
Mobil jeep yang dikemudikan Zulfikar, sudah tiba di halaman Polsek. Pramuja dan Pak Tejo turun, disusul dengan Zulfikar.
"Bagaimana?" tanya AKP. Wijayanto yang masih berada di kantor Polsek itu. Sepertinya dia tidak mau pulang sebelum mendengar hasil penyelidikan yang dilakukan Pramuja dan Zulfikar.
"Sepertinya, saya sudah mengetahui penyebab kematian para korban." Pramuja tersenyum.
AKP. Wijayanto dan para warga desa yang bekerumun seketika kaget sekaligus penasaran dengan pengakuan Pramuja itu.
"Jadi benar kan, kalau mereka tewas karena disantet?" tanya salah seorang warga.
"Mereka bukan mati karena disantet, tapi mati karena keracunan." Pramuja berkata dengan tenang.
"Jadi Kakek Paimin yang sudah meracuni mereka?" tanya warga yang lain.
"Mereka tidak diracuni oleh siapapun, tapi mereka meracuni diri mereka sendiri," sahut Pramuja.
"Itu benar-benar tidak masuk akal, Mas! Jangan mengada-ada! Bagaimana mungkin mereka meracuni diri sendiri. Itu bunuh diri namanya. Tidak ada tanda-tanda mereka akan bunuh diri. Mereka terlihat baik-baik saja sebelum tewas." Seorang warga menyangkal penjelasan Pramuja.
"Apa kalian tahu tentang racun sianida? Mereka tewas karena racun itu." Pramuja berkata lagi.
"Itu kan racun dalam kopi yang membunuh Mirna dengan tersangka Jessica yang kasusnya sempat heboh di media? Bagaimana mungkin di desa ini ada orang yang memiliki racun tersebut," Sahut seorang warga yang masih tidak percaya dengan penuturan Pramuja.
"Tentu saja di desa ini sangat mudah menemukan racun itu." Pramuja tersenyum.
"Wah, itu benar-benar tidak mungkin, Mas! Apotek saja tidak ada di desa kami. Kalaupun ada, tidak mungkin menjual racun seperti itu." Warga yang tadi terus membantah omongan Pramuja.
__ADS_1
"Menurut para ahli, ada jenis singkong dan juga daunnya yang mengandung sianida. Pohon singkong jenis ini memiliki batang besar dan daunnya lebar. Dalam kondisi normal, singkong merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan meskipun memiliki sedikit protein, tapi pada beberapa jenis singkong terdapat senyawa yang berpotensi racun, yakni linamarin dan lotaustralin yang termasuk glikosida sianogenik. Linamarin dengan cepat dihidrolisis menjadi glukosa dan aseton sianohidrin. Sedangkan lotaustralin dihidrolisis menjadi sianohidrin dan glukosa. Di bawah kondisi netral, aseton sianohidrin didekomposisi menjadi aseton dan hidrogen sianida sehingga menyebabkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya." Pramuja menjelaskan panjang lebar.
"Kami tidak mengerti dengan istilah-istilah yang Mas sebutkan itu. Jadi intinya Mas mau bilang kalau singkong dan daunnya itu mengandung racun sianida?" Seorang warga desa mencoba menarik kesimpulan.
"Ya, begitulah," sahut Pramuja.
"Itu tambah tidak masuk akal lagi, Mas! Singkong itu sudah termasuk makanan sehari-hari kami. Baik umbinya, maupun daunnya sering kami makan dan buktinya kami tidak apa-apa." Seorang warga desa membantah omongan Pramuja.
"Singkong atau daunnya bisa jadi berbahaya apabila dikonsumsi dalam kondisi mentah, dalam jumlah banyak, atau bila cara pengolahannya salah. Itu karena singkong mengandung bahan kimia yang disebut glikosida sianogenik, yang dapat melepaskan zat sianida dalam tubuh saat dikonsumsi. Tapi jika dimasak dengan benar, zat itu akan terurai." Pramuja menjelaskan lagi dengan lebih sederhana.
"Itu benar! Kami sudah menanyai Mang Engkus selaku pemilik warung. Katanya, para korban menambahkan sendiri daun singkong mentah ke dalam karedok yang mereka makan." Zulfikar memperkuat penjelasan Pramuja.
