arah ulu hati Zulfikar. Dia sangat marah dengan perbuatan Zulfikar yang seenaknya saja memeluk tubuhnya.
"Aw!!!"
Zulfikar meringgis kesakitan memegangi bagian perutnya. Dia tidak menyanggka gadis cantik itu akan menyerangnya. Dia tidak sedang dalam kondisi siap menghadapi serangan tadi.
"Dasar kurang ajar! Berani sekali kau menyentuhku!" hardik Puspa.
"Maaf, Mbak! Ini cuma salah paham saja." Zukfikar mencoba menjelaskan.
"Jangan banyak bacot!"
Puspa mulai menyerang Zulfikar. Zulfikar kali ini sudah siap menangkis serangan Puspa. Zulfikar berhasil mementahkan beberapa serangan Puspa. Puspa semakin gencar menyerangnya, membuat Zulfikar sedikit kewalahan.
"Gadis ini ternyata memiliki kemampuan beladiri yang sangat tinggi," kata Zulfikar dalam hati.
"Kak Puspa, kenapa berkelahi?"
Lestari yang mendengar keributan di sekitar villa, datang tergesa-gesa untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
"Ini cuma salah paham! Aku mengira dia hendak bunuh diri terjun ke jurang." Zulfikar membela diri.
"Alasan! Aku tadi sedang berlatih dan melakukan beberapa gerakan yoga. Mana mungkin aku mau bunuh diri." Puspa tidak percaya dengan pengakuan Zulfikar.
"Ya, mana aku tahu! Aku tadi lihat kau sedang merentangkan kedua tangan. Itu seperti posisi hendak terjun ke jurang. Aku hanya berusaha menyelamatkanmu saja tadi." Zulfikar mulai kehilangan kesabarannya. Gadis yang menudingnya itu seperti tidak mau mendengar penjelasannya.
"Sudah... sudah... Sepertinya ini memang hanya salah paham. Sudahlah, Kak, maafkan saja dia," ujar Lestari.
"Oke, kali ini kau kumaafkan! Lain kali, jangan coba-coba mendekatiku lagi! Kalau tidak, aku akan menghajarmu nanti!" Puspa mengancam sambil mengepalkan tinju ke arah Zulfikar.
"Baiklah, Nona Galak! Sepertinya aku sudah kapok sekarang," seloroh Zulfikar.
"Ngomong-ngomong, Mas ini siapa ya?" tanya Lestari.
"Oh, namaku Zulfikar. Aku seorang fotografer. Aku dan temanku, menginap di villa tak jauh dari sini. Rencananya kami akan mengambil foto pemandangan di desa penuh bunga di bawah sana." Zulfikar menjelaskan.
__ADS_1
"Wah, keren! Berarti bisa dong nanti saya minta difotoin sama Mas? Ngomong-ngomong, namaku Lestari dan ini adalah Puspa, sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri." Lestari terlihat antusias berkenalan dengan Zulfikar.
"Tentu saja boleh. Nanti aku akan mengenalkanmu pada temanku juga. Dia sangat senang memotret gadis cantik sepertimu," Zulfikar tersenyum ke arah Lestari. Pemandangan itu membuat Puspa merasa tidak nyaman.
"Fotografer, tapi mempunyai kemampuan beladiri tingkat tinggi? Kamu pasti bukan orang sembarangan!" Puspa menaruh curiga.
"Aku memang mempelajari seni beladiri pencak silat sebagai hobby, sekaligus bekal untuk melindungi diri sendiri. Profesi utamaku memang seorang fotografer. Aku punya kartu namanya, tapi aku tidak membawanya sekarang."
Zulfikar menjelaskan dengan penuh percaya diri. Dia memang terbiasa menyamar dan sangat pandai meyakinkan orang-orang dengan penyamarannya itu.
"Terserah kamu sajalah! Yang penting, jangan coba-coba mengangguku lagi." Puspa berkata dengan dingin.
"Makanan sudah siap, Mbak Puspa, Mbak Lestari." Mawar datang dari arah villa. Dia baru selesai menyiapkan sarapan.
"Ini siapa? Teman kalian juga?" selidik Zulfikar, sambil memperhatikan gadis cantik lainnya yang baru datang dari arah villa.
"Sebenarnya dia berasal dari desa dibawah sana. Dia menginap di villa kami. Tadi malam itu dia..."
Belum sempat Lestari menjelaskan kejadian semalam kepada Zulfikar, Puspa buru-buru mencegahnya.
"Tadi malam dia sangat antusias mendengar cerita tentang kota. Dia belum pernah ke kota, jadi tertarik mendengar cerita dari kami. Kami mengajaknya sekalian bermalam saja." Puspa berbohong.
Lestari menjadi heran dengan tingkah Puspa. Tapi dia tidak berusaha protes. Dia memutuskan untuk mengikuti rencana Puspa saja.
"Mas Zul, tidak mau sekalian ikut sarapan bersama kami?" tawar Lestari.
Mata Puspa bergerak seolah-olah memberi kode kepada Lestari. Dia seperti melarang Lestari mengajak Zulfikar ke villa mereka.
"Tidak, terima kasih. Temanku sedang menungguku untuk sarapan. Aku harus pergi sekarang. Senang berkenalan dengan kalian."
Zulfikar berpamitan, lalu bergegas kembali ke villa tempatnya menginap.
Ekor mata Puspa dengan tajam menatap langkah Zulfikar yang semakin menjauh.
"Pria yang menarik. Selain jago beladiri, ternyata kau juga sangat jago berbohong." Puspa berkata dalam hati sambil tersenyum sinis.
***
__ADS_1