Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 1 - Maut Datang Menjemput


__ADS_3

Kematian adalah sebuah misteri.


Kapan datangnya, tidak ada yang tahu.


Manusia hanya bisa menunggu dan menunggu...


Sampai tiba saatnya, kematian itu datang menjemput.


***


Langit malam begitu pekat. Rembulan seolah bersembunyi di antara keheningan malam. Udara dingin menjalari seluruh suasana malam yang diliputi sejuta misteri.


Di atas sebuah kapal yang merapat di pelabuhan peti kemas, terlihat sebuah pertempuran yang sangat sengit.


Suara desing peluru terdengar saling beradu di antara kepulan asap tebal. Terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam, melemparkan bom molotov ke arah dua orang pria yang sedang terdesak.


Pramuja Pratama dan rekannya, Zulfikar Zainal, adalah dua orang anggota intel kepolisian yang sangat handal. Mereka sedang membongkar sebuah kasus yang melibatkan mafia kelas atas di tanah air.


Penyamaran mereka terbongkar dan identitas mereka sudah diketahui oleh para mafia yang mengejar mereka. Seorang banpol, yang ternyata adalah seorang anggota mafia yang sedang menyamar, telah membongkar identitas mereka. Kini mereka terjebak oleh rencana jahat para mafia itu.


Dor!!!


Sebuah peluru melesat dan menembus ke dalam jantung Pramuja. Pramuja jatuh tersungkur.


Mendapati Pramuja telah ambruk, Zulfikar segera menggotong tubuh sahabatnya itu. Sementara, serbuan peluru terus mengarah kepadanya. Sebutir peluru mengenai perutnya. Dia segera menjatuhkan tubuh sahabatnya ke laut, lalu dia juga segera menjatuhkan dirinya.


"Kelihatannya mereka sudah mati," kata seseorang yang berpakaian serba hitam dan memakai masker yang menutupi sebagian wajah bawahnya.

__ADS_1


"Ayo cepat kita pergi, sebelum para polisi datang!" kata anggota mafia yang lain.


Gerombolan anggota mafia berpakaian serba hitam itu pun, segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sambil menyeret jasad Pramuja, Zulfikar dengan susah payah berenang ke tepi. Dia merasakan sakit yang teramat sangat, disebabkan oleh peluru yang bersarang di perutnya. Ditambah lagi dengan tersiramnya luka itu oleh air laut.


Selang beberapa menit, bantuan segera datang. Terlihat beberapa mobil polisi dan sebuah ambulance sudah tiba di tempat itu.


Sebelum masuk ke dalam jebakan mafia, Pramuja memang sudah menghubungi kantor pusat untuk memberikan laporan.


Namun sayang, nyawa Pramuja sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dia sudah tewas, saat peluru tadi menembus jantungnya.


Petugas medis menutupi jenazah Pramuja dengan selembar kain putih. Zulfikar yang berada di ambulance yang sama, menangis melihat jasad sahabatnya yang sudah tidak bernyawa itu. Dia pun pingsan karena tidak tahan menahan sakit di perutnya.


***


Zulfikar kini sudah berada di ruang rawat inap sebuah rumah sakit. Dia sudah menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di perutnya. Keadaannya sudah mulai membaik.


"Pramuja?" tanyanya dengan nada yang lemah.


"Maaf, saya turut berduka cita," rekannya yang menjenguk, terlihat tertunduk lesu.


"Kenapa kau pergi secepat ini Pram? Usiamu masih sangat muda. Jangankan menikah, bahkan kamu saja belum punya pacar," ratap Zulfikar lirih. Dia tidak dapat membendung kesedihannya. Pramuja adalah sahabat sehidup semati baginya.


"Itu sudah jadi risiko pekerjaan kita. Kamu yang sabar ya, Zul," kata temannya yang menjenguk, sambil menepuk pundak Zulfikar yang masih dalam posisi berbaring.


***

__ADS_1


Bendera kuning sudah terpasang di rumah Pramuja. Jasad Pramuja yang tertutup selembar kain jarik, sudah di kelilingi keluarga dan teman-temannya.


Orang tua Pramuja menolak keras untuk melakukan autopsi terhadap jasad anaknya.


Walaupun sempat terjadi perdebatan sengit, pihak kepolisian akhirnya menyetujui permintaan orang tua Pramuja untuk tidak melakukan autopsi.


Dokter hanya mengeluarkan peluru dan menjahit luka Pramuja dengan rapi. Jasadnya benar-benar diperlakukan seperti seorang pasien yang masih hidup.


Zulfikar datang dengan bantuan kursi roda yang didorong salah satu rekannya. Meski belum diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, tapi dia tetap memaksa untuk pergi ke pemakaman sahabatnya itu.


Rekan-rekan Zulfikar, membantunya duduk disamping jasad Pramuja.


"Maafkan aku Pram! Aku tidak bisa melindungimu sampai akhir," ratap Zulfikar lirih. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.


"Sudahlah, Zul. Ini sudah takdirnya Pramuja. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ayahnya Pramuja menepuk-nepuk punggung Zulfikar, berusaha menegarkannya. Padahal sebenarnya, dirinya sendiri sangat hancur melihat kematian anaknya yang tragis.


"Ibu sudah larang kamu jadi polisi. Kamu itu anak yang pintar, harusnya kamu memilih jadi dokter saja," ratap ibu Pramuja penuh penyesalan. Air mata terus-menerus meleleh di pipinya.


"Sudahlah, Bu, itu sudah jadi pilihan Pramuja. Kita tidak bisa melarang apa yang sudah dia cita-citakan sedari kecil," ujar ayah Pramuja getir.


Ayah Pramuja, dibantu beberapa orang keluarga dan petugas pemandi jenazah, mulai bersiap untuk memandikan jenazah Pramuja.


Sebagai seorang sahabat, Zulfikar juga sangat ingin membantu memandikan jenazah Pramuja. Kondisi pasca operasi, membuat Zulfikar tidak bisa melakukan hal itu. Dia terpaksa harus melewatkan kesempatan terakhir untuk bisa berada di sisi Pramuja.


***


__ADS_1


__ADS_2