"Saya juga sudah menanyai Pak Tejo selaku orang pertama yang menemukan mayat para korban. Dia mengatakan kalau mata korban melotot, mulut berwarna kebiruan dan sedikit berbusa. Kulit korban juga berwarna kemerahan. Semua itu adalah ciri-ciri orang yang keracunan sianida. Kalau lebih diteliti lagi, akan ada bau almond yang tercium dari mulut korban. Itu adalah bau khas sianida." Pramuja menjelaskan sesuai bukti yang terlihat dari mayat korban.
"Kalau kalian masih tidak percaya, kita tunggu saja sampai besok. Besok hasil autopsinya akan keluar. Dari sana akan diketahui penyebab kematian para korban. Untuk sekarang, silakan kalian pulang ke rumah masing-masing." AKP. Wijayanto meminta para warga desa untuk membubarkan diri.
AKP. Wijayanto menawarkan Pramuja dan Zulfikar untuk menginap di rumahnya sambil menunggu hasil autopsinya keluar besok.
Esoknya, hasil autopsi telah keluar. Dan ternyata benar, korban dinyatakan tewas karena keracunan dan ditemukan zat sianida di dalam lambung mereka, serta daun singkong mentah yang belum tercerna sempurna.
Para warga desa yang kembali untuk mendengar hasil autopsinya, mau tidak mau harus mempercayai semua analisa Pramuja. Sebelum hasil autopsi itu keluar, Pramuja sudah bisa menebak penyebab kematian para korban dengan sangat tepat.
Berdasarkan saksi dan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, Kakek Paimin akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan. Para warga desa juga meminta maaf kepada Kakek Paimin.
"Terima kasih, Mas-Mas ini sudah membantu saya." Kakek Paimin menyalami Pramuja dan Zulfikar.
__ADS_1
"Sama-sama, Kek! Saya harap Kakek bisa hidup dengan baik bersama dengan warga desa," kata Zulfikar.
"Saya berniat pindah dari desa itu. Warga desa hampir membakar saya hidup-hidup. Kejadian itu membuat saya trauma." Kakek Paimin terlihat murung.
"Memangnya Kakek mau kemana?" tanya Zulfikar.
"Tidak tahu. Saya akan mengikuti kemana langkah kaki membawa saya pergi. Saya bisa mengantungkan hidup dengan menjadi tukang pijat keliling." Kakek Paimin berkata dengan yakin sebelum benar-benar berpamitan dengan Pramuja dan Zulfikar.
Pramuja dan Zulfikar memutuskan kembali ke Jakarta. Di perjalanan, Pramuja terlihat melamun. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Pram? Apa ada yang menganggu pikiranmu? Bukankah kita sudah menyelesaikan kasusnya?" tanya Zulfikar dari balik kemudi.
"Entahlah, Zul! Aku merasa masih ada misteri dalam kasus itu. Hantu pria yang kutemui semalam seakan-akan ingin memberitahuku sesuatu. Dan lagi, aku merasakan ada hawa mistis saat masuk ke rumah Kakek Paimin, juga saat bersalaman dengannya tadi." Pramuja memberitahu keresahannya.
"Itu cuma perasaanmu saja, Pram! Bukti autopsi sudah sangat jelas sekali. Kakek Paimin tidak bersalah," ujar Zulfikar.
Pramuja hanya diam sambil memandang jalanan yang ada di hadapannya.
***
Kakek Paimin sudah sampai di rumahnya dan mulai membereskan barang-barangnya. Dia berniat untuk merantau ke kota. Dia menggeser dipan tempat biasa dia melakukan praktek pijat, lalu menarik tikar yang menutupi lantai kayu rumahnya. Ternyata ada sebuah ruang kecil rahasia di sana.
Kakek Paimin mengambil sebuah buntalan kain kecil, lalu membukanya. Di dalamnya ada jenglot, tali pocong, kain-kain bertulis mantra, serta barang-barang mistik lainnya. Dia mengambil sebuah boneka voodoo dengan kertas di dadanya yang ditusuk dengan puluhan jarum. Kertas itu bertuliskan ... 'SLAMET RAHARJO'
"Kau duluan yang mencari gara-gara denganku, Slamet! Kau menuduhku membunuh orang dengan ilmu santet dan menghasut orang untuk membakarku hidup-hidup! Sekarang justru kau merasakan sendiri ilmu santetku, hahaha ..."
__ADS_1
Kakek Paimin segera pergi meninggalkan desa itu, sebelum ada orang seperti Pramuja yang menyadari kematian Pak Slamet yang tidak wajar.
***