
Mr. Danu sudah berada di lantai atas gedung kantor perusahaannya. Lantai atas adalah area pribadinya yang terlarang untuk dimasuki para karyawan. Semua lift telah diatur untuk sampai hanya dilantai di bawahnya. Untuk sampai ke lantai atas, ada sebuah lift khusus yang dijaga oleh security. Hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan naik lift itu.
Kini Puspa sudah berada di lift khusus menuju lantai atas tersebut. Mr. Danu menyuruh Puspa untuk menemuinya di lantai tersebut.
Sambil menunggu lift tiba di lantai atas, Puspa terlihat sedang melamunkan sesuatu.
Ting!!!
Suara pintu lift terbuka membuat lamunan Puspa terhenti. Dia berjalan keluar lift menuju sebuah ruangan yang ada di lantai atas itu.
Di depan pintu ruangan, dua orang pria berbadan besar memberi salam hormat kepada Puspa.
Mr. Danu sudah menunggu di dalam ruangan tersebut. Tampak juga beberapa pria dan ... pria aneh di desa penuh bunga waktu itu juga ada di sana.
Pria berpakaian nyentrik dengan deretan cincin batu akik di jarinya itu memandangi Puspa dengan tatapan tajam. Sepertinya dia sedang kesal kepada Puspa.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Mbah? Apa ada masalah?" tanya Puspa santai.
"Tidak ada." Jawab pria yang bernama Mbah Jambrong itu.
"Duduklah dulu, Puspa!" perintah Mr. Danu.
Puspa menarik kursi dan duduk di salah satu sisi meja yang berbentuk bundar itu.
"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, Puspa. Sebaliknya, Mbah Jambrong dan anak buahnya hampir saja membuat kita ketahuan." Mr. Danu memulai pembicaraan.
"Kalau saja tidak ada kedua fotografer mencurigakan itu, tentu sampai sekarang kita masih dapat suplay organ tubuh dari sekte Bunga Berdarah itu," sahut Mbah Jambrong.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahnmu sendiri. Kedua fotografer itu hanya menjalankan tugas kantornya untuk mengambil foto keindahan desa. Kalau bukan karena orang-orangmu mengejar Mawar sampai ke villaku, tentu kedua fotografer itu tidak akan turun tangan." Puspa berkata dengan santai.
"Mengapa kalian bisa sampai mengejar Mawar? Bukankah dia adalah klien kita?" tanya Mr. Danu.
"Dia sudah menyalahi kesepakatan, Boss! Kami sudah membayarnya, tapi dia tidak memberikan barangnya sesuai tanggal yang disepakati," jawab Mbah Jambrong.
"Kau terlalu gegabah, Mbah! Dengan membuat keributan di villa tempat anakku dan Puspa berada, kau malah menarik perhatian kedua fotografer itu. Untung saja Puspa pandai berakting dan bisa membaur dengan kedua pria fotografer itu sehingga lebih mudah mengawasi gerak-gerik mereka," puji Mr. Danu.
"Itu benar, Boss! Cara terbaik memata-matai mereka adalah dengan berteman dengan mereka. Mbah Jambrong sering mengintip mereka dan hampir saja ketahuan," sindir Puspa.
"Oke, aku tahu aku salah! Tapi kedua pria itu sangat mencurigakan. Bahkan salah satu dari mereka bisa melihat hantu. Aku juga seorang paranormal, jadi aku bisa melihat ada hantu wanita yang membimbing kalian masuk ke dalam hutan terlarang itu. Dan salah satu pria fotografer itu berkomunikasi dengan hantu itu," kata Mbah Jambrong kepada Puspa.
"Itu memang benar. Seperti ada hantu yang membimbing kami masuk ke dalam hutan. Tapi bukankah itu wajar jika ada orang yang memiliki indera ke-6? Bukan hanya dukun sepertimu saja yang memiliki kemampuan itu. Kau terus mengatakan bahwa kedua pria itu mencurigakan. Justru yang paling mencurigakan di desa itu adalah kau dan anak buahmu itu. Jika kau menjalankan misi dari Boss, sebaiknya kamu menyamar dan membaur dengan masyarakat, daripada secara sembunyi-sembunyi seperti itu malah terlihat sangat mencurigakan." Puspa terua menyalahkan Mbah Jambrong.
