
Sukma Dewi kini sudah duduk di hadapan Pramuja dan Zulfikar. Pelayan cafe baru saja menghidangkan tiga gelas kopi di atas meja. Sukma menyesap kopi moccacino yang masih panas di hadapannya dengan hati-hati.
"Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan kami?" tanya Pramuja yang baru saja meletakkan cangkir kopinya ke tatakan.
"Apa kalian ini polisi?" Sukma balik bertanya.
"Bukan." Pramuja menjawab singkat.
"Kalau bukan polisi, mengapa kalian bisa masuk ke dalam garis polisi di TKP pembunuhan itu?" Sukma bertanya dengan heran.
"Kami ini adalah fotografer. Teman saya ini punya indera ke-6. Kami sering diminta bantuan oleh para polisi untuk memecahkan kasus yang berhubungan dengan dunia gaib." Zulfikar menjawab dengan tidak jujur.
"Oh, jadi kalian ini sejenis detektif?" Sukma menarik kesimpulan.
"Yah, bisa dibilang begitu juga sih." Pramuja tersenyum.
"Lebih tepatnya detektif horor." Zulfikar menegaskan.
"Oke, aku percaya kalian. Mas yang satu ini terlihat memang memiliki kemampuan berhubungan dengan alam gaib. Aku bisa merasakannya. Oh, iya, kita belum berkenalan. Namaku Sukma Dewi, panggil saja Sukma. Aku bisa dibilang seorang paranormal atau youtuber alam gaib." Sukma memperkenalkan diri.
"Namaku Pramuja dan teman di sampingku ini adalah Zulfikar." Pramuja balas mengenalkan diri.
"Jadi, Mas Pramuja, menurutmu siapa yang membunuh korban yang tewas tergantung itu?" Sukma mengajukkan pertanyaan.
__ADS_1
"Salah satu host yang bernama Dion pelakunya." Pramuja menjawab dengan santai.
"Menurutku dia bukan sepenuhnya pembunuhnya. Ada sosok gaib yang membunuh korban itu." Sukma mengutarakan pendapatnya.
"Aku akui, ada sesuatu yang masih janggal di TKP, tapi karena pelaku sudah mengakui perbuatannya, kasus ini dianggap selesai dengan Dion sebagai tersangka pembunuhan itu." Pramuja menyesap lagi kopinya.
"Kejanggalan apa yang Mas maksud?" Sukma bertanya dengan penasaran.
"Dahan pohon. Secara logika, batang pohon itu harusnya tidak kuat menahan beban tubuh korban. Melihat posisi tubuh korban di gantung dengan tidak menyentuh tanah, serta tubuh yang bergoyang-goyang itu, seharusnya dahan itu patah akibat daya tarik dari tubuh korban yang berayun. Anehnya dahan itu tidak patah sama sekali. Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menahan dahan itu." Pramuja mengutarakan pemdapatnya.
"Kau benar sekali, Mas! Saat siaran live penemuan mayat itu, aku melihat dengan jelas ada sosok tangan yang hitam dan berbulu lebat sedang menahan dahan pohon itu. Mungkin saja itu genderuwo." Sukma berkata dengan yakin.
"Yah, walaupun ada genderuwo yang membantu menahan dahan pohonnya, tetap saja tidak mengubah fakta kalau si Dion itu pembunuhnya," sahut Zulfikar.
"Kamu benar. Dahan itu seharusnya patah jika tidak ditahan genduruwo. Tapi walaupun patah, tidak akan membuat korban selamat. Korban sudah tewas sebelum digantung. Pelaku terlebih dahulu menjerat leher korban hingga tewas, baru kemudian di gantung pada dahan itu. Lagipula sekalipun dibantu genderuwo, tetap tidak mengubah fakta kalau dia adalah pembunuhnya. Anggap saja si genderuwo sebagai kaki tangan pembunuh dan Dion adalah otaknya. Itu sama saja dan tetap nantinya akan dikenakan pasal pembunuhan berencana." Pramuja menjelaskan dengan terperinci.
"Hmmm ... jadi seperti itu ya? Baiklah, aku mengerti. Tadinya aku ingin menyampaikan hal ini agar bisa memperingan hukuman pelaku karena aku berpikir kalau genderuwo itu yang sudah membunuh korban. Ternyata aku sudah salah. Maafkan aku telah membuang waktu kalian." Sukma terlihat menyesal.
"Tidak apa-apa. Kami senang kok berkenalan denganmu, Sukma." Pramuja tersenyum.
"Itu benar sekali, Sukma. Apalagi kamu adalah youtuber terkenal. Setiap video penelusuran alam gaibmu, pasti selalu menjadi trending di youtube." Zulfikar menimpali.
"Bagaimana kalau kalian jadi bintang tamu di acara penelusuranku itu? Pasti banyak penonton yang menyukai kalian. Apalagi wajah kalian ini lumayan tampan, hahaha ..." Sukma tertawa renyah.
__ADS_1
"Ah, kau bisa saja, Sukma! Tapi aku ini memang ganteng sih, hehe ..." Zulfikar cengar-cengir kegirangan mendengar pujian Sukma.
"Kau ini narsis sekali, Zul!" Pramuja menyikut Zulfikar yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengan tawaranku barusan? Apa kalian bersedia menjadi bintang tamuku?" tanya Sukma.
"Maaf, untuk sekarang tidak bisa. Kami belum siap tampil di muka umum. Sebenarnya aku juga ingin merahasiakan kemampuan indera ke-6 ini. Hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya." Pramuja menolak dengan halus.
"Oke, aku mengerti. Jika suatu saat nanti kau berubah pikuran, kau boleh datang menemuiku." Sukma menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Pramuja.
Pramuja mengambil kartu nama itu dan menyimpannya di saku jaket kulitnya. Sukma pun mohon pamit kepada Pramuja dan Zulfikar.
"Hei, Pram! Mengapa kau menolak tawaran Sukma? Bukankah ini kesempatan besar jika ingin terkenal?" Zulfikar bertanya setelah tubuh Sukma sudah terlihat keluar dari cafe itu.
"Itu akan sangat menarik perhatian, Zul. Kita ini anggota intel, jadi tidak seharusnya menjadi orang terkenal. Lagipula para anggota mafia yang membunuhku itu pasti dengan mudah mengenaliku jika melihatku di youtube. Bukannya aku takut pada mereka, tapi aku ingin mereka tetap menganggapku sudah mati. Suatu saat, aku akan membongkar sindikat mafia itu dan menyeret semua yang terlibat ke dalam penjara." Pramuja berkata dengan serius.
"Kau benar juga, Pram. Aku juga sangat ingin membalas dendam pada mereka, terutama pada orang yang menembakku. Jika ketemu pelakunya, aku akan menghajarnya sampai masuk rumah sakit!" Zulfikar berkata dengan geram. Dia menjadi sangat dendam dengan orang yang telah menembak dirinya dan Pramuja.
Di apaetemen tempat tinggalnya, Puspa terlihat sedang menulis sesuatu di buku catatan harian miliknya.
"Uhuk ... uhuk ..." tiba-tiba Puspa terbatuk, padahal dia tidak sedang memamakan atau meminum apa-apa.
"Hei, siapa yang sedang membicarakanku!" Puspa berseru kesal. Dia sangat mempercayai mitos yang menyebutkan kalau tiba-tiba terbatuk, biasanya ada orang yang sedang membicarakannya.
__ADS_1
***