
Zulfikar menyadari kalau sahabatnya telah menemukan titik terang akan kasus itu.
"Hei, Pram! Cepat kau beritahu siapa pelakunya!" Zulfikar mendesaknya karena sudah tidak sabar.
"Benarkah kau sudah mengetahui pelakunya?"
AKP Hendarto seakan tidak mempercayai Pramuja. Bagaimana mungkin dia bisa menyelesaikan sebuah kasus hanya dengan melihat foto-foto, rekamam video, dan catatan interogasi.
"Jadi benar kalau Linda dibunuh? Kasian sekali dia, sudah jadi korban bullying, jadi korban pembunuhan pula," ujar Intan.
"Siapa yang korban bullying? Apa kau benar-benar mempercayai hal itu?" Pramuja tersenyum.
"Maksud Om? Bukankah Om juga sudah menonton rekaman yang diambil dari kanal youtubenya? Video itu sangat viral karena Linda sendiri mengakui kalau dia adalah korban bullying." Intan kebingungan.
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan rekaman videonya itu?" Pramuja bertanya dengan serius.
Intan hanya menggeleng. Menurutnya, tidak ada yang aneh dengan rekaman video pengakuan Linda.
"Aku juga tidak merasa ada yang aneh dengan videonya, Pram!" Zulfikar juga sedikit bingung.
"Latar tempat pengambilan video terlihat seperti sebuah kamar pribadi. Bisa dilihat jelas di belakang tubuh korban terlihat seperti ada tempat tidur dan meja belajar." Pramuja mulai menyampaikan analisanya.
"Apa yang salah dengan semua itu? Bukankah hal yang wajar membuat rekaman di kamar pribadi?" AKP Hendarto bertanya dengan bingung.
__ADS_1
"Tentu saja tidak ada yang aneh dengan pemilihan latar tempat pengambilan video. Yang aneh justru ada suara orang-orang yang dimaksudkan telah membully Linda itu masuk ke dalam kamar. Jika ada orang yang membullymu sehingga menyebabkan kamu menjadi sangat ketakutan, apa kau justru akan mengundang orang itu bermain ke rumahmu? Bahkan masuk ke kamar pribadimu dengan bebas? Dan apa kamu juga akan merekam video pengakuan itu di saat orang-orang yang kamu maksud itu sedang berada di rumahmu?" Pramuja melanjutkan.
"Kalau aku yang ada di posisi Linda, tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka ke rumahku. Kalau pun mereka ada di rumahku, aku tidak mungkin merekam video pengakuan itu. Aku akan memilih waktu di mana mereka tidak ada di sekitarku," sahut Intan.
"Itu benar sekali, Intan! Linda telah berbohong dengan pengakuannya itu. Sebenarnya, hubungan dia dengan teman-temannya baik-baik saja."
"Tapi kenapa dia harus berbohong?" tanya Intan.
"Itu hanya demi mendapatkan keuntungan dari youtube. Buktinya videonya banyak ditonton dan mendapatkan adsense," jawab Pramuja.
"Kalau dia tidak mengalami perundungan, kenapa dia harus bunuh diri?" tanya Intan lagi.
"Dia tidak bunuh diri, melainkan dibunuh oleh salah satu dari ketiga temannya yang masuk ke toilet setelahnya," ungkap Pramuja.
"Dari hasil autopsi, korban tewas karena over dosis obat tidur. Aku menemukan hal aneh pada toiletnya. Itu adalah jenis toilet duduk. Tidak ada keran air maupun tempat penampungan air di sana. Satu-satunya sumber air adalah dari tombol flush untuk menyiram closetnya." Pramuja menjelaskan.
"Apa yang salah dengan itu?" tanya Zulfikar.
"Korban menelan obat tidur dalam jumlah yang banyak sekaligus. Tentu saja dia membutuhkan air minum untuk bisa menelan semua pil itu. Sedangkan di dalam toilet tidak ada air yang bisa digunakan untuk minum." Pramuja menjawab dengan tenang.
"Kecuali petugas kebersihan itu, semua membawa air mineral botolan." Zulfikar masih bingung pengenai siapa pelakunya.
"Tersangka pertama membawa botol obal berisi pil yang masih terlihat penuh. Mungkin ia hanya meminum sebutir atau beberapa butir saja. Itulah sebabnya botol air minumnya masih terlihat penuh. Tersangka kedua adalah pembunuhnya. Dia memaksa korban meminum banyak obat tidur dan melarutkannya dengan air minum yang dibawanya. Tersangka ketiga terlihat sedang di serang batuk. Itu terlihat dari obat yang dibawanya. Walaupun dia memakan hanya 1 tablet saja, tapi saat seseorang diserang batuk, akan sering sekali minum. Itulah sebabnya air minum di botolnya hanya tersisa seperempat saja." Pramuja memberitahu pelakunya.