"Puspa ada benarnya juga, Mbah. Kali ini kau kumaafkan. Pergilah!" perintah Mr. Danu.
Mbah Jambrong pergi dengan wajah kesal. Dia benar-benar tidak suka Puspa terus memojokkannya di depan Mr. Danu.
"Tunggu, aku punya sebuah pertanyaan untukmu!" Mr. Danu memainkan jarinya di atas meja menimbulkan suara ketukan yang berirama.
"Perranyaan apa itu, Boss?" tanya Puspa.
"Apa benar kedua pria itu fotografer? Bukan polisi yang sedang menyelidiki kasus hilangnya para gadis desa? tanya Mr. Danu. Dia masih tidak yakin dengan identitas Pramuja dan Zulfikar.
"Sepertinya bukan, Boss. Mereka berasal dari kota, bukan dari wilayah situ. Kalaupun ada polisi menyamar yang menyelidiki kasus itu, tentu saja yang bertugas adalah polisi yang ada di wilayah itu," jawab Puspa tenang.
"Kau benar juga. Sudahlah, sebaiknya kau kembali ke bawah!" perintah Mr. Danu.
__ADS_1
Puspa segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Puspa sedang duduk di meja kerjanya sambil bertopang dagu. Tidak ada pekerjaan kantor hari ini. Sebenarnya hari-hari biasa juga tidak terlalu ada pekerjaan. Mr. Danu punya sekretaris lain yang menjalankan pekerjaan kantor. Puspa hanya ditunjuk sebagai sekretaris pribadi Mr. Danu untuk menutupi pekerjaan aslinya sebagai anggota organisasi mafia yang dipimpin Mr. Danu.
Puspa memutar ingatannya beberapa minggu yang lalu. Saat itu di pelabuhan peti kemas, dia dan beberapa anggota elite organisasi mafia diberi tugas untuk mengeksekusi dua orang pria yang ketahuan menyusup ke dalam organisasi mereka.
Dengan memakai pakaian serba hitam dan topeng yang menutupi identitasnya, Puspa dan rekan-rekannya berkelahi dengan kedua pria itu. Kedua pria itu sangat pandai bertarung karena menguasai ilmu beladiri tingkat tinggi, namun Puspa dan rekan-rekannya juga tidak kalah hebat. Selain menguasai beladiri dan dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran, mereka juga menang dalam jumlah. Hal itu membuat kedua pria penyusup itu terdesak.
Puspa yang bertanggung jawab sebagai eksekutor, menembak salah satu pria itu tepat di jantungnya dan menembak pria lainnya di bagian perutnya. Kedua pria itu jatuh tercebur ke dalam air laut dan tenggelam. Setelah menunggu beberapa menit dan kedua jasad pria itu tidak muncul, rekan Puspa mengajaknya segera pergi dari tempat itu karena mendengar suara sirine mobil polisi dan ambulance.
"Hmmm ... kalian memang pria-pria yang menarik. Setelah selamat dari maut, kini kalian bertindak sebagai detektif kasus misteri. Sepertinya bukan hanya dewi keberuntungan saja yang menyukai kalian, tapi para hantu juga sepertinya mendukung kalian. Entah apa aku harus menuntaskan pekerjaanku yang tertunda itu? Tapi sepertinya akan susah untuk mendapatkan kesempatan kedua untuk menghabisi kalian."
Puspa berkata dalam hati. Dia tidak menyangka orang-orang yang hampir dibunuhnya itu, kini menganggapnya sebagai seorang teman.
Pipip!!! Pipip!!!
Ponsel Puspa berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Apa kau punya waktu luang? Bisakah kita bertemu untuk sekedar mengobrol?
Puspa membaca pesan singkat yang dikirimkan Zulfikar.
"Pria yang sangat menarik. Jika kau tahu akulah orang yang mencoba membunuhmu dan sahabatmu itu, apa yang akan kau lakukan padaku?"
Puspa bergumam sambil mengetik pesan balasan.
__ADS_1
Baiklah, di mana kita akan bertemu?
***