
Sebuah pantangan hanya akan mencegah seseorang yang penakut untuk tidak melanggarnya, tapi tidak akan bisa menghentikan orang yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba melanggar pantangan tersebut.
***
Tepat tengah malam, pintu villa yang ditempati Pramuja dan Zulfikar diketuk dengan keras.
Zulfikar segera membukakan pintu. Pramuja berdiri tepat di belakangnya.
Saat pintu terbuka, tampak Puspa dengan wajah dinginnya, serta lestari yang berdiri dengan wajah cemas. Sepertinya telah terjadi sesuatu di villa tempat mereka menginap.
"Apa yang terjadi?" tanya Zulfikar.
"Mawar menghilang! Kurasa orang-orang itu menculiknya saat kami semua tertidur lelap." Lestari terlihat panik.
"Ayo kita ke sana!" Pramuja segera berlari menuju villa tempat kejadian.
Zulfikar, Puspa dan Lestari mengikutinya dari belakang.
"Kami terbangun saat mendengar suara kaca pecah. Saat memeriksa, pintu sudah terbuka lebar dan Mawar menghilang," kata Lestari sambil menunjuk pintu villa yang terbuat dari kaca berbingkai kayu itu.
"Mungkin penculiknya memecahkan kaca dan mengambil kunci yang masih tergantung untuk membuka pintunya," ujar Puspa sambil menunjuk kunci yang tergantung di lubang kunci bagian luar pintu.
Pramuja hanya tersenyum. Sepertinya dia sudah menemukan petunjuk besar.
"Harus kemana kita mencari Mawar?" keluh Lestari.
"Hanya ada satu tempat, yaitu hutan terlarang itu," kata Pramuja yakin.
"Kalau begitu, kita ke sana naik mobilku saja!" Puspa segera masuk mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
***
Mobil jeep milik Puspa menuruni bukit menuju hutan terlarang. Suasana malam tidak terlalu gelap karena bulan purnama sedang bersinar terang.
Keempat orang itu turun dari mobil. Puspa menyerahkan sebuah senter kepada Zulfikar dan dia juga memegang sebuah senter. Di depan mereka sudah terhampar sebuah hutan lebat yang terlihat sangat menyeramkan.
"Hutan ini sangat luas. Kemana kita harus mencari Mawar?" Puspa kelihatan kebingungan.
"Itu benar, Pram! Salah-salah kita bisa tersesat jika masuk sembarangan ke dalam hutan itu." Zulfikar menimpali.
Pramuja hanya terdiam. Dia sedang berpikir keras. Apa yang dikatakan Zulfikar memang ada benarnya. Dia tidak bisa mengambil risiko sebesar itu jika memaksa masuk ke dalam sana.
Saat sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba dari dalam hutan, muncul sosok hantu wanita yang dilihatnya di villa waktu itu.
"Hei, apa kau tahu tempatnya?" tanya Pramuja ke arah sosok hantu itu.
"Kau sedang berbicara dengan siapa, Mas?" tanya Puspa heran.
Sosok hantu wanita itu hanya terdiam. Dia seolah-olah ingin memberitahu sesuatu tapi terkendala oleh alam yang berbeda. Pramuja seolah mengerti dengan hantu wanita itu.
"Tunjukkan padaku di mana tempatnya!"
Sepertinya hantu itu mengerti ucapan Pramuja. Dia membalikan badannya dan melayang perlahan ke dalam hutan.
"Ayo ikuti aku!" seru Pramuja sambil mengikuti sosok hantu itu.
"Apa kau yakin, Mas?" tanya Lestari yang berjalan di samping Pramuja.
"Aku cukup yakin!" sahut Pramuja.
__ADS_1
"Sebenarnya temanmu itu berbicara dengan siapa tadi?" bisik Lestari yang berjalan di samping Zulfikar.
"Kalau aku beritahu, kau pasti tidak akan percaya. Dia bisa berkomunikasi dengan mahkluk gaib." Zulfikar balas berbisik.
Puspa hanya manggut-manggut tanda mengerti. Meskipun tidak bisa melihat sosok hantu itu, tapi dia percaya akan kemampuan supranatural yang dimiliki Pramuja itu.
Semakin lama, mereka semakin jauh memasuki area hutan terlarang itu. Sosok hantu wanita itu terus melayang ke tengah hutan.
Tiba-tiba sosok itu berhenti di tengah hutan. Pramuja melihat ada cahaya dindepannya. Hantu itu menunjuk ke arah cahaya itu, lalu menghilang begitu saja.
"Terima kasih!" kata Pramuja.
"Hei, lihatlah! di depan ada cahaya!" seru Puspa sambil menunjuk ke arah cahaya yang ada di depannya.
"Huss ... pelankan suaramu!" perintah Zulfikar. Puspa hanya mengangguk patuh
"Apa hantunya sudah pergi, Pram?" tanya Zulfikar setengah berbisik.
"Ha ... hantu?" Lestari terlihat kaget dan ketakutan. Dia menggandeng lengan Pramuja dan merapatkan tubuh kepadanya.
"Tenang saja, hantunya tidak jahat! Lagipula dia baru saja pergi." Pramuja mencoba menenangkan Lestari, tapi dia tetap enggan menjauh dari Pramuja.
Pramuja mengajak semuanya maju mendekati sumber cahaya dengan perlahan-lahan. Hutan itu juga memiliki semak-semak yang sangat lebat. Mereka harus berjalan setengah berjinjit agar tidak terlalu menimbulkan suara.
Semakin mendekati sumber cahaya, mereka mendengar ada suara riuh. Ada sebuah api unggun besar di tengah hutan itu. Orang-orang berjubah hitam mengelilingi api unggun itu. Mulut mereka seperti berkomat-kamit membaca mantra.
Pramuja mengajak yang lainnya untuk mengintip dari balik semak-semak. Pramuja melihat seseorang yang dia kenali sedang terikat di sebuah tiang kayu dindepan api unggun itu.
Pramuja berpandangan dengan Zulfikar, seolah-olah sama-sama mengenali sosok gadis yang sedang terikat di tiang kayu tersebut.
__ADS_1
***