__ADS_1
"Sepertinya kalau hanya dilihat dari botol air minum yang dibawa tersangka, belum bisa membuktikan kalau dia adalah pembunuhnya. Lagi pula untuk memaksa seseorang meminum obat sebanyak itu, memerlukan kekuatan yang besar karena korban cenderung akan melawan," ujar AKP. Hendarto.
"Pelaku terlebih dahulu membius korban dengan Chloroform. Cairan ini memiliki warna bening dan tidak berbau. Dia mungkin mengeringkan tisu basah dan membasahinya lagi dengan cairan ini, lalu membius korban dan menyeretnya ke dalam toilet, lalu meminumkan obat tidur itu," papar Pramuja.
"Bagaimana dengan pintu toiletnya? Bukankah tubuh korbanemghalangi pintunya? Bagaimana pelaku bisa keluar dari situ?" AKP Hendarto bertanya lagi.
Itu sangat mudah. Setelah memaksa korban menelan pil tidur, pelaku membuatnya berdiri dan menyandarkannya di belakang pintu toilet yang terbuka. Setelah dia keluar, dia menutup pintunya sehingga tubuh korban yang bersandar di belakang pintu jatuh ke lantai dan menghalangi pintunya." Pramuja menjelaskan.
"Itu sangat masuk akal. Tapi apa ada bukti lain yang mengarah pada tersangka nomor dua?" tanya AKP Hendarto.
"Sidik jari Ayu, tersangka nomor dua itu ditemukan di pipi korban. Sidik jarinya menempel di sana saat dia membius korban. Lagipula jawabannya tidak masuk akal. Tersangka nomor 1 bilang menyentuh leher karena tertarik dengan kalung korban dan tersangka nomor 3 bilang menyentuh bibir korban karena tertarik pada pelembab bibirnya, sementara tersangka nomor 2 bilang kalau dia menyentuh pipi korban karena tertarik dengan make up yang dikenakan korban. Saat itu adalah waktu sekolah. Anak sekolah biasanya dilarang memakai make up ke sekolah. Kalau kalung tidak apa-apa karena bisa disembunyikan di balik baju sedangkan pelembab bibir yang tidak berwarna masih diizinkan untuk dipakai." Pramuja menerangkan kembali.
AKP Hendarto hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Dia juga berbohong dengan mengatakan ke toilet untuk menghilangkan bekas spidol di tangannya. Dengan tisu basah dan minyak kayu putih yang dibawanya itu, sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan bekas spidol. Mengapa dia harus repot-repot pergi ke toilet yang tempatnya agak jauh dan jarang digunakan itu? Kalau tersangka nomor satu ke toilet karena kebelet buang air kecil. Mungkin kelas mereka ada di lantai 3 dan toilet itu adalah tempat paling dekat dari kelasnya. Tersangka nomor 3 juga memakai toilet karena dia harus memperbaiki tali bra yang terlepas." Pramuja mrlanjutkan analisanya.
"Tapi Pram, tersangka nomor 1 mengatakan kalau mendengar korban menekan tombol flush, tersangka nomor dua mengatakan tidak mendengarkan apa-apa, dan tersangka nomor 3 mengatakan mendengar suara lantai berderit dari dalam toilet di mana korban berada. Bagaimana kau menjelaskan hal ini?" Zulfikar mengungkapkan hal yang dirasanya janggal.
"Pernyataannya justru membuatnya semakin dicurigai. Jika dia mengatakan tidak mendengar apa-apa setelah dia masuk toilet dan tersangka nomor satu dan tiga mendengar suara dari dalam toilet, berarti memang dia yang membius korban dan membunuhnya. Harusnya dia mengatakan mendengar suara air atau apa saja dari dalam toilet. Tersangka nomor 3 mendengar suara lantai berderit karena saat itu korban yang terjatuh di lantai, belum mati dan sedang kesakitan karena obat tidur mulai bereaksi mencabut nyawanya." Pramuja menerangkan dengan gamblang.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyuruh petugas untuk membuat surat perintah penangkapan terhadap tersangka nomor dua." AKP Hendarto akhirnya membuat keputusan.
***
__ADS_1