Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 21 - Pembunuhan Siaran Live


__ADS_3

Sesuai lokasi yang disebutkan di video siaran langsung channel Ghost Family, Pramuja dan Zulfikar segera bergerak menuju TKP. Kantor polisi terdekat juga sudah mereka hubungi.


Di lokasi kejadian terlihat sudah ada cukup banyak orang berkerumun. Rupanya mereka adalah para penonton channel Ghost Family yang penasaran dengan kejadian di siaran live itu.


Polisi yang sudah berada di TKP, memasang garis polisi di sekeliling lokasi kejadian tempat mayat tergantung. Mereka juga mengamankan para host dan anggota crew Ghost Family yang terlibat dalam pengambilan video siaran live.


Pramuja dan Zulfikar masuk melewati garis polisi dan menemui petugas penyelidikan. Mereka diam-diam memperlihatkan kartu tanda anggota mereka agar diizinkan berada dalam garis polisi.


Mayat seorang wanita berpakaian seperti kuntilanak masih tergantung di atas pohon. Petugas penyidik mengambil beberapa foto mayat beserta foto TKP sebelum menurunkan mayat tersebut.


"Suhu tubuh mayat masih hangat. Sepertinya dia belum lama tewas," lapor salah seorang petugas.


"Dia pasti dibunuh oleh salah seorang dari kelima orang yang ada dilokasi kejadian," kata kepala petugas yang memimpin penyelidikan.


Saat ini kelima tersangka sudah dikumpulkan. Kepala penyelidikan yang mengenal Pramuja dan mengetahui kemampuan analisanya, menyerahkan tugas untuk menanyai para tersangka kepada Pramuja.


Pramuja mulai menanyai para tersangka. Dari semua pengakuaan, Pramuja menemukan ada sebuah kejanggalan.


Tersangka pertama adalah Bayu yang bertugas sebagai host. Dia mengatakan bahwa tidak tahu apa-apa dengan mayat yang tergantung. Rencananya orang yang bertugas sebagai hantu itu hanya muncul dari balik pohon saja.


Tersangka kedua adalah Dion. Dia mengatakan kalau sebelum menemukan korban tegantung, dia melihat ada bayangan hitam di balik pohon. Dia yakin kalau sosok mahkluk gaib itu yang telah membunuh korban.


Tersangka ketiga bernama Andini. Dia mengatakan bahwa para host dan crew ada di tempat yang sama sebelum datang ke lokasi mayat tergantung, sedangkan orang yang berperan sebagai hantu sudah menunggu sekitar 10 menit sendirian dibawah pohon.


Tersangka keempat bernama Candra. Dia bertugas sebagai kameramen. Dia mengatakan ada di tempat yang sama dengan para host.


Tersangka kelima bernama Ela. Dia bertugas untuk mendandani orang yang menjadi hantu. Dia adalah orang terakhir yang bersama korban, tapi dia mengatakan korban masih hidup dan melihatnya sendiri saat korban berjalan menuju pohon tempat dia bersembunyi.


Walaupun Pramuja menemukan kejanggalan dari keterangan salah satu pelaku, tapi alibi mereka semua bisa saling dibuktikan satu sama lain.

__ADS_1


"Apa selama selang waktu 10 menit, ada salah satu dari kalian yang meninggalkan lokasi berkumpul?" tanya Pramuja, mencoba mencari kelemahan alibi para tersangka.


"Bayu dan Dion pergi sekitar 5 menit untuk buang air kecil, sedangkan Candra sempat pergi ke mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal sekitar 7 menit," jawab Andini.


"Jarak antara lokasi mayat tergantung dengan crew yang berkumpul sekitar 2 menit jika dilakukan dengan berjalan kaki. Pulang pergi akan memakan waktu 4 menit. Waktu 3 menit sudah cukup untuk menjerat leher korban dan menggantungnya di dahan pohon. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 7 menit. Bayu dan Dion pergi buang air kecil memakan waktu sekitar 5 menit, sedangkan Candra pergi ke mobil dan kembali lagi, memakan waktu sekitar 7 menit." Pramuja menarik kesimpulan.


"Berarti Candra yang punya kesempatan untuk membunuh!" tuding Dion.


"Aku bersumpah, bukan aku pelakunya! Aku benar-benar pergi ke mobil untuk mengambil ponselku." Candra menyangkal tudingan Dion.


"Huh, kau ini pandai melimpahkan kesalahan kepada orang lain, padahal justru kaulah sendiri pelakunya!" Pramuja berkata dengan geram sambil menunjuk Dion.


"Bagaimana mungkin aku melakukannya? Waktu yang dibutuhkan adalah 7 menit, sedangkan aku pergi buang air kecil hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Hanya Candralah satu-satunya orang yang mempunyai waktu 7 menit itu." Dion membela diri.


"Memang benar kalau aku mengatakan bahwa jarak tempuh antara tempat mayat tergantung dengan lokasi kalian berkumpul memakan waktu sekitar 2 menit. Tapi aku bilang jika itu ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau dengan berlari tentu akan memakan waktu yang lebih singkat. Mungkin tidak sampai 1 menit. Waktu 5 menit itu sudah cukup untukmu membunuh korban." Pramuja menjelaskan dengan tenang.


"Aku sangat yakin kaulah pelakunya!" Pramuja masih bersikeras.


"Kau tidak punya bukti!" Dion tidak kalah kerasnya.


"Buktinya ada dari perkataanmu sendiri." Pramuja tersenyum penuh arti.


"Aku hanya menduga saja kalau korban dibunuh oleh hantu. Bukankah kalian juga melihat bayangan hitam itu?" Dion meminta teman-temannya membenarkan perkataannyan.


"Iya, aku juga melihat bayangan hitam itu. Sepertinya itu hantu sungguhan." Andini membenarkan.


"Sebenarnya aku juga melihat bayangan hitam. Tapi bukan di situ masalahnya. Pada saat siaran live, kau mengatakan kalau kain dari baju yang dipakai korban itu berkibar di atas tanah dan kau mengatakan kalau hantunya melayang. Padahal kau belum melihat sampai ke balik pohon. Dari mana kau tahu kalau hantunya melayang? Padahal rencananya hantu itu hanya muncul dari balik pohon dan tidak melayang." Pramuja tersenyum puas.


"Itu benar juga. Bukankah kita sama-sama melihat hanya kainnya saja yang berkibar sedikit dari balik pohon? Kita belum melihat tubuh korban. Bagaimana kau bisa tahu kalau tubuh korban melayang?" Bayu ikut mencurigai Dion.

__ADS_1


"A-aku ..." Dion tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Memgapa kamu membunuh korban?" tanya Pramuja.


"Dia ingin mengantikan Andini menjadi host. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Dia dan Andini bisa bergantian menjadi host. Tapi dia meminta lebih. Dia menginginkan bayarannya naik 2 kali lipat. Aku tidak bisa menyanggupinya karena semua pendapatan dari youtube Ghost Family kami bagi rata setelah dipotong biaya operasional dan lain-lain. Tapi dia mengancam akan membongkar semua kebohongan kami di sosial media. Aku sudah mencoba membujuknya tadi, tapi dia malah mengamuk. Aku terpaksa menjerat lehernya untuk mendiamkannya. Aku tidak bermaksud membunuhnya." Dion mencoba membela dirinya.


"Lagi-lagi kau berbohong. Kau sudah berencana membunuhnya. Dari mana kau mendapatkan tali untuk menjerat leher dan menggantungnya kalau bukan sudah kau persiapkan dari awal." Pramuja mematahkan pembelaan Dion.


Para petugas yang mendengar pengakuan Dion dan penjelasan Pramuja, langsung menggelandang Dion ke kantor polisi.


"Terima kasih, Pramuja! Kau membantu kami menyelesaikan kasusnya." Kepala petugas penyelidikan mengucapkan terima kasih.


"Ternyata dunia youtuber sebegitu kerasnya sampai terjadi kasus seperti ini." Zulfikar berkomentar.


"Aku tidak suka dengan youtuber-youtuber yang menghalalkan segala cara agar terkenal, termasuk dengan membohongi para penontonnya. Semoga kasus ini menjadi pelajaran agar tidak ada lagi orang-orang yang melakukan kebohongan semacam ini." Pramuja mengajak Zulfikar meninggalkan TKP.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Seorang wanita mencegat langkah Pramuja dan Zulfikar.


"Mbak ini youtuber Sukma Dewi kan?" Zulfikar mengenali karena sudah menonton videonya di youtube.


"Benar sekali. Saya ingin mendiskusikan sesuatu dengan kalian." Wanita itu terlihat serius.


"Baiklah, kalau begitu kita cari dulu tempat yang nyaman untuk mengobrol," usul Pramuja.


Pramuja dan Zulfikar mengajak Sukma Dewi untuk ngobrol di cafe langganan mereka. Sukma Dewi tentu saja ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan dunia gaib.


***

__ADS_1


__ADS_2